• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Timbulun Punco Kayu: Pemandian Dengan Suguhan Air Jernih, Cocok Untuk Berakhir Pekan

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
23 Oktober 2020
in Pelesiran
1.3k 55
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Pesisir Selatan, Marewa– Pesisir Selatan memiliki banyak keindahan alam, baik yang sudah diketahui khlayak maupun yang belum. Namun seiring berjalannya waktu, keindahan alam tersebut yang dulu sempat terkenal itu mungkin saja tidak lagi terekspos kepermukaan atau hanya tinggal nama dan dikunjungi oleh masyarakat setempat. Disamping kendala akses menuju lokasi, banyak hal yang menjadi kelemahan potensi-potensi alam di Pesisir Selatan, salah satunya adalah sosialisasi kepada pengelolanya.

Daerah pesisir pantai ini belum benar-benar merata pengelolaan pada bagian potensi wisata alamnya secara luas, selain Wisata Mandeh Tarusan, Carocok Painan dan Bayang, memang tidak ada lagi aungan potensi alam Pesisir Selatan yang terdengar ke luar. Mungkin ada beberapa, tapi hanya terdengar samar-samar. Bila di daerah Padang sebutan tempat pemandian adalah sarasah, maka di Pesisir Selatan sebutan itu adalah Tambulun/Timbulun. Hampir di setiap kecamatan di Pesisir Selatan memiliki Timbulun tempat pemandian. Salah satunya adalah Timbulun Punco Kayu, Kec. Ranah Pesisir, Pelangai.

Poto: Marewai.com

Lokasi pemandian ini sempat terkenal pada medio 90-an sebagai tujuan wisata lokal, terkhusus masyarakat Ranah Pesisir, Balai Selasa. Tempat ini kalau dari Pasar Balai Selasa memakan waktu sekitar satu jam perjalanan menggunakan motor. Dari Balai Selasa kita menuju Limau Sundai, tepat di depan SMK Adikarya belok kanan. Akses jalan ke Timbulun tersebut masih jalan tanah, dan jalurnya lumayan terjal dengan jalur bukit-jurang. Bila hendak ke sana, usahakan sehari sebelum pergi tidak hujan, supaya tanah sirah di jalan menuju Timbulun tidak becek. Pengunjung akan merasakan lembabnya udara Punco Kayu serta nyinyir suara hewan-hewan di rimba.

Bila pengunjung hendak menikmati langsung alam Punco Kayu, pengunjung bisa juga meninggalkan motor dibawa (parkir di rumah warga), lalu berjalan menuju lokasi pemandian. Kira-kira waktu tempuh jika jalan kaki hanya satu jam. Bagusnya memang begitu agar lebih aman dalam perjalanan tanpa takut jatuh dari motor, selain itu pengunjung bisa melihat keindahan bukit-bukit yang berbaris, suara aliran air yang berdesir, sesekali tatapan simpai dari kejauhan seperti ingin menyapa tapi malu-malu. Sero!

Marewai
Poto: Marewai.com

 Air di Timbulun Punco Kayu adalah aliran air dari hulu Pelangai Gadang. Timbulun Punco Kayu ini juga dikenal sebagai Timbulun Palangai Induk oleh beberapa masyarakat. Tetapi kurangnya perbaikan jalan atau akses yang sulit, membuat lokasi ini jarang sekali dikunjungi wisatawan lokal, padahal bila diperkirakan jarak tempuh dari Pasar Balai Selasa, tempat ini lumayan dekat dari akses jalan raya. Sebagai kampung pinggiran di Kecamatan Ranah Pesisir, Punco Kayu masih butuh perhatian dari banyak sisi, terutama akses jalannya. Terlebih masyarakat masih menggunakan jalur tersebut sebagai jalur utama mereka untuk melakukan rutinitas ke ladang ataupun kegiatan sehari-hari.

Tempat ini cocok untuk semua kalangan, akses ke sana masih terbilang standar, tidak keluar masuk rimba lebat. Meski demikian, tiap perjalanan harus selalu menjaga keselamatan dan etika dalam memasuki satu wilayah. Setiap daerah memiliki aturan-aturan mereka, jangan menjadi seorang pengunjung yang datang untuk mengumpat atau takabur. Terlebih lagi jangan membuang sampah sembarangan, walau tempat yang dikunjungi tidak lagi menjadi tujuan utama pecinta alam.

Nah, bagi yang masih memikirkan akhir pekan hendak ke mana, Timbulun Punco Kayu bisa menjadi alternatif pilihan untuk menenangkan pikiran dari padatnya rutinitas. Jangan lupa membawa peralatan mandi jika ingin berendam di Timbulun Punco Kayu. Airnya yang jernih akan menggugah hasrat ingin berendam anda saat melihatnya. Karena tidak adanya tempat jual beli di sana, pengunjung jangan lupa juga membawa bekal makanan. Tetap, nasi bungkus atau makanan ringan lainnya. Edt APP

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Tags: BudayaCaritoPunago Rimbun

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
marewai.com

Cerpen: Kabul | Rian Kurniawan Harahap

Puisi-puisi Daffa Randai | 2 Pembelaan Sangkuriang

Puisi-puisi Daffa Randai | 2 Pembelaan Sangkuriang

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In