• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Punago Rimbun : Nagari Kambang Dalam Pusek Jalo Banda Nan Sapuluah | Zera Permana

Zera Permana Oleh Zera Permana
22 April 2021
in Punago Rimbun
1.3k 55
0
Home Punago Rimbun
BagikanBagikanBagikanBagikan

Duduknya Raja Bagindo Sati Dua Rantaunya Alam Surambi Sungai Pagu. Pertama, Rantau Si Kija Batang Gumanti Sungai Abu Batang Hari, merupakan cancang latieh Niniek Nan Kurang Aso Anam Puluah (59). Kedua, Banda Nan Sapuluah cancang latieh Niniek Nan Kurang Aso Anam Puluah, turun dari Sungai Pagu terus jalan dari Kambang,  wilayah ninik nan kurang aso anam puluah, kalang hulunya Salido, tumpuannyo Air Haji. Maksudnya batasnya dari Salido sebelah utara dan sampai Air Haji yang berbatasan dengan Indrapura di Selatan.

Secara Adat daerah ini merupakan cancang latieh ninik nan kurang aso anam puluah, dimana penduduknya adalah anak kemenakan sapieh balahan: jajak nan tatukiek, unjut nan tabantang,  sarawan tali pukek,  jauah ka tangah manjadi wilayah ninik nan kurang aso anam puluah. Dipakai gelar pusako di Sungai Pagu oleh segala sapieh balahan di Bandar Nan Sapuluah itu. Dengan demikian apabila hendak mengetahui siapa sapieh balahannya, sepanjang adat maka ketahui sajalah gelar pusako adat yang dipakainya.

Nagari Bandar Nan Sapuluah ketika aman dari serangan dan kedudukan Raja Sitatok Sitarahan yang telah lari keperdalaman Gunuang Kerinci, tersusunlah Adat dan Limbago di daerah Kambang yang waktu itu dari seorang pembesar Sungai Pagu bernama Sari Dano (baca tulisan tentang orang rupik sebelumnya) meminta kepada Daulat Sungai Pagu seorang raja yang  akan menjadi kepala Ikek Nan Ampek. Oleh Raja Sungai Pagu permintaan Sari Dano itu dikabulkan, diutuslah seorang Raja dari Sungai Pagu yang bernama Sipakat Tuo  Gelar Bagindo Sati Suku Kampai dan istrinya bernama Puti Sigago Ati Suku Panai. Dihantarkan bersama-sama dengan isi Negeri Sungai Pagu dengan alat kebesaran Raja sampai ke Bukit Sitinjau Laut. Di Bukit Sitinjau Laut ini diadakan Alek Rajo-rajo dan jamuan makan minum dengan memotong kerbau tangah duo (satu perdua) yaitu: Kerbau Bunting, Jantung Sebuah dibagi tiga, kepengang sakepeng dibagi tiga. Satu pertiga diberikan kepada Sultan Rajo Hitam yang turun ke Air Haji. Satu pertiga diberikan kepada Tuangku Malin Sirah dengan Imam Abdullah yang turun ke Hulu Bayang. Satu pertiga lagi ialah untuk Rajo Bagindo Sati sendiri.

Setelah penjamuan itu selesai, Rajo Bagindo Sati memandang ke Lawik Nan Sadidih dan kelihatanlah oleh Raja Bagindo Sati sebuah ranah luas (Kambang) luarnya kucut ke muara Kambang, sedangkan hulunya luas. Melihat kedadaan yang demikian terpikirlah oleh Rajo Badindo Sati akan memberi nama Ranah itu dengan nama Kambang.  Semoga dengan nama itu  nanti rakyat Bandar Nan Sapuluah berkembang banyak hendaknya. Inilah yang menjadi sebab maka Nagari Kambang ini bernama Kambang.

