• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2

Zera Permana Oleh Zera Permana
6 November 2025
in Punago Rimbun
1.1k 80
0
Home Punago Rimbun
BagikanBagikanBagikanBagikan

Seri Punago Rimbun
Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan (Bagian 2)

←Punago Rimbun Sebelumnya

Maka sepakat seluruh isi alam dan negeri ketika itu, kemudian pembesar ini kembali ke Alam Surambi Sungai Pagu. Sering berjalan di daerah Bukit Sitinjau Laut, berkatalah Raja Tiga Laras Tuanku Rajo Malenggang kepada Raja Kampai Tuangku Bagindo dan Raja Panai Tuangku Batuah, apa mungkin seorang anak kecil ini yang akan memimpin kita. Terjadilah perselisihan ketika itu, oleh Pemuda Samsudin Sandeowano ketika itu berbelok dan menghindar dari perjalanan Basa yang bertiga, supaya tidak terjadi perselisihan yang parah antara mereka. Oleh Samsudin, di hiliri Bukik Pungguang Ladiang, kemudian terus ke Rantau Alam Surambi Sungai Pagu. Sampai ke daerah Ampiang Parak (Daerah Rantau Sungai Pagu). Oleh Masyarakat dan anak kemanakan di situ, Samsudin disambut dengan selayaknya menyambut seorang raja. Maka menetaplah Samsudin di daerah Ampiang Parak dan memerintah di sana. Belum berapa lama, terjadilah biso kawi di Alam Surambi Sungai Pagu; padi hampo, murai tak berkicau, kerbau tak bersuara, ayam tak berkotek”. Maka bermusyawarah kembali Basa yang bertiga tadi di Alam Surambi Sungai Pagu. Babilang Adat Jo Syarak, dibilang Pulo Salah Laku Perangai.

Menyesali dirilah Raja Tiga Laras Tuanku Rajo Malenggang. Salah cotok malantiangkan salah ambiak makumbalikan, tersesat di jalan kembali ke pangkal jalan. Untuk menyelesaikan keadaan, seorang cendikiawan, yakni Sutan Mamat mengambil inisiatif mengumpulkan para pembesar, diambil kesepakatan untuk menjemput Sultan Gombak ke Ampiang Parak. Berangkatlah utusan dipimpin Sutan Mamat dengan pengawal bernama Kali Bandaro seorang pemberani. Rombongan membawa keris dari Rajo Malenggang sebagai tanda ganti diri raja tersebut. Maka sampailah mereka di Ampiang Parak. Dipersembakanlah sebilah keris oleh Sutan Mamat, kepada Samsudin Sultan Gombak. Oleh Samsudin diterima dan berhimpunlah orang-orang di Ampiang Parak.

Untuk menghantarkan Raja Samsudin Sandeowano ke Alam Surambi Sungai Pagu, masyarakat Amping Parak (Rantau Sungai Pagu) membawa bahan makanan, dan peralatan yang terutama sekali bahan makanan “Pangek Bada Jo Gulai Kacang” untuk perjalanan raja. Sesampai di sepenggal jalan maka meninggal seorang pembesar yang menjemput, yaitu Sultan Mamat. Berkata Samsudin Sandeowano ketika itu sesampai di Sungai Pagu. Untuk mengenang jasa Sultan Mamat, Samsudin Sultan Gombak; saya akan menikahi seorang anak kamankan Sutan Mamat. Maka ditetapkan pula ketika itu barang siapa yang menjadi raja hendaknya mengambil istri dari kaum Sutan Mamat (Bundo Nan Naiek Ateh Jambangan)

Dari situlah mengakar “Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang” menjadi makanan adat. Oleh orang Sungai Pagu yang datangnya dari daerah Banda Nan Sapuluah Ampiang Parak. Selain itu, ada juga Nasi Kuning datang dari Batang Hari. Menjadi tanda atau rukun syarat adat juga di Alam Surambi Sungai Pagu. Begitu tutur yang disampai oleh Angku Marto Dt. Rajo Bagaga, seorang Penghulu Taratak Sungai Lundang. Adat Monografi Nagari Kambang serta Tulisan Marsadis Dt. Sutan Mamat dan Emral Djamal Dt. Raja Mudo seorang Budayawan Sumbar.

  • About
  • Latest Posts
Zera Permana
ikuti saya
Zera Permana
Redaksi Marewai at Media
Zera Permana
Salimbado Buah Tarok (Anggota Pusat Kajian Tradisi Salimbado Buah Tarok). Sekarang bekerja fokus di Serikat Budaya Marewai. Berasal Dari Nagari Sungai Pinang, Koto XI Tarusan Pesisir Selatan. Pengelola dan Penulis Tetap Rubrik "Punago Rimbun". Zera merupakan arsiparis muda manuskrip-manuskrip Minangkabau, selain fokus mengarsipkan manuskrip, Zera juga aktif berkegiatan dalam Alih Aksara dan Alih Bahasa. Salah satu manuskrip yang sudah terbit, "Kitab Salasilah Rajo-Rajo Minangkabau".
Zera Permana
ikuti saya
Latest posts by Zera Permana (see all)
  • Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana - 3 September 2025
  • Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2 - 2 Oktober 2024
  • Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung - 26 September 2024
Tags: BudayaPunago RimbunSastra

Related Posts

Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana

Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana

Oleh Zera Permana
6 November 2025

Burek Tunggang Ka Karajaan Indopuro Lunang Bapucuak Bulek Di Minangkabau Pagaruyuang Bajulai si aka jambai, di Tepian Sungai Muara...

Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung

Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung

Oleh Zera Permana
26 September 2024

Suatu waktu terjadi peristiwa di Alam Surambi Sungai Pagu, tiga orang pembesar; Raja Kampai Tuangku Bagindo, Raja Panai Tuangku...

Punago Rimbun: Hilangnya Keris Kesaktian Bunga Kesayangan | Zera Permana

Punago Rimbun: Hilangnya Keris Kesaktian Bunga Kesayangan | Zera Permana

Oleh Zera Permana
21 September 2024

Sumatra yang lebih dikenal dalam bahasa tradisi Pulau Perca, ujungnya Negeri Aceh pangkal hingga Lampung. Orang yang mendiami Pulau...

Kembalinya  Dt. Perpatih Nan Sebatang Menemui Dt. Katumanggungan dalam Sejarah Tambo Bongka Nan Piawai: Zera Permana

Bagian #1 Datuk Perpatih Nan Sabatang: Menyamar Mengkritisi Undang-undang di Pariangan, dalam Sejarah Tambo Bongka Nan Piawai | Zera Permana

Oleh Zera Permana
11 Februari 2024

Anjing Kumbang Datuk Perpatih Nan Sebatang menyamar dengan merubah penampilannya seperti orang tua ketika datang ke Pariangan, beliau juga...

Next Post
Esai: Syekh Siti Jenar dan Pembangkangan atas Keseragaman | Fatah Anshori

Esai: Syekh Siti Jenar dan Pembangkangan atas Keseragaman | Fatah Anshori

Enam Puluh (60) Guru PAUD, TK, SD dan TBM se-Pasaman Barat Ikuti Workshop Mendongeng dan Menulis Cerita Anak

Enam Puluh (60) Guru PAUD, TK, SD dan TBM se-Pasaman Barat Ikuti Workshop Mendongeng dan Menulis Cerita Anak

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In