• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Mohammad Latif | Sesudah tanah basah

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
24 Juli 2021
in Sastra
1.4k 90
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Pekarangan

Di hamparan batu-batu tubuhku tandas
Setiap kepergian dan kepulangan menyimpan rahasianya sendiri
Kepala dipenuhi kegilaan saban waktu
Setiap ingatan terurai berbenih kenang
Sedang tanah berganti kelamin
Tak menumbuhkan apa-apa
Termasuk juga cinta

Pamekasan 2021

Suatu waktu

Suatu waktu ingin kusinggahi lagi suaramu
Agar tak selalu kebingungan mencari jalan
Dan membuat hidup semakin bimbang
Ingatanku terhirup angin malam
Ia terkapar di selaksa ruang rumit
Dimana segala kejanggalan menjadi Satu
; kau dan aku terjebak di situ

Berapa jarak antara kehidupan dan kematian
“satu kedipan mata” katamu
kita sama-sama mencari sesuatu yang hilang
dari waktu, tubuh, dan hari-hari kita yang lain
lalu apa lagi,
seluruh gerak atas izinnya
bahkan degub senyum dari dadamu
yang meretakkan seluruh ingatan dalam kepalaku itu
; pun juga

Kuhirup wangi samsara di sini
Dari purwa jalan-jalan yang menuju pada entah
Di gemuruh dadaku,
Ada yang mengganjil
Tapi aku tak mengerti
Apakah ini cinta
Atau air mata

Pamekasan 2021

Di sudut cafe

Tidakkah kau menyadari kekasih
Orang-orang sedang sibuk mengungsikan mata dan telinganya
Sedang kita saling bertukar cerita
Tentang luka-luka masa lalu

Di sudut ini hanya kita berdua
Tak ada kopi ataupun teh
Hanya meja yang berantakan
puntung rokok, tembakau
Juga pisang keju yang kau bawa
Dengan itu kekasih,
Aku terus teringat akan jalan panjang yang dihunus dalam puisi
serta sejarah yang dicatat dari runcing jarimu

Di sudut cafe ini tidakkah kau sadari
Gagap mataku yang terus menuju
(padamu)

Pamekasan 2021

Insomnia
:amalia

Mengingatmu adalah perkelahian panjang dan rumit
Sebab pada riak matamu yang tajam itu
Setiap lelaki berebut pusaka

Suatu waktu
Kau berdesakan dalam mimpiku
Di bawah sadar, di bawah igau
Setiap tanya hanya menemui tanya yang lain

Sedang di sini,
Segala harap diremuk malam diganyang sakit

Pamekasan 2021

Komposisi pagi

Pagi adalah renyuh kopi
Juga kepul asap yang beringsut
Dari sisa bakar ranting dan daun di halaman

Pagi adalah ibu yang menyapu peluh ayah
Hasrat yang cemas
Pada cekcok kecil yang romantis

Pagi adalah aku
Bentuk lain dari segala pikir
Yang perlu dikuduskan

2021

Lakon hujan

Di puncak musim hujan yang pucat
Kau dan aku kembali menghembus nyala
Menyemai dingin di kening

Di pundak para kekasih
Rindu yang kalap kembali ternganga

Tak ada mimpi yang benar-benar tidur
Saat ia menghitung kenang di langit-langit kamar

Rindu memukul keras kepalaku
Mencari ia yang menggaib
Ingatan yang purba
Sebuah kecupan yang terlipat di tepi ranjang
Tangisan sendu juga guratan batin yang menidurkan mimpi buruk

Hari-hariku jadi dingin
Seperti malam yang lekat di bibirmu

Pamekasan 2020

Sesudah tanah basah

Selalu ada sebab pada tiap tanah yang basah
Setiap harumnya selalu mencatat kenang
Tak terkecuali luka-luka yang lebur di desah hujan

Pada takdir kami diam
Tapi selalu bertanya-tanya
Apakah waktu bisa dilipat dan segala kenangan
bisa dilupakan dengan cuma-cuma

tapi kami selalu menyeka setiap ucapan
membuka jalan sendiri
membersihkan dan merawatnya sebagai harapan
sebagai ramalan di hari depan

selalu ada sebab pada setiap tanah yang basah
setiap beceknya selalu menyimpan rahasia
tak terkecuali luka-luka yang tercecer di sepanjang jalan
(jalan pulang antara kelahiran dan kematian)

Sumenep 2021

Pada laut

Pada laut
Pikirku hanyut
Diterjang kalut
Pada laut
Aku ingin berkisah sampai larut
Sampai maut mematikan dendam
Dan pertarungan-pertarungan alot

Pamekasan 2021


Mohammad Latif, Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam di IAIN Madura bergiat di Teater Fataria dan Klub Puisi Manifesco bisa disapa melalui Facebook: mohammad latif, Instagram: latifmohammad086 atau melalui surel: [email protected]


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaCerpenPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Ede Tea | Nyonya Besar

Cerpen Ede Tea | Nyonya Besar

Rayakan Hari Puisi Indonesia, Pura-Pura Penyair Luncurkan Buku Puisi Jilid 2

Rayakan Hari Puisi Indonesia, Pura-Pura Penyair Luncurkan Buku Puisi Jilid 2

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In