• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi M.Z. Billal | Mendengarkan Poetry in Motion*)

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
22 Mei 2021
in Sastra
1.3k 13
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Cerita Pendek Tentang Cinta

#1
ia tak marah bila dipersalahkan
dan tidak berusaha menjelaskan.
ia tahu kau merasa terluka,
namun kau tidak tahu kalau ia
lebih sering terluka daripada kau.
ia tabah dan membiarkan punggungnya
menyembunyikan hal-hal berat
dari seluruh yang berat sering
kauperlihatkan di dadamu kepadanya.
ia tidak memiliki apa-apa
untuk mengasihimu kecuali cinta
yang penuh dan menenangkan.
tapi ia meragukan dirinya sendiri
apakah kau akan menerima cinta
yang tak pernah sanggup kaugenapi.
sebab ia tahu kau tahu tentang
apa-apa yang ia ketahui tentangmu.

#2
ia tidak bertanya siapa gerangan
dirimu saat ia memilihmu untuk dicintai.
melainkan ia bertanya pada dirinya sendiri
siapa gerangan ia yang bisa diterima
olehmu untuk dicintai. ia merasa
dadanya penuh oleh cinta. ia seperti
mampu memberi ruh kepada bangkai
bunga-bunga alamanda di taman kota
yang sekarat pada ujung hari. ia sepenuhnya
apel yang rela dibelah jadi dua bagian
oleh pisau yang kausembunyikan
di dadamu. ia tidak menolak untuk
berdarah. sebab kau telah mahir
untuk menyembuhkan luka-luka.
demikianlah bagaimana cinta yang penuh
bekerja untuk memenuhi hari-hari mereka.

#3
ia dan kau sama-sama tidak punya alasan
untuk saling meninggalkan. ia tahu kau marah,
dan kau tahu ia marah. ia sedih kau sakit,
dan kau sedih ia sakit. ia tertawa kau bersenda,
dan kau tertawa ia bersenda. ia takut kau benci,
dan kau takut ia benci. ia mengecupmu,
dan kau memeluknya. kau memenuhi bibirnya
dengan bibirmu, ia berpetualang ke dalam
tubuhmu. ia tahu kau menua, dan kau tahu
ia menua. ia memugar dadanya jadi ruang keluarga,
kau menjadi perapian saat ia merasa dingin.
ia menyempurnakan kau dengan cintanya
dan kau menyempurnakan ia dengan cintamu.

Kamar Alegori, Januari 2021

Mendengarkan Poetry in Motion*)

meski kau tutup telingamu
tapi irama tak berhenti
mengalun
dalam dada.
puisi telah memainkan
sebuah lagu romantis
di lantai dansa
dekat jantungmu.
ia memanggil-manggil
namamu
menyebut semua
keindahan
yang menggetarkan ruh
menuju ke tiap sudut
pancaindramu.

I love every movement
And there’s nothing I would change….

di luar hujan
di dalam secangkir teh
mengepul.
kau teringat pacar
masa kecilmu.
ia gadis bermata indah
dan bertanya-tanya
sendiri
bagaimana kabarnya
ia sekarang.
lalu kau melihat
bayangannya
di kaca jendela.

Poetry in motion / walkin by my side
Her lovely locomotion / keeps my eyes open wide

ia menghampirimu
dan membacakan
sebuah puisi
tentang bunga-bunga
dan matahari januari.
ia telah tumbuh
tinggi.
sepasang matanya
adalah telaga kembar.
tempat kau
membasuh sunyi
dan menuliskan
balasan puisi.
“jangan pergi,
tolong tetap di sini.”

