• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Senin, Agustus 3, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Tugu Mungkui: Sebuah Bangunan Pengingat atau Kelangkaan Ikan Mungkui

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
17 November 2020
in Budaya
3k 30
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan
Poto: Marewai.com

Pesisir Selatan, Marewai– Tugu merupakan sebuah bentuk bangunan yang didirikan guna mengingat sesuatu yang memiliki nilai sejarah di daerah tersebut, tugu juga  salah satu bukti fisik untuk  mengingat peristiwa penting, untuk menghormati orang atau kelompok yang berjasa. Begitu juga dengan tugu yang ada di Balai Selasa, Kec. Ranah Pesisir, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Tugu itu disebut sebagai tugu Ikan Mungkui, diresmikan pada bulan Februari 2019 lalu. Lokasi tugu  “Mungkui” ini berdiri di pertigaan jalan antara kantor Camat Ranah Pesisir dan Polsek (Polisi Sektor) Ranah Pesisir. Tugu ini dapat dimaknai dari sudut pandang beragam; Ikan Mungkuih pernah hidup dan berkembang di Batang air Pelangai, atau mengenang kelezatan ikan Mungkuih atau mengingatkan masyarakat untuk menjaga sungai supaya ikan Mungkui tetap berkembang biak sebagai salah satu ikan khas Ranah Pesisir.

Dalam kamus bahasa Indonesia, Mungkui atau mungkus merupakan ikan air tawar pemakan lumut, memiliki cupak di atas perutnya yang memudahkannya untuk menempel di bebatuan. Ikan ini biasanya ditemukan di perairan Sumatra. Di Pesisir Selatan, sebenarnya ada beberapa daerah yang juga memiliki ikan Mungkuih di hulu sungainya. Batang air Surantih adalah salah satu batang air yang juga menghasilkan Mungkui, berada di hulu Surantih, Langgai. Karena ikan ini hanya hidup di hulu sungai. Hampir sama dengan ikan yang ada di Pelangai, Ranah Pesisir. Namun ada sedikit perbedaan antara ikan Mungkuih Surantih dan Balai Selasa: masyarakat Langgai tidak memperjual belikan ikan Mungkuinya ke pasar, dan jumlah ikan di sana tidak sebanyak di Ranah Pesisir yang tiap minggu bisa saja ditangkap oleh beberapa orang untuk dibawa ke pasar.
Sekitar medio 90an, ikan Mungkui ini bisa dengan mudah ditemui, tinggal datang ke Balai Selasa saat hari pasarnya (selasa). Dengan mudah dapat berjumpa penjual ikan Mungkuih menggunakan unjuik (disusun dengan akar atau ranting kayu, berjurai). Berbeda dengan kampung Langgai yang ada di hulu Surantih, di sana kita hanya dapat membeli ikan Mungkui kalau sedang beruntung, bertemu dengan masyarakat sepulang memancing atau memesan jauh-jauh hari. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari segi bentuk ikan, hanya saja ikan Mungkuih kampung Langgai sedikit kecil ketimbang yang ada di batang air Pelangai, Ranah Pesisir. Dari segi rasa, hampir sama; gurih dan manis. Paling enak kalau digoreng, tanpa membuang bagian kepalanya. Lamak!

Nah, tentu saja Mungkui yang ada di batang Pelangai Kaciak dan batang Pelangai Gadang, Ranah Pesisir lebih eksis dibandingkan yang ada di Langgai, Surantih. Buktinya di Ranah Pesisir ada rumah makan yang khusus menyajikan olahan masakan ikan Mungkui, sehingga masyarakat luas lebih mudah menikmati olahan masakan ikan Mungkui tanpa repot mengolahnya di rumah. Ditambah lagi sekarang sudah didirikan Tugu Ikan Mungkui, bukti bahwa di sana sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil ikan Mungkui terbaik.

Meski begitu, saat ini mencari ikan Mungkui di pasar Balai Selasa tidak semudah dulu lagi, adapun beberapa orang mengambil cara lain untuk mendapatkan ikan tersebut dengan cara memesan kepada masyarakat setempat  atau mencari langsung ke batang air Pelangai. Walau sudah ada rumah makan di sana yang menyajikan spesik ikan Mungkui, tapi tetap saja susah mendapatkan, kecuali hari Balai.

Dari seluruh kecamatan yang ada di Pesisir Selatan, Tugu Mungkui adalah satu-satunya tugu yang berdiri di ibu kota Kecamatannya, tepat di jalur utama Pesisir Selatan – Bengkulu. Menjadi suatu simbol pengingat Ranah Pesisir sebagai penghasil ikan Mungkui terbaik di Pesisir Selatan. Yang menambah nilai lebih dari tugu ini ialah, pembangunan Tugu mungkui sepenuhnya dilakukan oleh putra daerah Ranah Pesisir, yaitu Rizal MS. Seorang tokoh masyarakat setempat yang sekarang juga mendedikasikan hidupnya di Sungai Liku sebagai pengurus Sanggar Seni Rupa Anak Nagari, berkegiatan dibidang seni lukis, memberikan ruang kepada anak-anak di daerah tersebut untuk belajar. Beliau juga sebagai penggagas ide mendirikan tugu Ikan Mungkui itu, sehingga sekarang masyarakat tidak perlu cemas kehilangan mungkui. Setidaknya sudah ada ikan Mungkui gadang yang berkecipak menembus angin di pertigaan Balai Selasa, Ranah Pesisir. Aman dan keren.

Untuk pecinta kuliner lokal, olahan Mungkui ini bisa kalian temui dibeberapa rumah makan di Ranah Pesisir, Balai Selasa. Tidak jauh dari tugu Mungkui sekitar beberapa meter, tepat di sebelah kanan kalau dari Padang sebelum jembatan ada rumah makan yang biasanya menyajikan olahan ikan Mungkui (goreng Mungkui lado hijau, lado merah dan gulai Mungkui). Padiah raso!

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra - 26 Juni 2026
  • Cakap Film – KARA: Karakteristik Film Tamil dan Isu Terdekat Mereka - 2 Juni 2026
  • The Bluff: Priyanka Chopra dan Peran Keterasingannya dalam Cerita, Dendam dan Pembalasan Masa Lalu - 27 Maret 2026
Tags: BudayaPelesiranPunago Rimbun

Related Posts

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

Next Post
Carito: Yuang Sewai – Disangko Manggoreng Lauak | Rori Aroka Roesdji

Carito: Yuang Sewai - Disangko Manggoreng Lauak | Rori Aroka Roesdji

Punago Rimbun: Gaduang Bayang Batabua Urai | Zera Permana

Punago Rimbun: Gaduang Bayang Batabua Urai | Zera Permana

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In