• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Sastra: Puisi Remon Sulaiman | Ziarah

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
3 Oktober 2020
in Sastra
1.4k 73
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

DI BAWAH NYALA 30 LAMPU


Tak ada yang meski kau kenang dari malam di beranda gerai kopi itu
sebatas lagu-lagu tentang sepasang mata bermain cahaya di bawah terang lampu yang menyala,
cangkir-cangkir kopi tinggal separuh terisi,
serta di meja seberang orang-orang ramai berbincang


Barangkali suatu senja kau akan kembali singgah di sana
Sendiri,
Memesan secangkir kopi
Sekedar bersulang dengan hari-hari yang pergi
Namun tetaplah tak ada yang mesti kau kenang dari malam di beranda gerai kopi itu


Selain diam-diam seseorang di sampingmu bersiasat mencederai kaki waktu dengan menulis puisi
Agar dingin angin laut yang memelukmu dengan perasaan asing sekaligus akrab kala itu
menjadi abadi


Batam, 2019


UPIK


Di badan demam ini, Upik
Diam-diam kubangun sebuah taman
Dari puing runtuhan masa kecilmu yang hilang
Di mana takkan pernah lagi kau temukan
Segala rasa sakit dan ketakutan


Di badan demam ini, Upik
Barangkali telah terbentang laut lapang
Di mana landai pantai dan kokoh karang
Adalah rumah bagi segala badai dan gelombangmu berpulang

Di badan demam ini, Upikku sayang
Aku igaukan namamu berulang ulang


Muarabungo, 2020


ZIARAH


Suatu waktu jika akhirnya kau pulang
Kita akan ziarah ke makam ibu
Ke pandam yang mungkin kami telah lupa di mana dulu telah menimbun jasadnya dengan airmata
Melintasi jalan setapak
Yang meskipun kini telah hilang di telan semak dan ilalang
Namun adalah arah pasti langkahmu ketika mengantar mayatku menuju pulang


Bukittinggi, 2020


MENUNGGU MERYAN PULANG


Barangkali langit sore sebelum hujan turun
Belum juga rampung menafsir segala yang terkurung
pada sepasang matanya yang mendung

Barangkali dingin angin gunung yang kerap mengantarkan kabut ke kaca jendela
Tak sampai-sampai menggiring renyai rinai suaranya

Barangkali redup matahari pada setiap petang yang merembang
Tak cukup memberi cahaya menuntun langkahnya ke arah pulang

Barangkali hujan
Barangkali ia tersesat di persimpangan

Tak ada ketuk pintu
Tak ada bayangannya melintas di bawah cahaya lampu

O
Alangkah lama nian waktu


Muarabungo, 2020


RUANG GELAP


Pada sebuah ruang gelap
Kau seperti tertawa
Sembunyikan luka
Yang waktu entah enggan mengurainya

Pada sebuah ruang gelap
Aku samarkan tangis hati
Di balik satu titik sepi
Di ujung diksi sebuah puisi.


Mbg, 2014


Remon Sulaiman, lahir di Bukittinggi Sumatera Barat. Tinggal di Muarabungo Jambi. Menulis puisi semampunya, semaunya.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
cerpen budi saputra-marewai

Cerpen: Serenade Kota Rantauan | Budi Saputra

si boko-marewai

Memaknai "Si Boko" dan Nasihat-nasihatnya

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In