Kamar Alegori, Januari 2021

*)Poetry in Motion adalah lagu yang dipopulerkan oleh Johnny Tillotson

Rinduku

rinduku adalah hujan
yang turun pagi-pagi sekali
pada hari senin yang sibuk.
mencegahku berangkat kerja.
sebab melulu keping ingatanku
tertuju kepadamu.
sementara entah mengapa
sepatu dan mantelku pun ikut
bersembunyi di suatu tempat
yang kukira aku tahu itu di mana.

rinduku menciptakan
lapangan pekerjaan khusus
di mana hanya aku yang mampu
menanganinya.
menjelma tumpukan berkas
berisi laporan kalkulasi perasaan
di dada meja.
aku kerap kesulitan
namun aku lebih sering merasa
senang. berhasil menemukan selisih
dan mengemukakan ide bagus
untuk memecahkan persoalan.

rinduku kadang cuma basa-basi
ia mengirimiku pesan sangat pendek
tapi tidak mengatakan apa-apa.
aku jadi uring-uringan
dan lembaran kertas buku puisi
berubah jadi burung-burung
yang terbang jauh melintasi
rintik hujan pagi yang tercipta
dari rinduku sendiri.

Kamar Alegori, Januari 2021

Sepucuk Memo di Rak Sepatu
:ibu

“kau boleh tidak meletakkan
sepatumu dengan rapi.
tapi pulanglah
tetap dengan hati yang bersih.”

lalu kau tersenyum.
ia tahu di luar rumah kau harus
menjadi pintu terbuka
untuk semua perkara yang masuk
ke dalam dadamu
dan menyembunyikan semua itu
ketika pulang.

dan memo pendek di rak sepatu itu
adalah sebuah mantra ajaib.
ia memberimu berjuta-juta kali
pelukan kehangatan.
yang mengalir dari sepasang kakimu
mencapai ujung paling jauh
di hamparan tubuhmu yang mudah
sekali lelah.

sebab ia adalah ibu
perempuan yang dahulu sekali
gemar mengikat tali sepatu
dan menyerap seluruh kesedihanmu.

Kamar Alegori, Januari 2021

Jalan Pulang

satu-satunya jalan pulang saat nanti kau tersesat
jauh dan merasa begitu cemas adalah kembali pada
diri sendiri. ia barangkali telah tertinggal jauh
di belakang punggungmu. merasa begitu rindu
pada kau yang selalu rajin memeluknya setiap
pagi turun bersama sinar matahari di ambang jendela.
bahkan ia tidak bisa melupakan masa-masa terbaik
ketika kau membicarakan tentang masa depan
dan menenggelamkan tiap kesedihan ke dalam
meditasi gelas-gelas kopi. ia hanya bisa memandang
sepasang tungkaimu menjauh dan raib pada rembang petang.

kau tahu, pengkhianat terburuk di dunia  adalah kau
yang melepaskan jati diri hanya untuk menjadi
orang lain. memenjarakan bagian yang baik di lembah
tak bernama dan meninggalkannya dalam kesepian.
ia tersedu-sedu memanggil namamu tapi kauabaikan.
dalam gelap maupun terang ia tetap memelihara ingatan
dan memasang petunjuk jalan. agar nanti atau
entah kapan saat kau ingin pulang, kau mudah menemukan
rute untuk kembali kepada dirimu sendiri.

jadi bisakah kau tidak pergi jauh lagi?
sebab ia tahu hal paling kautakutkan bukan kehilangan
melainkan kelupaan yang kemudian menjelma tembok
sangat tinggi dan menghalangi seluruh pandanganmu.
kau harus selalu ingat, sebaik-baiknya jalan pulang
ialah kepada dia yang tidak pernah menolak seluruh
waktumu. dia, dirimu sendiri yang tiada bosan menjagamu
saat patah hati dan tersekap kesendirian.

Kamar Alegori, Juni 2020


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Antologi Rantau Komunitas Negeri Poci (2020) Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019) dan telah tersebar di media seperti Pikiran Rakyat, Rakyat Sumbar, Radar Mojokerto, Haluan Padang, Padang Ekspres, Riau dan lainnya. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) dan Kelas Puisi Alit.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: Cerpenmarewai tvPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Yogi Dwi Pradana | Karya yang Usang dari Penyair Pinggir Kota

Cerpen Yogi Dwi Pradana | Karya yang Usang dari Penyair Pinggir Kota

Puisi-puisi Artummi Sasih | sesuatu mengenang di mataram

Puisi-puisi Artummi Sasih | sesuatu mengenang di mataram

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In