• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Kamis, September 17, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

BRANDING URANG AWAK ITU HARUSNYA KUAT

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
24 Agustus 2021
in Berita Seni Budaya
2.2k 137
0
Home Budaya Berita Seni Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Padang, Marewai– Branding memang sebuah kata yang datang dari luar negeri. Prakteknya oleh para pelaku hari inipun mengacu pada apa yang diterapkan orang di luar negeri. Namun prinsip-prinsip dasar branding justru sangat kuat ditanamkan nenek moyang kita orang Indonesia, terutama Sumatera Barat. Hal itu disampaikan Ajo Wayoik, ketua tim Satuan Tenaga Konselor Pariwisata (SANAK Pariwisata) saat mengisi acara pertemuan forum pelaku ekonomi kreatif yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat, Selasa (24/8) di Novotel Bukittinggi.

Dijelaskan oleh pemilik studio Wayoik! ini contoh prinsipil itu adalah rumah gadang. “Betapa rumah gadang, disengaja atau tidak oleh nenek moyang kita, telah menjadi icon Minangkabau. Ia sangat kuat sebab, tidak ada contoh lain di dunia, rumah dengan struktur dan arsitektur seperti itu. Rumah gadang, sangat cepat terindentifikasi karena memang memiliki ciri khas pembeda yang membuatnya sangat spesifik. Selain bentuk gonjongnya, karakter kultural juga melekat bersama simbol-simbol pada ukiran.” jelas pentolan Forum Batajau Seni Piaman ini.

Begitu pula dengan gala, yang menjadi “brand” posisi kultural, asal muasal, sampai karakter seseorang. Sementara, praktek branding terhadap produk yang punya nilai komersil juga sudah lama diterapkan. “Misalnya tukang sate. Orang luar negeri mengiklankan makanan lewat media masa. Tukang sate di Pariaman mengiklankan satenya lewat udara. Lewat tebaran aroma asapnya yang menggoda. Dan aromanya spesifik sebagai aroma sate,” katanya.

Makanya, menurut Ajo Wayoik, orang Minang harusnya sangat melek dengan branding. “Secara karakter, orang Minang itu biasanya juga cerdas, berani dan gigih. Itu adalah sikap-sikap penting dalam menggerek brandng,” terang Ajo.

Usai materi, para peserta sangat antusias mengikuti sesi diskusi. Sebagian besar meminta review terhadap logo, nama, foto-foto hingga desain kemasannya. Nani (43) salah seorang peserta mengaku sangat bersemangat untuk memperbarui branding yang sudah ia lakukan. “Saya harus susun langkah lagi. Tadi ajo tekankan soal kolaborasi bersama seniman desain, fotografi dan videografi. Itu yang kurang dilakukan pelaku ekonomi kreatif selama ini. Kolaborasi itu kurang,” sebutnya.

Dihubungi terpisah, Kadis Pariwisata Novrial mengatakan, tim SANAK memang dibentuk untuk membantu dinas yang ia pimpin dalam rangka mencerahkan pemikiran para pelaku pariwisata dan industri kreatif. “Ada banyak pengalaman anggota tim SANAK ini yang harusnya tersebarkan pada pelaku lainnya. Dan itu sudah berangsur sekarang,” katanya.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Bala Bhumi: Membaca Kegelisahan Menolak Segala Bala | Zura W Zulkarnain - 3 September 2026
  • Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata - 4 Agustus 2026
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
Tags: Ajo wayoikBrandingBudayaMarewaiMinangkabauPadangPariamanSumatra barat

Related Posts

Bala Bhumi: Membaca Kegelisahan Menolak Segala Bala | Zura W Zulkarnain

Bala Bhumi: Membaca Kegelisahan Menolak Segala Bala | Zura W Zulkarnain

Oleh Redaksi Marewai
3 September 2026

Salah satu keberhasilan Bala Bhumi, karya sutradara Afrizal Harun, terletak pada bagaimana pertunjukan ini mengembangkan tubuh para aktornya. Tubuh-tubuh...

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
4 Agustus 2026

"Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA" di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.Oleh: Irawan...

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Next Post
Pesimistis dan Sentimentil Dalam Bayang-bayang Profesi Guru | Arif Purnama Putra

Pesimistis dan Sentimentil Dalam Bayang-bayang Profesi Guru | Arif Purnama Putra

Rakit Kapalo Banda: Dulu Bawa Kayu Bakar, Kini Bawa Vino G Bastian

Rakit Kapalo Banda: Dulu Bawa Kayu Bakar, Kini Bawa Vino G Bastian

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In