• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Budaya: Lewat Rabab, Dialektika Terasah

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
6 September 2021
in Budaya, Berita Seni Budaya
1k 55
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Solok Selatan, Marewai— Rabab bukan hanya sebuah kesenian biasa. Rabab sesungguhnya adalah pertunjukan sastra lisan, yang mengandung ajaran moral dan nilai-nilai filosofis sesuai dengan budaya Minang. Belajar rabab, berarti belajar berdialektika dan mengerti bagaimana orang Minang beretorika. Hal itu diungkapkan secara bertalian oleh Muhammad Fadhli, Junaidi dan Darmansyah pada pertemuan antara Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat dengan peserta serta pelatih dalam program pendampingan pelestarian rabab Solok Selatan. Kegiatan besutan Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar ini menempatkan Muhammad Fadhli sebagai kurator program, sementara Junaidi dan Darmansyah adalah narasumber ahli. Ketiganya dari Institut Seni Indonesia Padang Panjang.

Dikatakan oleh Junaidi, inti daripada rabab sesungguhnya bukan musiknya. Musik adalah pembalut estetis yang membuat rabab menjadi khas secara musikal. Sementara, isi di dalam rabab itu sendiri tak lain adalah kaba, atau dendang, sebagai kekayaan sastra tutur atau sastra lisan yang luar biasa. “Tukang rabab adalah orang yang sangat cerdas. Kaba dan dendang mengalir bukan sebagai sesuatu yang terkonsep secara kaku. Ia adalah hasil kecerdasan si tukang rabab. Bisa direkayasa sebelumnya, bisa muncul secara langsung ketika rabab di mainkan itu,” sebutnya. Menurutnya, kemampuan seperti ini tidak mudah ditemukan dalam seni pertunjukan modern.

Darmasnyah menjelaskan, kandungan utama dari sastra lisan pada rabab adalah seputar ajaran moral. “Ajaran moral itu yang menjadi inti dalam kisah-kisah yang dikabakan tukang rabab,” katanya. Lebih mendalam, Darmansyah juga memaparkan bahwa rabab di Solok Selatan adalah jejak sejarah yang menunjukkan bahwa antara kabupaten tersebut dengan Pesisir Selatan punya temali keturunan yang tak mungkin terpisahkan. “Di Pesisir selatan sendiri ada dua macam penyebutan untuk kesenian ini. Ada yang menyebut barabab ada yang menyebut babiola. Di Piaman, rabab dimainkan dengan alat yang tidak sama dengan alat di Pessel dan Solsel. Di Piaman rababnya terbuat dari tempurung kelapa besar. Sementara isi rabab dan nilai di dalamnya sama,” katanya.

Muhammad Fadhli atau yang lebih dikenal dengan panggilan Ajo Wayoik menjelaskan bahwa program pendampingan ini berbeda dengan pelatihan biasa. “Disini kami memadu madankan antara pelatihan dengan perlakuan yang lebih mendekatkan rabab dengan pola marketing, branding serta upaya-upaya lain yang bersifat modern agar rabab menjadi terkemuka lagi di tengah masyarakat,” katanya. Ditekankannya, rabab penting untuk dilestarikan karena memiliki nilai edukatif. “rabab adalah pamenan anak nagari. Disini, otak diasah untuk berdialektika. Jadi bagi anak-anak dan pemuda kita, belajar rabab bukan hanya dalam tujuan untuk menjadi seorang seniman. Tetapi untuk mengasah kemampuan dalam beretorika secara situasional,” katanya. Dia menggambarkan betapa banyak sekarang pejabat yang kurang mampu beretorika sesuai dengan situasi masyarakat yang dihadapi dalam sebuah forum. “Mereka lebih cenderung terkonsep. Jadi sering kali paparannya dalam kata sambutan misalnya, itu jauh panggang dari api. Sementara dalam rabab, seorang tukang rabab sangat mampu membaca situasi dan mengungkapkan responnya terhadap situasi itu secara langsung,” sebutnya. Bisa dibayangkan jika seorang anak atau pemuda yang menguasai kemampuan barabab suatu saat menjadi pejabat. Dia akan piawai sekali soal retorika dan dialektika.

Dalam pertemuan tersebut didapatkan data sebanyak 30 kelompok masih aktif di Solsel. Sementara peseerta yang mengikuti pendampingan ini membludak dari kuota. Ini membuktikan semangat anak-anak dan pemuda di Solsel untuk melestarikan rabab sangatlah baik.

Kadis Kebudayaan Gemala Ranti, secara terpisah mengungkapkan bahwa program pendampingan seperti ini memang ditujukan untuk generasi baru. “Rabab diharapkan tidak hanya menjadi milik kalangan tua saja. Anak-anak dan pemuda harus turut merasakan kepemilikan terhadap kesenian ini. Dengan lestarinya rabab, kita berharap statusnya sebagai warisan budaya tak benda bukan hanya sekedar status saja,” tutupnya.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: BudayaCerpenPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

Next Post
Penjelasan Singkat Kesenian Gambang di Kampung Pondok Kota Padang | Yori Leo Saputra

Penjelasan Singkat Kesenian Gambang di Kampung Pondok Kota Padang | Yori Leo Saputra

TABUH BATAJAU BERDENTANG, 2 IVEN DIPASTIKAN JADI

TABUH BATAJAU BERDENTANG, 2 IVEN DIPASTIKAN JADI

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In