• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Senin, Mei 25, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Tugu Mungkui: Sebuah Bangunan Pengingat atau Kelangkaan Ikan Mungkui

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
17 November 2020
in Budaya
2k 20
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan
Poto: Marewai.com

Pesisir Selatan, Marewai– Tugu merupakan sebuah bentuk bangunan yang didirikan guna mengingat sesuatu yang memiliki nilai sejarah di daerah tersebut, tugu juga  salah satu bukti fisik untuk  mengingat peristiwa penting, untuk menghormati orang atau kelompok yang berjasa. Begitu juga dengan tugu yang ada di Balai Selasa, Kec. Ranah Pesisir, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Tugu itu disebut sebagai tugu Ikan Mungkui, diresmikan pada bulan Februari 2019 lalu. Lokasi tugu  “Mungkui” ini berdiri di pertigaan jalan antara kantor Camat Ranah Pesisir dan Polsek (Polisi Sektor) Ranah Pesisir. Tugu ini dapat dimaknai dari sudut pandang beragam; Ikan Mungkuih pernah hidup dan berkembang di Batang air Pelangai, atau mengenang kelezatan ikan Mungkuih atau mengingatkan masyarakat untuk menjaga sungai supaya ikan Mungkui tetap berkembang biak sebagai salah satu ikan khas Ranah Pesisir.

Dalam kamus bahasa Indonesia, Mungkui atau mungkus merupakan ikan air tawar pemakan lumut, memiliki cupak di atas perutnya yang memudahkannya untuk menempel di bebatuan. Ikan ini biasanya ditemukan di perairan Sumatra. Di Pesisir Selatan, sebenarnya ada beberapa daerah yang juga memiliki ikan Mungkuih di hulu sungainya. Batang air Surantih adalah salah satu batang air yang juga menghasilkan Mungkui, berada di hulu Surantih, Langgai. Karena ikan ini hanya hidup di hulu sungai. Hampir sama dengan ikan yang ada di Pelangai, Ranah Pesisir. Namun ada sedikit perbedaan antara ikan Mungkuih Surantih dan Balai Selasa: masyarakat Langgai tidak memperjual belikan ikan Mungkuinya ke pasar, dan jumlah ikan di sana tidak sebanyak di Ranah Pesisir yang tiap minggu bisa saja ditangkap oleh beberapa orang untuk dibawa ke pasar.
Sekitar medio 90an, ikan Mungkui ini bisa dengan mudah ditemui, tinggal datang ke Balai Selasa saat hari pasarnya (selasa). Dengan mudah dapat berjumpa penjual ikan Mungkuih menggunakan unjuik (disusun dengan akar atau ranting kayu, berjurai). Berbeda dengan kampung Langgai yang ada di hulu Surantih, di sana kita hanya dapat membeli ikan Mungkui kalau sedang beruntung, bertemu dengan masyarakat sepulang memancing atau memesan jauh-jauh hari. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari segi bentuk ikan, hanya saja ikan Mungkuih kampung Langgai sedikit kecil ketimbang yang ada di batang air Pelangai, Ranah Pesisir. Dari segi rasa, hampir sama; gurih dan manis. Paling enak kalau digoreng, tanpa membuang bagian kepalanya. Lamak!

Nah, tentu saja Mungkui yang ada di batang Pelangai Kaciak dan batang Pelangai Gadang, Ranah Pesisir lebih eksis dibandingkan yang ada di Langgai, Surantih. Buktinya di Ranah Pesisir ada rumah makan yang khusus menyajikan olahan masakan ikan Mungkui, sehingga masyarakat luas lebih mudah menikmati olahan masakan ikan Mungkui tanpa repot mengolahnya di rumah. Ditambah lagi sekarang sudah didirikan Tugu Ikan Mungkui, bukti bahwa di sana sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil ikan Mungkui terbaik.

Meski begitu, saat ini mencari ikan Mungkui di pasar Balai Selasa tidak semudah dulu lagi, adapun beberapa orang mengambil cara lain untuk mendapatkan ikan tersebut dengan cara memesan kepada masyarakat setempat  atau mencari langsung ke batang air Pelangai. Walau sudah ada rumah makan di sana yang menyajikan spesik ikan Mungkui, tapi tetap saja susah mendapatkan, kecuali hari Balai.

Dari seluruh kecamatan yang ada di Pesisir Selatan, Tugu Mungkui adalah satu-satunya tugu yang berdiri di ibu kota Kecamatannya, tepat di jalur utama Pesisir Selatan – Bengkulu. Menjadi suatu simbol pengingat Ranah Pesisir sebagai penghasil ikan Mungkui terbaik di Pesisir Selatan. Yang menambah nilai lebih dari tugu ini ialah, pembangunan Tugu mungkui sepenuhnya dilakukan oleh putra daerah Ranah Pesisir, yaitu Rizal MS. Seorang tokoh masyarakat setempat yang sekarang juga mendedikasikan hidupnya di Sungai Liku sebagai pengurus Sanggar Seni Rupa Anak Nagari, berkegiatan dibidang seni lukis, memberikan ruang kepada anak-anak di daerah tersebut untuk belajar. Beliau juga sebagai penggagas ide mendirikan tugu Ikan Mungkui itu, sehingga sekarang masyarakat tidak perlu cemas kehilangan mungkui. Setidaknya sudah ada ikan Mungkui gadang yang berkecipak menembus angin di pertigaan Balai Selasa, Ranah Pesisir. Aman dan keren.

Untuk pecinta kuliner lokal, olahan Mungkui ini bisa kalian temui dibeberapa rumah makan di Ranah Pesisir, Balai Selasa. Tidak jauh dari tugu Mungkui sekitar beberapa meter, tepat di sebelah kanan kalau dari Padang sebelum jembatan ada rumah makan yang biasanya menyajikan olahan ikan Mungkui (goreng Mungkui lado hijau, lado merah dan gulai Mungkui). Padiah raso!

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • The Bluff: Priyanka Chopra dan Peran Keterasingannya dalam Cerita, Dendam dan Pembalasan Masa Lalu - 27 Maret 2026
  • Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram - 5 Februari 2026
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
Tags: BudayaPelesiranPunago Rimbun

Related Posts

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

Oleh Redaksi Marewai
14 Mei 2026

Medan, 10 Mei 2026 - Kumpul IV menandai keberlanjutan sebuah ruang yang diinisiasi oleh GUA lokal, yang dalam beberapa...

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
25 April 2026

Tidak ada hukum wajib atau teori khusus yang mengharuskan sebuah komunitas teater memiliki penulis naskah tetap. Keberadaannya bukanlah sekadar...

Kesuksesan Totalitas Aktor Ku-Liek pada Festival Nan Jombang Tgl3, Menggantung Hak Intelektual Penonton dalam Dekonstruksi Nilonali | Irawan Winata

Kesuksesan Totalitas Aktor Ku-Liek pada Festival Nan Jombang Tgl3, Menggantung Hak Intelektual Penonton dalam Dekonstruksi Nilonali | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
6 April 2026

Nan Jombang Dance Company selalu memberikan kesejukan bagi jiwa seniman, menyediakan ruang agar mereka dapat terus tumbuh dan berkembang...

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Next Post
Carito: Yuang Sewai – Disangko Manggoreng Lauak | Rori Aroka Roesdji

Carito: Yuang Sewai - Disangko Manggoreng Lauak | Rori Aroka Roesdji

Punago Rimbun: Gaduang Bayang Batabua Urai | Zera Permana

Punago Rimbun: Gaduang Bayang Batabua Urai | Zera Permana

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In