• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pelesiran: Berakhir Pekan Keliling Hutan Nipah di Sungai Tawa Indah Dengan Rakit Bambu

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
6 November 2020
in Pelesiran
1.4k 75
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Pesisir Selatan, Marewai– Wisata merupakan salah satu aktivitas di luar rumah yang sering dilakukan keluarga maupun individu, dalam artian umum wisata adalah suatu kegiatan bepergian bersama-sama dengan tujuan melepas penat dari kegiatan rutin. Selain itu bisa menjadi sebuah aktivitas menambah pengetahuan. Pesisir Selatan memiliki tempat-tempat untuk berwisata, baik dengan keluarga ataupun bersama teman. Masyarakat Pesisir Selatan bisa memilih lokasi mana yang hendak di tuju, mulai dari tempat pemandian atau pantai. Salah satu alternatif wisata yang bisa dikunjungi pengunjung lokal adalah Pantai Sungai Tawa Indah (SUTA) berlokasi di Koto Nan Duo IV Koto Hilie, Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Kampung Pandan, Nagari Koto Nan Duo, Kecamatan Batangkapas ini untuk sebagian masyarakat di Pesisir Selatan memang tidak asing lagi. Pantai SUTA sebenarnya sudah sejak lama menjadi kunjungan wisatawan lokal, namun hampir sama dengan tempat wisata lainnya yang ada di Pesisir Selatan; naik turunnya pengunjung membuat lokasi harus lengang. Pantai SUTA terkenal dengan suasana pantai dan aliran air tanah tawarnya. Sebagai muara dari air tawar, pantai Suta menyajikan sensasi berbeda dari wisata pantai lainnya di Pesisir Selatan. Pengunjung bisa menikmati suasana muara yang di keliling rerimbunan hutan nipah lengkap dengan pemandangan menghadap bebukitan, transportasi yang di gunakan adalah rakit bambu yang telah dirangkai sedemikian rupa. Aman dan tagok!

Poto: Rakit Bambu (marewai.com)

Selain berkeliling menggunakan rakit bambu dengan membayar 5rb rupiah, pengunjung juga bisa menikmati suasana pantai, sembari memandang ke hamparan lautan yang luas dan meliuk di sepanjang semenanjung. Hampir bersebelahan dengan jalan raya Pesisir Selatan – Kerinci. Di Pantai Suta pengunjung tidak perlu cemas, di sana masyarakat juga menjual berbagai macam makanan dan minuman, atau boleh juga membawa nasi dari rumah lalu makan bersama di bawah rindang pohon kelapa. Sero!

Untuk sampai ke tempat tersebut, pengunjung punya dua alternatif jalan. Pertama, lewat simpang Jalan Baru Pasar Kuok, kalau dari Padang sebelah kanan dan kalau dari Tapan sebelah kiri tepatnya sesudah SMPN 1 Batangkapas. Jalan lain yang juga bisa dilalui ialah, kalau dari Tapan sebelum SMPN 1 Batangkapas, pengunjung bisa masuk ke simpang sebelah kiri (biasanya ada penunjuk bertulis ‘Pantai Suta’), beberapa meter dari sana belok kanan (ada penunjuk jalan). Lalu terus lurus, hanya hitungan menit saja pengunjung akan bertemu dengan lokasi Pantai Suta. Lasuah!

    Poto: Marewai.com
    Poto: Marewai.com

    Nah, untuk kalian yang masih bingung mau berakhir pekan ke mana, Pantai Suta bisa menjadi alternatif untuk dikunjungi. Tempat ini biasanya ramai oleh pengunjung sekitar jam 4 sore hingga matahari tenggelam. Meski begitu, jangan lupa dengan protokol kesehatan yang sedang dianjurkan pemerintah, agar perjalanan kalian tidak menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan.

    “Kito Marewai”

    • About
    • Latest Posts
    Arif P. Putra
    ikuti saya
    Arif P. Putra
    Penulis at Media
    Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
    blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
    Arif P. Putra
    ikuti saya
    Latest posts by Arif P. Putra (see all)
    • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
    • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
    • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
    Tags: BudayaCaritoPunago Rimbun

    Related Posts

    PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

    PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

    Oleh Redaksi Marewai
    10 Januari 2026

                Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

    Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

    Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

    Oleh Redaksi Marewai
    7 Desember 2025

    Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

    PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

    PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

    Oleh Redaksi Marewai
    17 November 2025

    Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

    Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

    Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

    Oleh Arif P. Putra
    1 November 2025

    Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

    Next Post
    Puisi-puisi: D. Atika Pramono | Menjual Sepetak Sawah

    Puisi-puisi: D. Atika Pramono | Menjual Sepetak Sawah

    Cerpen: Tusuk Sate | Muhammad Noor Fadillah

    Cerpen: Tusuk Sate | Muhammad Noor Fadillah

    Discussion about this post

    Redaksi Marewai

    © 2024 Redaksi Marewai

    Ruang-ruang

    • Budaya
    • Sastra
    • Punago Rimbun
    • Pelesiran
    • Carito

    Ikuti kami

    No Result
    View All Result
    • Kirim Tulisan ke Marewai
    • Budaya
    • Carito
    • Sastra
    • Berita Seni Budaya
    • Pelesiran
    • Punago Rimbun
    • Tentang Marewai

    © 2024 Redaksi Marewai

    Welcome Back!

    Sign In with Facebook
    OR

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Create New Account!

    Fill the forms bellow to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In