• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

AYIA ANGEK : WISATA SEHAT NAGARI MUARO PAITI

Rori Aroka Oleh Rori Aroka
30 Maret 2021
in Pelesiran
1.7k 124
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan
Poto: beberapa masyarakat sedang duduk santai di lokasi air panas.

Air panas yang ada di Nagari Muaro Paiti terbilang fenomena alam yang langka, pasalnya di daerah Kecamatan Kapur Sembilan Yang terletak dekat dengan perbatasan Sumatera Barat dengan Riau ini tidak memiliki gunung api, dan juga tidak pernah ada dalam penelitian manapun yang menyebutkan kalau daerah tersebut dulunya punya gunung purba yang aktif. Air panas keluar dari sela-sela batu hampar yang mengalir ke sungai Batang Kapur, airnya tidak sebanyak air panas berasal dari gunung berapi seperti yang di daerah Solok, Tanah Datar dan tempat –tempat yang mempunyai gunung api.
Masyarakat Muaro Paiti menyebut tempat ini dengan Pemandian Ayia Angek, medan yang dilalui untuk sampai ke lokasi ini cukup bagus. Jalan beton dan jalur penghubung menggunakan jembatan gantung, jarak lokasi air panas dari jalan raya hanya  sekitar 2 kilometer.

Poto: tempat air panas mengalir

Tempat ini sejak lama sudah menjadi sebuah wisata tua, tetapi kunjungan serta namanya sering hilang timbul di telinga, baik masyarakat setempat ataupun luar. Sekarang ketika dunia wisata Sumatera Barat sedang lumayan, lokasi air panas ini kembali menjadi tujuan wisata masyarakat lokal dan juga masyarakat yang datang jauh-jauh dari berbagai daerah di Sumatera Barat dan Riau.

Kedatangan merekapun beragam, ada yang datang untuk mengobati penyakit dan ada juga yang datang hanya sekedar berendam –mandi berkecimpung di aliran sungai batang kapur. Sebagian masyarakat memercayai khasiat air panas ini bisa mengobati penyakit kulit, rematik dan asam urat. Hal lain lagi, tempat ini menjadi pilihan utamanya bagi masyarakat setempat untuk melepas penat selepas bekerja.

Nah, jika handai taulan tertarik datang ke tempat ini, persiapkan bekal yang bisa disantap, santai sambil membicarakan banyak hal. Selain mandi, handai taulan juga dapat mencoba eksperimen memasak mie dan telur langsung di lokasi dengan cara menaruhnya langsung di lokasi air panas yang mengalir. Tempat air panas yang ada di Muaro Paiti memang terbilang jauh dari Kota Padang, jarak tempuh ke lokasi ini lebih kurang 6 jam perjalanan mengendarai mobil/motor.

Dulu di lokasi air panas ini juga banyak berkembang mitos-mitos masyarakat setempat, tapi sekarang perlahan beransur pudar. Seperti mitos “Jang Ghogha” atau digambarkan seperti sesosok makhluk Jin yang suka bercanda, biasa menggelitik manusia sampai kejang-kejang. Biasanya makhluk ini keluar awal malam sesudah magrib. Tapi akhir-akhir ini mitos “Jang Ghogha” sudah tidak terkenal lagi, hampir menjadi mitos yang terlupakan. Tidak jauh dari aliran ini ada sebuah batu besar yang dinamai “Batu Tabaliak” (Batu Terbalik), konon Batu itu dulunya pernah di angkat oleh seseorang yang sakti. Dan dipindahkan ke posisi yang sekarang ini.

Meski begitu, jangan risau untuk datang dan berwisata ke daerah Muaro Paiti ini, karena masyarakat setempat sangat ramah dan selalu menerima tamu dari luar daerah dengan sangat baik. Ditambah lagi adat istiadat yang masih kental. Semoga kelak perhatian pemerintah nagari tertuju ke lokasi ini, membuat pengembangan seperti membangun kolam-kolam untuk berendam dengan air panas, sebab sekarang untuk berendam di air panas ini kita harus membuat cekungan (digali) dulu sehingga berbentuk sumur-sumur kecil, agar badan bisa berendam. Bila hendak ke sini, usahakan melihat perkiraan cuaca. Sebab jika musim penghujan, aliran sungai Batang Kapur akan mengalir dengan debit yang besar. Tentu saja lokasi pemandian air panas ikut terkena aliran sungai.

  • About
  • Latest Posts
Rori Aroka
ikuti saya
Rori Aroka
Redaksi Marewai at Media
Rori Aroka, lahir di Muaro Paiti, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Menulis puisi, cerpen, naskah teater, dan skenario film. Tulisan-tulisannya telah terbit di berbagai media cetak dan online, baik lokal maupun nasional. Buku kumpulan puisi perdananya berjudul Nyanyian Pupang, diterbitkan oleh Purata Utama pada tahun 2021. Kini aktif berkegiatan di Serikat Budaya Marewai dan mengelola situs budaya dan sastra www.marewai.com. Dapat dijumpai di Instagram: @roriaroka, dan Facebook: Rori Aroka Roesdji. Saat ini berdomisili di Kota Padang, Sumatera Barat.
Rori Aroka
ikuti saya
Latest posts by Rori Aroka (see all)
  • Festival Akhir Tahun Steva 2025 : Membaca, Melihat, Merasakan, Mempelajari dan Merayakan - 10 Desember 2025
  • Cerpen: Sales Event Organik (E.O) – Rori Aroka - 3 Oktober 2025
  • Cerpen | Matinya Tukang Keripik – Rori Aroka - 29 Agustus 2025
Tags: ArtikelBudayaEsaiPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
Opini: Diferensiasi Sosial, Benarkah Menjadi Alasan Lambannya Kemajuan Era?| Inez Syawalytrie F

Opini: Diferensiasi Sosial, Benarkah Menjadi Alasan Lambannya Kemajuan Era?| Inez Syawalytrie F

Puisi-puisi Kiki Nofrijum | Kumpulan Puisi Untuk Tuhan

Puisi-puisi Kiki Nofrijum | Kumpulan Puisi Untuk Tuhan

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In