
Sambirenteng Desa Penyadap Tuak
rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit di depan rumah. menjadi titik mula kaki berjalan ke ladang-ladang pohon lontar dan kelapa. pergi menyadap napas.
sedang menaiki bukit rumah kekasihku melewati bau amis tubuh kota, setelah hujan atau kemarau hari ini; membuat beribu lorong ketidakpastian di tubuh tropisnya.
tungku berhenti menyala pada musim tak pasti, katamu. tapi api di dapur mesti tetap dinyalakan. mesti waktu telah remang di ladang-ladang masa kini.
Desa Sambirenteng, Buleleng, 2025-2026.
Kaki—Tulang Punggung Petani Garam
aku baru saja melihat seorang lelaki menanak garam
pada ladang yang tak luas
kakinya menjadi tulang punggung
bersender di antara benih-benih asin
dipandangnya laut dengan tajam dan biru
tangannya erat menggenggam kayu bergigi tua
membuat tubuhnya liat dan liar namun jinak pada rasa
asing musim hujan dalam kemarau
Desa Les, Buleleng, 2025-2026.
Singaraja dalam Napas Tua
buat penyair made adnyana ole
kota ini mulai ramai
setelah beratus tahun lalu
cerita turis dan hilir mudik kendaraan
berhenti di gedung bioskop.
orang-orang bau napas pensiun
yang menguar di kota ini sekarang
mau ditutup hidungnya
hidup seakan mau dipadatkan di sini
setelah semua pernah tersedia dulu
mau diadakan ulang;
garis pantai, danau, juga desa-desa tua
yang meraba-raba kekasihnya ke mana,
mau dimunculkan dari dalam roh-roh batu tua
dipaksa keluar.
segala rencana dikuatkan di kota ini
kios dan gedung mulai dibangun ulang
disilahkan siapa mau buka usaha dan investasi
vila dan hotel termasuk sekolah pariwisata
terdengar wacana itu seperti mantera pengusiran leak
membuat orang-orang keluar dari dalam rumah menunda
sarapan paginya dengan ayam betutu. dialihkan pada makan
siang dengan ayam goreng dari amerika telah tersedia
di pinggir jalan bertabur saos tomat dan cabe
bangunannya masih baru.
yang muda nongkrong di sana
yang tua tetap minum tuak
di bale banjar. enjoy.
Singaraja, 2025-2026
Liar Rumput Kuda-Kuda Api
buat angelina arfat
kuda-kuda berlari ke matamu
kuda-kuda api
rumput-rumput tumbuh di dadamu
yang jinak hangus terbakar
yang liar tumbuh subur
di matamu di dadamu
liar rumput
kuda-kuda api
Padang Savana Tianyar, Karangasem, 2026.
Kematian dalam Gelap
buat angelina arfat
dan pada akhirnya
kita memeluk malam
lebih panjang dari biasanya
setelah kita tidak tahu
telah berhenti di mana
pergi mau ke mana
masih tidak tahu itu,
semua terasa jauh
tapi waktu semakin padat
yang membuat kita hanya memeluk
hari esok lebih sebentar
setelah malam ini lebih lama
dalam gelap,
apakah kematian itu?
Singaraja, 2026.
BIONARASI SINGKAT PENULIS
Son Lomri, kelahiran Serang, Banten, tinggal di Singaraja, Bali. Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik. Tulisan-tulisannya dimuat di media cetak dan digital, seperti Tatkala.co, Sudut Kantin Project, Majalah Elipsis, Jawa Pos Radar Banyuwangi, Harian Rakyat Sultra danHarian Nusa Bali.Kini berjualan buku di Anima Toko Buku dan bergiat di Komunitas Mahima. Salah satu cerpennya berjudul “Hamparan Kematian” pernah dialihwahanakan menjadi pertunjukan teater dengan judul “Mulih” oleh Kelompok Teater Cibetus pada Acara Pesta Pinggiran 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
- Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua - 7 Maret 2026
- Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang - 23 Februari 2026
- Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya - 15 Februari 2026




Discussion about this post