Pada saat itu dilakukan perjalan oleh Raja Bagindo Sati berserta rombongan dan menyandang Mangkuto kebesaran seorang raja yang akan mengepalai Ikek Nan Ampek di nagari  kambang (Banda Nan Sapuluah). Berangkat dari Sitinjau Lawik menuju Bukit Pasikiayan, kemudian ke Bukit Pungguang Ladiang, lalu ke Gunuang Tigo tempat bermula Suku Nan Tiga (Kampai, Panai, dan Tigo Lareh) bernama Gunuang Nan Tigo. Lanjut lagi  sampai di Bukit Sikaduduak terus ke Gunuang Batu Gadang, berjalan ke Gunung Salo kemudian menurun ke Kampuang Sawah, dihiliri Kampuang Kulam (sebab bernama kampuang kulam, tanah di situ tak tahu hilirnya).  Di Kampung Kulam ini juga  hilang pakaian Raja Bagindo Sati, hiliran sungaipun tidak ketemu ke mana turunnya air di Kampuang Kulam. Penyebab demikian membuat Raja Bagindo Sati berputar putar tiga kali (mabuak baputa-puta tigo kali) maka tempat itu dinamakan Putaran Mabuak.
Setelah Raja Bagindo Sati ingat akan dirinya, maka ia bertafakur lalu berjalan Raja Bagindo Sati ke Batu Tungga dan kemudian duduk di sana melepaskan lelah sambil menikmati sebuah limau manis dan kulit limau manis itu dibuang  di tempat, kemudian tempat ini diberi nama Limau Manih,  dan berganti lagi dengan Kampung Limau Manis.

Kemudian dari sana Raja Bagindo Sati memecah (berpencar) ke Rawang, Raja Bagindo Sati menemukan sepohon Kayu Laban berdahan satu, di sini Raja bersandar. Sesudah bersandar di dahan kayu laban, maka dinamakan tempat itu Laban Limpuah. Dari Laban Limpuah ini Raja Bagido Sati berjalan lagi sampai di Galanggang Ampek Suduik, di sinilah Raja Bagindo Sati ditemui oleh Raja (pembesar) Ikek-ikek Nan ampek, disambut dengan senang hati, dengan sambutan seorang Raja Besar. Melihat hal yang demikian, seluruh orang (rakyat) Ikek Nan Ampek baik yang di laut maupun yang di darat berkumpul dan mendatangi Galanggang Ampek Suduik. Maka tempat inilah yang nantinya kemudian bernama kembali Koto Barapak.  

Adat Monografi Nagari Kambang

  • About
  • Latest Posts
Zera Permana
ikuti saya
Zera Permana
Redaksi Marewai at Media
Zera Permana
Salimbado Buah Tarok (Anggota Pusat Kajian Tradisi Salimbado Buah Tarok). Sekarang bekerja fokus di Serikat Budaya Marewai. Berasal Dari Nagari Sungai Pinang, Koto XI Tarusan Pesisir Selatan. Pengelola dan Penulis Tetap Rubrik "Punago Rimbun". Zera merupakan arsiparis muda manuskrip-manuskrip Minangkabau, selain fokus mengarsipkan manuskrip, Zera juga aktif berkegiatan dalam Alih Aksara dan Alih Bahasa. Salah satu manuskrip yang sudah terbit, "Kitab Salasilah Rajo-Rajo Minangkabau".
Zera Permana
ikuti saya
Latest posts by Zera Permana (see all)
  • Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana - 3 September 2025
  • Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2 - 2 Oktober 2024
  • Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung - 26 September 2024
Tags: BudayaCerpenEsaiPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana

Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana

Oleh Zera Permana
6 November 2025

Burek Tunggang Ka Karajaan Indopuro Lunang Bapucuak Bulek Di Minangkabau Pagaruyuang Bajulai si aka jambai, di Tepian Sungai Muara...

Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2

Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2

Oleh Zera Permana
6 November 2025

Seri Punago RimbunSejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan (Bagian 2) Maka...

Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung

Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung

Oleh Zera Permana
26 September 2024

Suatu waktu terjadi peristiwa di Alam Surambi Sungai Pagu, tiga orang pembesar; Raja Kampai Tuangku Bagindo, Raja Panai Tuangku...

Punago Rimbun: Hilangnya Keris Kesaktian Bunga Kesayangan | Zera Permana

Punago Rimbun: Hilangnya Keris Kesaktian Bunga Kesayangan | Zera Permana

Oleh Zera Permana
21 September 2024

Sumatra yang lebih dikenal dalam bahasa tradisi Pulau Perca, ujungnya Negeri Aceh pangkal hingga Lampung. Orang yang mendiami Pulau...

Next Post

Peringati Hari Bumi 2021: Komposer dan Seniman Lintas Bangsa Berkolaborasi "Restore" untuk Support Pendidikan Lingkungan Hidup

Puisi-Puisi Dhery Ane | Daintine

Puisi-Puisi Dhery Ane | Daintine

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In