• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Mendengkur Waktu

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
30 Oktober 2020
in Sastra
1.2k 77
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Di ruang ini, waktu mendengkur; gelap mengental. Kata-kata terlelap dan mimpinya: jejak hujan yang seresah usia.

Anugerah Gio Pratama, Waktu Mendengkur

Batu

Ada batu

yang tergeletak

di tengah jalan. Pasrah.

Hanya mampu pasrah. Hanya menanti

seorang anak kecil menendangnya

ke pinggir kali.

Atau kalau nasibnya sedang tidak baik

ia akan dilindas oleh ban truk yang besar.

Lalu hancur berkeping-keping

atau terpelanting jauh

ke arah entah.

Ada batu yang tenggelam di dalam air.

Ia buta, dan bisu, dan tuli, dan lumpuh.

Ia tenggelam. Ikan-ikan menyaksikan

kelemahan batu itu tapi mereka tak peduli.

Apa untungnya peduli pada batu?

Ada sebongkah batu, kecil dan keras.

Ia kini berdiam lama

di hatimu.

Seribu Kopi

Seribu kopi yang tersaji

tak sanggup tampung

pahit hidupku

hari ini.

Sepanjang Januari

Sepanjang Januari,

angin dan cahaya retak.

Pada kelopak bunga itu,

tahun-tahun yang resah

memanggil namaku.

Di Antara Kita

Di antara kita,

ada diam yang kelabu.

Setiap waktu

adalah pekerjaan

yang penuh dengan kebohongan.

Kita adalah warna yang berbeda

tapi kecemasan kita

selalu saja sama.

Waktu Mendengkur

Di ruang ini,

waktu mendengkur;

gelap mengental.

Kata-kata terlelap

dan mimpinya: jejak hujan

yang seresah usia.

Kau dan Waktu

Kau dan waktu

selalu berdebat.

Kau mengasah pisau cahaya

dan waktu mengasuh

kerisauanmu.

Waktu tak pernah menang.

Namun kau selalu kalah

menggenggam kehidupan.


Tentang Penulis

Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan, 22 Juni 1999. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Puisi-puisinya termuat di beberapa media massa dan antologi bersama. Karyanya yang telah terbit berjudul Puisi yang Remuk Berkeping-keping (2019, Interlude). Menyukai kucing dan membenci pertikaian. Dapat dijumpai dalam akun Instagram: @anugrah_gio_pratama.

Nomor Ponsel: 081513650233

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026
Tags: CaritoPelesiranPunago Rimbun

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Budi Saputra: Dua Lomba Berbeda Jadi Kemenangan Beruntun | #apresiasi

Budi Saputra: Dua Lomba Berbeda Jadi Kemenangan Beruntun | #apresiasi

Cerpen: Maulidan Rahman Siregar | Pilihan Ibu

Cerpen: Maulidan Rahman Siregar | Pilihan Ibu

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In