• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Mendengkur Waktu

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
30 Oktober 2020
in Sastra
1.2k 77
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Di ruang ini, waktu mendengkur; gelap mengental. Kata-kata terlelap dan mimpinya: jejak hujan yang seresah usia.

Anugerah Gio Pratama, Waktu Mendengkur

Batu

Ada batu

yang tergeletak

di tengah jalan. Pasrah.

Hanya mampu pasrah. Hanya menanti

seorang anak kecil menendangnya

ke pinggir kali.

Atau kalau nasibnya sedang tidak baik

ia akan dilindas oleh ban truk yang besar.

Lalu hancur berkeping-keping

atau terpelanting jauh

ke arah entah.

Ada batu yang tenggelam di dalam air.

Ia buta, dan bisu, dan tuli, dan lumpuh.

Ia tenggelam. Ikan-ikan menyaksikan

kelemahan batu itu tapi mereka tak peduli.

Apa untungnya peduli pada batu?

Ada sebongkah batu, kecil dan keras.

Ia kini berdiam lama

di hatimu.

Seribu Kopi

Seribu kopi yang tersaji

tak sanggup tampung

pahit hidupku

hari ini.

Sepanjang Januari

Sepanjang Januari,

angin dan cahaya retak.

Pada kelopak bunga itu,

tahun-tahun yang resah

memanggil namaku.

Di Antara Kita

Di antara kita,

ada diam yang kelabu.

Setiap waktu

adalah pekerjaan

yang penuh dengan kebohongan.

Kita adalah warna yang berbeda

tapi kecemasan kita

selalu saja sama.

Waktu Mendengkur

Di ruang ini,

waktu mendengkur;

gelap mengental.

Kata-kata terlelap

dan mimpinya: jejak hujan

yang seresah usia.

Kau dan Waktu

Kau dan waktu

selalu berdebat.

Kau mengasah pisau cahaya

dan waktu mengasuh

kerisauanmu.

Waktu tak pernah menang.

Namun kau selalu kalah

menggenggam kehidupan.


Tentang Penulis

Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan, 22 Juni 1999. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Puisi-puisinya termuat di beberapa media massa dan antologi bersama. Karyanya yang telah terbit berjudul Puisi yang Remuk Berkeping-keping (2019, Interlude). Menyukai kucing dan membenci pertikaian. Dapat dijumpai dalam akun Instagram: @anugrah_gio_pratama.

Nomor Ponsel: 081513650233

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: CaritoPelesiranPunago Rimbun

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Next Post
Budi Saputra: Dua Lomba Berbeda Jadi Kemenangan Beruntun | #apresiasi

Budi Saputra: Dua Lomba Berbeda Jadi Kemenangan Beruntun | #apresiasi

Cerpen: Maulidan Rahman Siregar | Pilihan Ibu

Cerpen: Maulidan Rahman Siregar | Pilihan Ibu

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In