• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Rabu, Agustus 12, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Ruang Kreativitas: Perspektif Made Bayak Menyulap Sampah Plastik | Muhamad Irfan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
21 Desember 2022
in Berita Seni Budaya
2.2k 45
0
Home Budaya Berita Seni Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Inspirasi Made Bayak dalam pemanfaatan sampah-sampah plastik didorong dari pengalaman-pengalaman hidupnya semasa kecil yang bermain di alam, selepas main bisa langsung minum di sungai, namun hal itu tidak ditemukan lagi di masa sekarang.
“Orang mulai buang sampah mandi langsung buang saset sampo di sungai,” pungkasnya.
Made Bayak mengatakan, saat menempuh pendidikan SMA, perkembangan tersebut semakin pesat, sampah-sampah semakin bertumpuk di aliran sungai, keasrian yang dirasakan semasa kecil tersebut sudah tidak dijumpainya lagi.

“Padahal kita hidup itu sangat memerlukan air, tapi dikotori juga air itu,” tambahnya.

Hal itulah yang memotivasi seniman rupa Made Bayak yang sudah malang melintang di dunia seni lukis. Keresahan sebagai faktor pendorong Bayak untuk memanfaatkan sampah plastik menjadi sebuah karya. Sebagai seorang seniman pemanfaatan sampah plastik tersebut sekaligus untuk mengurangi pencemaran lingkungan.

Selain pemanfaatan sampah plastik, Made Bayak juga memanfaatkan sampah-sampah sandal yang disulap menjadi sebuah karya yang bernilai estetik dan memiliki nilai jual. Ide dasar Bayak dalam memanfaatkan sampah sandal menjadi sebuah karya, karena sampah sandal tak ada tempat menjual dan tak ada yang ingin membelinya.

“Sandal itu ndak ada yang mau ngumpulin sampah sandal, karena ndak ada yang mau beli perkiloan atau apa ndak ada yang mau beli,” jelas Bayak”
Hal itulah yang dilihat oleh Made Bayak–potensi yang terdapat dari sampah sandal. Bayak menyulapnya menjadi ikan paus berbalutkan sandal, sebuah karya seni yang bernilai estetik dan memiliki nilai jual yang tinggi. Persoalan nilai jual bukan dilihat dari segi bahannya dari sampah, namun proses mendapatkan ide tersebut butuh tahap-tahap “seni” yang dilalui Bayak meliputi, ilmu pengetahuan, pengalaman, berpikir kritis, riset, serta menonjolkan kreativitas.

Made Bayak juga mengedukasi masyarakat dalam bentuk kemasan workshop. Dalam workshop tersebut, ia menerangkan tentang bahaya dan ancaman sampah-sampah plastik bagi lingkungan dan alam, serta cara memanfaatkan sampah-sampah plastik yang tak layak pakai menjadi sebuah karya yang tersemat nilai estetis dan memiliki nilai jual di dalamnya. Adapun workshop tersebut sudah direalisasikan Bayak di berbagai daerah dan tempat baik lokal, nasional, maupun internasional.
“Melantangkan suara tentang kepedulian terhadap lingkungan, bentuknya bisa macam-macam, kalau saya sebagai seniman membuat karya, berpameran, dan mengikuti event-event,” ujarnya.

Bayak menambahkan perihal kesadaran peduli lingkungan, “api-api kecil ini kan sudah menyala di banyak tempat, jadi menunggu api kecil ini bersatu menjadi api besar dan semoga itu menjadi kesadaran yang baik terhadap lingkungan, terhadap alam.” tambahnya.
“Sebelum kita ada pilihan lain untuk hidup di bumi ini, ya harus dijaga. Kita tu ndak ada pilihan lain lagi selain di bumi ini.” pungkasnya.

Menjawab Kreativitas dan Menenggelamkan Keakuan


Minimnya kualitas seni dalam diri membuat sebagian masyarakat menjadi kaum minoritas terhadap apresiasi. Kerja kreatif, apalagi berbahan baku sampah, dinilai sebagai pemulung atau penganggur yang tak memiliki usaha untuk bekerja. Masyarakat yang berpikiran primitif tersebut biasanya menganggap bekerja itu menggunakan otot saja, toh hakikatnya manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki otak dan pikiran. Pekerja seni atau jalan pikir seorang seniman termasuk jalan pikiran yang misterius, karena dimetaforakan hanya mereka yang tahu dengan Sang Pencipta.

Kebebasan berekspresi menjadikan seorang seniman sebagai sosok yang tak mengenal kata bungkam. Semakin dibungkam, pikiran-pikiran tajam mereka akan semakin meruncing menghadapi segala persoalan yang diaplikasikan ke dalam bentuk karya. Nilai kritik yang disematkan di dalam karya mereka dengan penafsiran yang berdasar dari penyematan sesuatu dalam bentuk semiotik. Semakin tersakiti seniman, baik jiwa dan hati dan pikirannya, maka karya-karya akan bermunculan dari mereka. Mengimplementasikan ekspresi melalui jiwa, pikiran, dan hati dengan berbagai polemik kehidupan.

Minimnya tingkat apresiasi dari masyarakat dan pemerintah tak akan menjadikan pasang surut bagi seniman. Di mata para seniman, lebih baik mengungkap kebenaran, daripada dibungkam atas dasar suapan. Kerja kreatif seperti Made Bayak, patut diapresiasi oleh pemerintah, seperti memfasilitasi atau memberikan hibah kelola seni, tanpa menunggangi dengan keperluan-keperluan tertentu semacam pencitraan dan terkait politik. Hal itu tentu bukan hanya untuk Made Bayak, karena masih banyak seniman-seniman lainnya yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dengan kerja kreatifnya, karena semakin berkembangnya zaman, tingkat apresiasi semakin berkurang. Bercermin kepada salah satu novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, tokoh Zainudin yang dikisahkan sebagai penulis termasyhur dengan hidup yang layak dan fasilitas yang mumpuni tak pernah ada dalam kenyataan. Alhasil kekayaan hanya diraup oleh pemerintah yang memonopoli dunia, bekerja dengan pikiran yang dililit akar saku di sebatang tubuhnya, tanpa memikirkan rakyat yang telah mengharumkan nama Indonesia, karena salah seorang seniman lukis terkemuka di Indonesia Yan Suryana mengatakan, “Lagu kita masih sama, Indonesia Raya.”


Penulis: Muhamad Irfan lahir di Pariaman, 26 September 1995. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Andalas. Aktif menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisan tersebar di berbagai media cetak dan online. Bergiat di Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM), Labor Penulisan Kreatif (LPK), Lab. Pauh9, dan Burak Tour Literasi. Senang bertingkah bodoh dan anti orang-orang sok tahu yang belum mengecap sebuah proses, apalagi meng-aku-kan (melabeli) diri yang padahal masih kecebong hanyut.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata - 4 Agustus 2026
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
Page 2 of 2
Prev12
Tags: Berita seni dan budayaBudayaEsai

Related Posts

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
4 Agustus 2026

"Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA" di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.Oleh: Irawan...

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Next Post

Jalan Buntu Otonom dan Ekonom | Chalvin Pratama Putra

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In