• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Sejarah Perjuangan Hak Sipil Adnan Buyung Nasution – Abdullah Faqih, S.H., M.H

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
11 September 2025
in Tokoh
1k 53
0
Home Budaya Tokoh
BagikanBagikanBagikanBagikan

Sejarah demokrasi Indonesia mencatat sejumlah tokoh penting yang berjasa dalam memperjuangkan hak-hak sipil. Salah satu ikon perjuangan yang reputasinya tak terbantahkan adalah Adnan Buyung Nasution, seorang advokat handal, pemikir, dan aktivis prodemokrasi. Ia dikenal sebagai pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), berperan besar dalam membela hak asasi manusia sekaligus melahirkan banyak aktivis HAM.

Lahir di Jakarta pada 20 Juli 1934 dengan nama asli Adnan Bahrum Nasution, ia mengalami kehidupan sulit sejak kecil. Di usia 12 tahun, ia mandiri bersama adiknya dengan berjualan barang loak di Pasar Kranggan, Yogyakarta, sementara ibunya berjualan es cendol. Ayahnya, R. Rahmat Nasution, bergerilya melawan Belanda. Suatu ketika tanpa disadari sepenuhnya oleh Buyung kecil, ia pernah tidur sekamar dengan tokoh buron Tan Malaka, yang dikenangnya sebagai bagian dari masa revolusi. Saat itu umur Buyung kecil dan Tan Malaka terpaut 37 tahun. Tan Malaka banyak menulis tentang konstitusi, Buyung menjadikannya bagian penting dari keberlanjutan perjuangannya. Keduanya meninggalkan warisan keberanian melawan kekuasaan.

Sejak muda, Buyung aktif dalam organisasi, seperti Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPI) dan pernah menjabat Ketua Cabang IPI Jakarta. Ia sempat berkuliah di Teknik Sipil ITB, lalu pindah ke Fakultas Gabungan Hukum, Ekonomi, dan Sosial Politik UGM, dan akhirnya menyelesaikan studi hukum di Universitas Indonesia. Setelah lulus, ia menjadi jaksa, tetapi sering menyaksikan ketidakadilan hukum. Hal ini mendorongnya keluar dari kejaksaan dan menekuni jalur advokasi.

Tahun 1966, Buyung terlibat dalam gerakan politik dan sosial, termasuk mendirikan Gerakan Pelaksana Ampera, yang mengkritik kebijakan Presiden Soekarno. Ia turun langsung ke masyarakat, membantu warga miskin, dan dikenal sebagai juru bicara demokrasi.

Nama Adnan Buyung Nasution mungkin terdengar jauh bagi generasi yang tumbuh setelah Orde Baru. Foto-fotonya terlihat usang: rambut putih semua, kulit legam. Tapi jangan salah, di balik wajah tua itu, suaranya paling lantang di ruang sidang bahkan di negeri yang dicekik oleh rezim yang berkuasa pada saat itu.

Ketika Buyung membela H.R Dharsono yang dituduh subversif. Hakim menyebutnya tidak etis. Kemudian Ia justru berdiri, bertolak pinggang, menyambar mikrofon, lalu berteriak: “Siapa yang tidak etis? Saya protes!” Polisi bergegas masuk, tapi ia menghardik: “ruang ini kewenangan hakim, Polisi. Keluar!” Sontak saja, polisi itu benar keluar. Keberanian inilah yang dimiliki seorang Buyung untuk melawan kekuatan rezim.

Tentu ia harus menanggung akibat. H.R Dharsono tetap dijatuhi hukuman. Izin pengacaranya dicabut. Orde Baru menyingkirkannya. Tentu saja Buyung tidak seperti manusia-manusia pada umumnya, semakin ditekan justru semakin melawan.

Perjuangannya berlanjut di ranah intelektual. Ia pergi ke Belanda, menulis disertasi tentang Konstituante. berkaitan dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yaitu keputusan yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno berisi pembubaran Konstituante, pemberlakuan kembali UUD 1945 serta pembentukan MPRS dan DPAS. Pertanyaannya cukup tajam ia lontarkan: mengapa setelah puluhan tahun merdeka, rakyat masih ditindas dan hak-haknya diingkari?. Buyung salah satu orang yang paling lantang mengkritik praktik penyimpangan konstitusi sejak Demokrasi Terpimpin hingga Orde Baru. Disertasinya tersebut membuka perdebatan tentang “Pembubaran Konstituante”. Tak ayal, peristiwa itu dituangkan Buyung dalam temuannya yang diberi judul Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas konstituante 1956-1959.

