• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pesisir Selatan: Masyarakat Pesisiran yang Bergantung Hasil Laut

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
23 November 2020
in Budaya
1.4k 14
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan
Poto: Marewai.com

Pesisir Selatan, Marewai– Sebagai daerah yang berada dekat dengan pantai, tak heran lagi bila masyarakatnya Pesisir Selatan banyak berprofesi sebagai nelayan. Dibeberapa muara/pelabuhan di Pesisir Selatan, masyarakat pada umumnya berprofesi sebagai nelayan, ada yang Memukat, Meneri (Teri) dan lainnya. Beberapa nelayan di Pesisir Selatan banyak memakai bagan harian.  Bagan harian merupakan bagan yang hanya pergi ke laut dalam jangka waktu singkat. Berbeda dengan bagan yang memang pulang berminggu-minggu. Bagan ini lumayan menghasilkan, jika mendapatkan 10 baskom ikan dalam sekali derek, maka hitungan uangnya adalah 500 ribu rupiah. Sekali melaut itu mereka bisa menderek 3-4 kali.

Jika sekali derek mereka bisa mendapatkan 500 ribu rupiah, maka 4 kali derek sudah Berpenghasilan 2 juta rupiah dan para awak yang terdiri dari 8-13 orang bisa mendapatkan upah 60 ribu rupiah, ditambah lagi ikan tangkapan untuk dibawa pulang. Itu jika cuaca sedang bagus dan mendapat rejeki.

Seorang awak bagan mengatakan, biasanya sekali pergi melaut bisa menghabiskan 2 jerigen minyak untuk mesin kapal. Harga satu jerigen kurang lebih 200 ribu rupiah. Ditambah bekal makan ketika melaut hanya menghabiskan 100 ribu paling banyak. Kalau dijumlahkan dengan pendapatan tadi, mereka sudah mendapat uang 1.5 juta dan itulah yang akan dibagi nantinya sebagai upah awak bagan. Namun jika rejeki sedang benar-benar bagus, nelayan bisa mendapatkan upah lebih, jika sedang buruk, pernah tak membawa apa-apa pulang.

Nah, situasi ini juga kadangkala diperparah dengan adanya kapal luar yang masuk ke wilayah melaut nelayan Pesisir Selatan dengan memakai Pukat harimau, lengkap dengan alat-alat canggih yang mereka miliki untuk mendapat ikan lebih banyak. Tentu saja berpengaruh kepada nelayan lokal, terlebih lagi alat mereka gunakan terbilang biasa yang masih mengandalkan tenaga manusia. Permasalahan ini memang tidak separah beberapa tahun lalu, karena pemerintah sudah memberlakukan tanda pengenal –semacam surat kapal penangkap ikan yang berbadan hukum. Bila dilihat secara langsung, di Pesisir Selatan, Surantih merupakan daerah yang paling banyak masyarakat berprofesi sebagai nelayan. Bisa dilihat saat hari tarang (sebutan untuk hari nelayan tak melaut) menumpuk kapal-kapan nelayan di pelabuhan Penyebrangan (jembatan Penyebrangan) sebelum Pasar Surantih.

Beberapa hari terakhir, cuaca tidak menentu, sebagian nelayan memilih memarkir kapalnya di muara demi menghindari cuaca ekstrim di tengah laut. Selain kapal bagan, beberapa kapal yang digunakan nelayan untuk melaut adalah kapal Payang, Tongkang dan Bagan. Bagan sendiri artinya adalah sebuah tempat menangkap ikan yang berada di cadik kapal, menggunakan lampu untuk menarik perhatian ikan.

Untuk sementara beberapa nelayan belum pergi melaut, karena masih menunggu cuaca bagus. Hampir di seluruh kecamatan di Pesisir Selatan mengalami hal serupa.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Tags: CaritoPunago RimbunSastra

Related Posts

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

Oleh Redaksi Marewai
27 Desember 2025

Banjir bandang (galodo) yang terjadi di tiga provinsi pada November lalu menyisakan luka menganga bagi banyak orang, kehilangan keluarga,...

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

Oleh Redaksi Marewai
24 Desember 2025

Ia duduk seharian di salon kecantikan. Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin. Menyusuri langit putih biru jingga dan...

Next Post
Pawang Hujan: Sebuah Kebiasaan yang Berangkat Dari Kepercayaan dan Tradisi

Pawang Hujan: Sebuah Kebiasaan yang Berangkat Dari Kepercayaan dan Tradisi

Yuang Sewai: Jan Lansuang Dilulur | Rori Aroka Roesdji

Yuang Sewai: Jan Lansuang Dilulur | Rori Aroka Roesdji

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In