• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Selasa, Agustus 25, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pawang Hujan dan Pancaroba

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
1 Oktober 2021
in Budaya, Artikel
2.2k 92
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Pawang hujan adalah sebutan untuk seseorang dalam masyarakat Indonesia yang dipercaya dapat mengendalikan hujan atau cuaca. Umumnya, pawang hujan mengendalikan cuaca dengan memindahkan awan. Jasa pawang hujan biasanya dipakai untuk acara-acara besar seperti perkawinan, konser musik dan banyak lagi.

Ada dua macam kerja pawang hujan: pertama, memindahkan awan ke arah laut, kedua, menahan hujan sebisa mungkin. Tujuannya supaya tidak turun hujan di daerah yang sedang berlangsung acara atau perkejaan.

Adapun cara lainnya yaitu menurunkan hujan beberapa hari sebelum hari yang ditentukan. Meski begitu, dalam agama Islam, kepercayaan ini ataupun mengklaim bisa menurunkan hujan/menahan hujan. Maka sangat dikuatirkan jatuh kepada kesyirikan. Karena turunnya hujan adalah perkara yang tak bisa ditentukan manusia (gaib).

Beberapa minggu terakhir cuaca di Sumatra Barat memang tidak menentu, cuaca yang berubah-ubah, biasa disebut pancaroba. Pancaroba adalah sebuah masa ketika banyak perubahan yang terjadi pada alam. Suhu yang bisa berubah dratis dalam waktu yang cepat hingga hujan atau panas yang hadir tiba-tiba. Terjadinya situasi tersebut menyebabkan banyak hal-hal negatif dan positifnya. Hal negatif akibat pancaroba tersebut tidak stabilnya kondisi tubuh melawan iklim yang tiba-tiba berubah, sehingga menyebabkan deman, flu, hidung tersumbat, sakit tenggorokan dan lainnya. Lebih parahnya menyebabkan bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor. Sama halnya yang terjadi saat ini di beberapa daerah di Sumatra Barat. Sedangkan efek positifnya mereda kegersangan di lahan, ataupun hal-hal yang sifatnya membutuhkan air dengan skala banyak; sawah dan ladang.

Nah, perubahan iklim tersebut yang kadangkala berusaha diantisipasi oleh orang-orang yang sedang mengadakan sebuah acara ataupun proyek besar. Biasanya mereka memercayai tugas tersebut kepada pawang hujan. Di Pesisir Selatan sendiri, kerja pawang hujan hampir sama secara keseluruhan karena banyak dipakai pada saat mengadakan acara dengan waktu yang lama. Seperti pesta pernikahan, acara pemuda, dan pesta-pesta lainnya.

Umumnya proses yang dilakukan pawang hujan menggunakan rokok, ada yang mengisap rokok sampai waktu yang ditentukan, adapula hanya sekedar membakar rokok (tanpa mengisap). Biasanya ritual ini dilakukan untuk acara-acara yang skalanya sehari/dua hari. Sedangkan seperti pengerjaan proyek jalan atau proyek besar, biasanya menggunakan api unggun/kemenyan dengan ritus-ritus membakar persyaratan yang sudah disiapkan (melemparnya ke dalam bara api). Pawang hujan seperti ini biasanya sudah tidak memakai tempat khusus lagi, alias sudah disediakan tempat di dekat proyek yang sedang berlangsung.

Masyarakat memercayai bahwa pawang hujan tak semata bekerja dengan mantra/doa-doa yang dilantunkan. Lebih dari itu, pawang hujan bekerja secara gaib, meminta pertolongan melalui ritus-ritus yang disampaikan kepada makhluk gaib. Sehingga menimbulkan serta memunculkan efek cuaca yang disampaikan si pawang hujan. Kita mungkin pernah mengalami hal seperti: hujan yang tiba-tiba deras, sedangkan di tempat lain (wilayah yang tidak jauh dari hujan) cuacanya terik. Hal tersebut dipercayai bahwa pawang hujan sedang bekerja memindahkan hujan/menahan hujan.

Terlepas dari baik dan buruk, pada kenyataannya kerja pawang hujan sampai sekarang masih dipercayai oleh masyarakat. Tidak di Sumatra Barat saja, hampir se-nusantara memiliki kepercayaan terhadap pawang hujan. Namun, semuanya kembali kepada diri masing-masing, bahwa kepercayaan dan keyakinan adalah hak mutlak bagi setiap manusia.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Film – Tiga Babak Soft Power: Film dalam Tatanan Politik Dunia dan Peran Industri Film - 8 Agustus 2026
  • Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra - 26 Juni 2026
  • Cakap Film – KARA: Karakteristik Film Tamil dan Isu Terdekat Mereka - 2 Juni 2026
Tags: ArtikelBudayaLisanMarewaiSastra

Related Posts

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
4 Agustus 2026

"Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA" di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.Oleh: Irawan...

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Next Post
Puisi-puisi Abed Ilyas | Nyala Nyale

Puisi-puisi Abed Ilyas | Nyala Nyale

Cerpen Ian Hasan | Platonika May

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In