• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Funky Zubair Affandy | Lonceng Empat Puluh Hari

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
31 Januari 2021
in Sastra
1.4k 14
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

O, kerutan damailah

Jangan paksa usia

O, bau anyir tanah

Peluklah dengan ramah

O, makhluk melata

Berdzikirlah

Funky Zubair Affandy

LONCENG EMPAT PULUH HARI

Di batas pagi kaki matahari menapaki jendela
Kokok ayam memanggil suara-suara
Di sana ibunda menenteng sagu
Doa-doa melesat pada pantulan kaleng susu

Dengan ramah ibunda menyapa rembulan
yang sayup
Menegur rerumputan katup

O, sayatan di perut kaki
Teduhlah
Jangan marah-marah

Ibunda sedang menundukkan lututnya
Menulis langit laksana
Sore itu ibunda membaca keadaan anaknya
Pulang membawa secawan zamzam dari surga

O, kerutan damailah
Jangan paksakan usia
O, bau anyir tanah
Peluklah dengan ramah
O, makhluk melata
Berdzikirlah

Ibunda datang dengan rambut hitam
lurus
Wajahnya tidak dimakan tikus
Bibirnya masih manis
Bak anggur dan kismis

Zamzampun basahi tenggorokanku
MasyaAllah!
TabarokAllah!

Ibunda kembali muda
Menikmati lupa
Empat puluh hari sudah meninggal dunia
Innalillah.

2020

KOLAM

Dari kolam-kolam kecil
Decak lembut menetas diantara bibir kolam
dan rerumputan

Dingin menutup jendela
Dingin pula rasanya siang
disempul langit yang muda
diasapi sisa
Puntung rokok pembaca koran

Puisi asyik mandi
Bermain air
Juga pelampung ditangannya

Puisi asyik menyeka air dimatanya
Rambutnya basah
Pipinya merah
Matanya sungai
diatas daun saga

Gelombang kolam datang
Menyapa dengan busa putih turun dari laksana
Puisi datang tanpa suara
Ia memeluknya dengan setia

Di kolam susu
Puisi tidak meminumnya
Ia bawa pulang untuk keluarga.

2020

KALENG JUM’AT

(1)

Sudah sampai lagi jum’at lagi,
Lupa bagaimana kabar kekasih
Lupa bagaimana ajal
Terus menghantui

Sudah jum’at lagi sampai lagi
Manusia sibuk ada yang menjadi pengembala, pekerja-
Tukang kibul maupun kuli

Maraknya adu domba
Marak pula manusia hilang nyawanya
Sudah dibilang
Berhati-hatilah berkata
Hari ini umumnya berita disiar kemana-mana

Jum’at datang lagi, lagi lagi
Jum’at kita lupa
Untuk muhasabah diri

(2)
Pahala bagi suami-istri
Menimang cabang bayi
Ah bicara pahala segala yang ada dibumi
Isinya pahala
Jikalau kita bisa meneguhkan hati

Masyarakat dulu sangat
Menghormati malam jum’at
Karena didalamnya banyak syafaat

Namun puisiku berkata
Semua hari adalah kebaikan
Semesta manusia yang mengerjakan
kebajikan
Seperti masyarakat kecil yang sabar
Anak kecil di lampu merah menjajah koran
Kuli bangunan tangannya kasar mencari nafkah untuk keluarga
Atau juga aparat Negara yang melaksanakan amanah.

Sudah sampai lagi
Jum’at lagi
Para penyair meniupkan puisi pada bumi
Politisi bekerja untuk keselamatan Negeri
Pelajar dan guru mengabdi atas dasar ilahi rabbi

(3)

Lapisan bumi memberi kabar tentang
Kebakaran dan pandemi
Lau, langit bersiul diatas sayap malaikat
Jumat datang lagi
Mari perbaiki diri

Dimana kematian mengerubungi
Dan manusia asyik lupa hari
Jum’at lagi, datang kemari
Mendekte manusia yang tak abadi

Sudah sampai lagi, jum’at lagi
Ada sepasang roti berdiskusi
Ada tomat, mentega dan garpu
Ada juga pemerintah yang gugur
Lupa amanah lupa cara bersyukur

(4)
Jum’at lagi, datang lagi
Rengginang ditangan remuk
Puisi datang
Aparat Negara
Lari tunggang langgang.

2020

MANUSIA SUDAH LAMA MATI

Tentang bagaimana ke-manusia-an di adu-adankan
Pada kaki-kaki rumput yang mencengkram bumi
Dan laut yang menyenandungkan sepi
Aku berdiri menekan keadaan
Dimanakah ke-manusia-an?
Dimanakah keadilan?

Manusia tidaklah-jauh binatang di hutan belantara
Tanpa jalan dikakinya
Tanpa tujuan kemana-mana
Dimanakah kita bawa sendiri-diri kesah yang menyendiri?

Dan ruang yang mengaduk-aduk api?
Cintailah apa yang bisa dicinta kelak ia
yang akan menemukanmu
Di riak gelombang laut tak bertepi

Bicaralah pada angin yang tuli
Tanyakan pada pohon pagi di makan matahari
Bersiaplah ketika sore di panggil malam
Tenggelam bersama aroma kopi

Ke-manusia-an harus diperjuangkan!
Tidak diperjual-belikan
Titik!
Serasa pagi menyantap roti
Dan kita-manusia sudah lama mati.


2020


Penulis, Funky Zubair Affandy Lelaki yang setiap harinya di habiskan dengan bermain Teater, menulis puisi, skenario drama dan teater. Membaca puisi dari panggung ke panggung. Asal Sampang, Madura. Sekarang menetap di Kota Istimewa Yogyakarta.  Bisa silaturrahmi di medsos; FB FunkyZubair Affandy, Instagram dan medsos lainya dengan nama yang sama.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Kenakalan Remaja | Eka Lesmana

Kenakalan Remaja | Eka Lesmana

Zera Permana | Kain Jajakan Sang Adityawarman Raja Penyatu Tiga Wangsa

Zera Permana | Kain Jajakan Sang Adityawarman Raja Penyatu Tiga Wangsa

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In