Dalam lagu ini dapat didengarkan vokal paduan suara yang saling bersahutan, yang kesemuanya merupakan vokal dari Lyra Pramuk, yang direkam dan diolah kembali dalam lebih dari 40 file audio berbeda, dan kemudian disatukan bersama komposisi bunyi dari alat-alat musik tradisional yang telah direkam dan diolah secara digital oleh Rani Jambak.
Adapun bunyi instrumen tradisional Sumatera yang dimainkan dalam lagu ini, antara lain adalah alat musik tiup sampelong dari Sumatera Barat, dan batu talempong, yaitu batu yang bila dipukul menimbulkan bunyi nada seperti halnya gamelan kuningan. Suara sampling Batu talempong ini direkam oleh Rani di Nagari (desa) Talang Anau, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Batu talempong sendiri merupakan warisan nenek moyang telah terdaftar sebagai salah satu situs cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau, dengan nomor inventaris: 18/BCB-TB/A/10/2007.
Kolaborasi ini terasa seperti hutan yang hidup. “Kami ingin membuat karya musik yang mencerminkan hati kami, yang dapat menunjukkan harapan besar kami terhadap lingkungan dan dedikasi kami terhadap dunia yang sedang dilanda pandemi,” kata Rani.

Hari ini mereka juga merilis video musik untuk lagu mereka yang menyoroti pemandangan alam yang menakjubkan dan kehidupan liar yang ada di ekosistem Leuser, yaitu hutan hujan tropis seluas 2,6 juta hektar di provinsi Aceh dan Sumatera Utara, Indonesia. Ekosistem Leuser adalah rumah bagi orangutan Sumatera, spesies yang terancam punah yang memainkan peran penting dalam ekosistem hutan hujan tropis.
Adapun pernyataan dari Pusat Pendidikan Lingkungan Bohorok adalah sebagai berikut:
“Pendidikan dan kegiatan lingkungan hdiup penting bagi masyarakat saat ini. Kehidupan global yang dinamis dan perkembangan teknologi yang pesat terus mengancam lingkungan yang semakin tidak terkendali akibat aktivitas yang dilakukan oleh manusia sendiri, kerusakan alam, penggundulan hutan, perburuan hewan, kerusakan ekosistem laut akibat penumpukan sampah, dan lain-lain yang telah terjadi tepat di depan mata kita.
Musik kolaboratif antarbenua karya Rani Jambak & Lyra Pramuk ini menjadi tanda dan pengingat yang kuat bagi seluruh manusia di bumi yang harus bertekad bersama untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan akibat pemanasan global yang berkelanjutan.

Di momen peringatan Hari Bumi 2021, kita masih dihadapkan pada pandemi COVID-19 yang hampir mengubah tatanan kehidupan manusia. Tema Pulihkan Bumi Kita adalah ajakan kepada semua orang di Bumi untuk lebih bijak dalam mengambil segala tindakan yang berkaitan dengan alam dan lingkungan. Bersama-sama, kita dapat mencegah bencana perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Bersama-sama, kita bisa memulihkan Bumi kita.
Salah satu cara untuk berpartisipasi dalam gerakan ini adalah dengan memberikan dukungan bagi aksi penyelamatan bumi yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mendukung karya musik serta berdonasi untuk kegiatan penyelamatan hutan dan penyadaran masyarakat. Sebagai media untuk mendorong agar perilaku dan sikap masyarakat dapat lebih peduli terhadap lingkungan kita, dan membangun kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, sehingga dapat menjadi agenda pribadi dan bisa berkelanjutan.”






Discussion about this post