• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Catatan Penutup Tahun 2023: “Perkenalkan Akulah Kebudayaan”

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
31 Desember 2023
in Budaya, Esai
1.1k 71
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Manumpang di Tangah Jalan
Manumpang di tangah jalan/menumpang di tengah jalan/ikut pergi ketika kendaraan sudah dalam perjalanan merupakan sebuah ungkapan/pameo yang secara umum berarti–seseorang atau kelompok mempunyai tabiat mengklaim suatu kerja yang sudah nampak hasilnya. Ketika kerja tersebut sudah nampak benang merahnya menuju ke satu titik (baik/untung), barulah ia mau ikut dalam kerja tersebut.

Tahun 2023 banyak peristiwa yang terjadi di dunia, tidak terkecuali di kebudayaan. Meski masih persoalan-persoalan klasik dan penyakit lama yang terus diobati, kebudayaan mempunyai peran penting dalam perkembangan dunia pada tahun 2023. Sebagian terus saja mengusap-usap masa lalu. Tentu saja dalam catatan ini saya tidak akan mengupas persoalan kebudayaan luar negeri, tapi persoalan negara Indonesia tercinta. Tetati tentu saja saya tak sanggup pula mengupas kebudayaan Indonesia tercinta dengan catatan penutup tahun yang bersifat suka cita dan riang gembira, maka saya persempit Sumatra Barat.

Sumatra Barat dengan individu serta kelompok-kelompok intelektual dan totalitas tanpa batasnya paling tidak sudah mulai berjuang di kebudayaan sejak lama, bahkan sejak Gunung Marapi masih sebesar telur itik. Mulai dari durian di takuak rajo, sampai sikilang aie bangih sampai buayo putiah daguak. Begitulah Sumatra Barat tumbuh, kebudayaan telah mengakar sebagai warisan leluhur, sehingga mengalir dalam urat nadi setiap insan yang dilahirkan di tanah Sumatra Barat. Lebih dari itu, bahkan ia rela bertungkus lumus demi kebudayaan. Hal demikian yang selalu saya kagumi dengan orang-orang di Sumatra Barat, para budayawan muda dan tuanya saling sinergi dari segala sisi. Acara-acara bertemakan kebudayaan, mulai dari budayawan tulen, sampai budayawan dadakan. Tentu saja hal tersebut bagus bagi perkembangan iklim kebudayaan di Sumatra Barat, walau saya kerap mendengar seorang intelektual regional merangkap budayawan eropa berkata, “mana pula bisa kebudayaan dilestarikan”. Waw.

Setelah saya pahami maksud dari kalimat intelektual regional merangkap budayawan eropa itu, ada benarnya juga ternyata. Baginya kebudayaan adalah jati diri yang sudah ada sejak lahir, ia akan terus mengakar dan mengalir sampai kapanpun. Kebudayaan itu telah melekat dan tak bisa digugat atau dilestarikan. Selagi masih ada manusia, maka kebudayaan tersebut masih terus tumbuh dan berkembang. Namun, objek yang menjadi kebudayaan itulah yang patut dilestarikan; sesuatu yang berbentuk benda. Entahlah, segalanya nampak rumit kalau dijelaskan. Sebagaimana orang-orang memandang kebudayaan sebatas seni-senian.

“Siapa yang menyuruhmu bergerak di kebudayaan, siapa yang memaksamu meneruskan kerja kebudayaan?”
Pertanyaan bodoh ini bahkan tak sanggup dijawab oleh pakar kebudayaan segala bisa dalam banyak forum bertemakan pelestarian kebudayaan. Nyaris disepanjang tahun 2023 saya menemukan tema acara yang sama; pemetaan, pelestarian, sumber daya, penguatan, objek kebudayaan dan lainnya. Tapi ini 2023, kawan. Segala melesat cepat dan siapa saja boleh ambil bagian menjadi pengurus kebudayaan, bahkan menjadi kurator kebudayaan. Disisi lain, para pegiat kebudayaan yang sejak lama bertungkus lumus menggalas kebudayaan ke sana kemari hidup terseok-seok penuh drama dalam banyak pertemuan-pertemuan bahwa dialah yang paling penggerak, si paling aktif dan si paling pelestari. Paling tidak di kampungnya, kita iya kan saja. Tapi kembali kepertanyaan sebelumnya tadi, “Siapa yang menyuruhmu bergerak di kebudayaan, siapa yang memaksamu meneruskan kerja kebudayaan?” Jika kau bukan dari instansi atau lembaga pemerintahan yang mengurus kebudayaan, tidak usah bersedih. Yang boleh bersedih dan berdrama-drama hanya mereka, sebab mereka secara resmi diletakkan di sana sebagai pemegang kebijakan, bergaji dan dilantik sebagai pegawai pemerintah. Nah, hanya mereka yang pantas bersedih dan berdrama-drama soal kebudayaan. Merekalah yang pantas bicara sudah bertungkus lumus mengurus kebudayaan yang letaknya hanya sampai, “besok kita infokan lagi kelanjutannya.”

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram - 5 Februari 2026
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
Page 1 of 2
12Next
Tags: Berita seni dan budayaBudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

Next Post
Cerpen Depri Ajopan | Akan Aku Lawan

Cerpen Depri Ajopan | Akan Aku Lawan

Echo Flow Rilis “Di Balik Tirai” untuk Soundtrack Film Pendek SIA? Produksi Marewai N’Co

Echo Flow Rilis "Di Balik Tirai" untuk Soundtrack Film Pendek SIA? Produksi Marewai N'Co

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In