
Puto Balun Merantau
Puto Balun, anak dari Datuk Cati Bilang Pandai dengan Puti Reno Indojuita kemudian memohon diri untuk pergi merantau. Ia mula-mula pergi merantau ke Tiku Pariaman. Di Padusunan, tempat kedudukan Tuanku Raja Tua yang menjadi Raja Tiku Pariaman, Puto Balun (Buyung Balun) diterima dengan penuh penghormatan. Namun Sebelum Puto Balun pergi merantau, ia pergi ke tempat saudara perempuan ayahnya “induak bako” di Kerajaan Teluk Daya Pura, Kerajaan Kesultan Indrapura dan tinggal beberapa bulan. Selama di Kerajaan Teluk Daya Pura itu ia belajar bersama saudara-saudaranya dari kaum Malayu Kampung Dalam dengan seorang Mualim yang datang dari Palinggam Rayo (Persia).
Dalam didikan Mualim, Puto Balun diajari beberapa keilmuan, “ilmu tukang sibak uleh” ilmu pengelolaan dalam pemerintahan kerajaan, “ilmu situkang-tukang” Ilmu dalam pelayaran, dan “ilmu mamahek mato dipicingkan” ilmu diplomasi. Dasar ilmu yang tiga ini, Puto Balun oleh guru disuruh untuk merantau untuk mengunjungi setiap kampung, negeri, yang memakai barmacam hukum, kurenah, sifat, tabiat, masing-masing. Namun pada dasarnya ilmu itu semuanya dimulai dari tiga orang ninik yang mangarungi dunia yaitu; Sultan Maharaja Alif, Sultan Simahaja Dipang, Sultan Sri Maharja Diraja.
Dari Tiku Pariaman merantau ke Aceh Tiga Segi Pusat jala pumpunan ikan, oleh negeri Pulau Perca, kemudian berlayar ke Laut Besar menuju Laut Langkapuri, terus merantau ke Keling dan Gandoari, Gujarat, Teluk Raja Sutan, Ulak Tanah Basa, Negeri Hindu, kemudian ke Benua Cina yakni ke Marobasi, Bayan Karasan, Ulak Ulu Sutai, Negeri Guma, negeri Hami, negeri Kanceh, negeri Batang, negeri Icang, negeri Siantan ke Kuala negeri Cina, negeri Naning dan negeri Cina Kwantung.
Kemudian merantau ke negeri Babuyan, Bukit Mandalian, negeri Panai, negeri Lanun, negeri Ajau, negeri Ambun Jani, negeri Bugis, negeri Dayak beberapa lama tinggal di sana kemudian dilanjutkan negeri Jawa dan tinggal pula berapa lama melihat pusaka dan lembaga orang Jawa, terus belayar ke Muara negeri Tulang Bawang, negeri Bukit Siguntang Guntang, negeri Tanah Alang, negeri Kadarah, negeri Patani, dan pulau Binuang Sati. Di pulau Binuang Sati, dapat kayu terapung di lautan, lengkap dengan alat pertukangan diantaranya perpatih, pahat, beliung dan lain-lain. Kemudian dibawa ke dalam kampung Pulau Sikatang-katang yang belum bernama Pulau Sibinuang Sati. Oleh penduduk pulau itu, ia dinobatkan menjadi Penghulu dengan gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang, Puto Balun yang digelari Datuk Perpatih Nan Sabatang, di Pulau Sikatang-katang mendirikan pula kebesaran datuk-datuk yang memakai adat baris dan balabeh, senanglah hati orang-orang Pulau Sikatang-katang. Sejak itulah nama Pulau Sikatang-katang berubah nama dengan sebutan Pulau Sibinuang Sati, dari pulau ini ia kembali ke Aceh Tiga Segi, kemudian ke Tiku Pariaman. Seterusnya, ia kembali ke Pariangan, dan menjelang kakaknya yakni Datuk Maharaja Basa di Bukit Batu Basa.
=============
Sumber:
Tambo Bongka nan Piawai Salinan Emral Djamal Datuk Rajo Mudo & Buku Kitab Salasilah Raja-raja di Minangkabu Emral Djamal Datuk Rajo Mudo Dkk.
=============
- Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana - 3 September 2025
- Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2 - 2 Oktober 2024
- Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung - 26 September 2024






Discussion about this post