Sekembalinya ke tanah air, Buyung tampil sebagai intelektual publik yang lantang mengkritik Orde Baru. Ia memperjuangkan agar hukum menjadi panglima dalam negara demokratis. Pandangan dan aksinya mendapat liputan luas media, menjadikannya simbol perlawanan terhadap otoritarianisme. Buyung juga berada di garis depan gerakan pro demokrasi. Pada saat itu Indonesia menjadi pusat perhatian dunia. Krisis moneter, demonstrasi dan kerusuhan di sana-sini sampai pada lengsernya Soeharto sebagai penanda berakhirnya Orde Baru.

Di mata keluarga, Buyung adalah ayah yang demokratis dan tegas. Ia selalu menanamkan nilai keberanian berpendapat, menghargai perbedaan, serta mengutip pesan terkenal: “Kamu boleh berbeda pendapat dengan saya, tapi saya akan bela hakmu untuk berbeda pendapat sampai mati.” Nilai ini ia wariskan kepada anak-anak dan generasi muda.

Terlepas setuju atau tidak dengan sikap Adnan Buyung Nasution, namun begitu ia wafat sebagai sosok yang meninggalkan jejak besar. Tidak mudah mencari sosok sepertinya lagi dalam seratus tahun ke depan. Warisannya berupa prinsip, keberanian, dan perjuangan demokrasi tetap menjadi teladan bagi kita. Sekalipun tulisan ini hanya bertutur lebih kepada perjalanan hidup Buyung, melalui tulisan ini hendaknya kita dapat menjemput kembali spirit demokrasi dan meneruskan napas panjang perjuangan.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: Berita seni dan budayaBudayaPelesiran

Related Posts

Syekh Khatib Ali Al-Fadani: Sang Kontributor Pendidikan Madrasah di Kota Padang Abad 20 – Johan Septian Putra

Syekh Khatib Ali Al-Fadani: Sang Kontributor Pendidikan Madrasah di Kota Padang Abad 20 – Johan Septian Putra

Oleh Redaksi Marewai
15 April 2025

Johan Septian Putra Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 merupakan bagian penting dari fase penting dalam penyebar...

BERBUAI DENDANG, MENUAI KENANG: ALUNAN SUARA MAESTRO ZULKARNAIN | Fadhillah Hayati

BERBUAI DENDANG, MENUAI KENANG: ALUNAN SUARA MAESTRO ZULKARNAIN | Fadhillah Hayati

Oleh Redaksi Marewai
21 Februari 2025

oleh Fadhillah Hayati 23 Februari 2018, tujuh tahun berlalu semenjak kepergian Zulkarnain. Seorang maestro musik yang berkiprah di Kota...

Mengenal 16 Pahlawan Nasional dari Sumatra Barat

Mengenal 16 Pahlawan Nasional dari Sumatra Barat

Oleh Arif P. Putra
16 Agustus 2022

Foto: Tugu Pahlawan Ilyas Yakub di Painan (dok. Marewai) Sumatra Barat dalam sejarah Indonesia menyumbang banyak para pemikir-pemikir kelas...

Profil Tokoh & Karya: Sastrawan Raudal Tanjung Banua dan Cerita “Nyaris Wartawan” | Arif P. Putra

Profil Tokoh & Karya: Sastrawan Raudal Tanjung Banua dan Cerita “Nyaris Wartawan” | Arif P. Putra

Oleh Arif P. Putra
1 Januari 2022

Raudal Tanjung Banua lahir di desa Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Pendidikan menengahnya...

Next Post
Stevunk: Perkenalan Pertama “Batu dari Neraka”

Stevunk: Perkenalan Pertama "Batu dari Neraka"

UWRF 2025: Hasbunallah Haris Bakal Launching Novel Leiden (2020-1920) di Ubud, Bali

UWRF 2025: Hasbunallah Haris Bakal Launching Novel Leiden (2020-1920) di Ubud, Bali

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In