
Pada sebuah kandang sapi yang terletak di tengah-tengah hamparan sawah yang dikelilingi buah durian yang seolah-olah akan sengaja jatuh menimpa kepala saya saat berjalan di bawah batangnya, saya bertemu Pak Menan pagi ini. Pak Menan baru keluar dari rimba yang tidak terlalu jauh dari kandang sapinya dengan membopong kira-kira 10 batang bambu setinggi pinggang yang berisi air nira penuh hingga mengguncang keluar.
“Saya rasa hari ini lebih mujur dari biasanya,” Pak Menan bersyukur sekaligus menyelipkan keluhan dalam nada bicaranya.
Barangkali keluhan yang tak tersampaikan disebabkan oleh hasil nira yang kadang tak menentu dan tak bisa diterka. “Ya begitulah. Kalau dapat hari baik, air nira juga dapat banyak, seperti sekarang ini. Kalau tidak tetap disyukuri. Mau bagaimana lagi.”
Saya mengalihkan pembicaraan seakan tidak peduli dengan perasaian pengrajin aren ini dengan menanyakan bagaimana cara beliau menampung air nira tersebut.
“Bambu-bambu ini diikatkan pada batang nira. Kemudian kita tinggal menunggu terisi oleh tetesan-tetasan air nira itu”.
Sebenarnya saya tidak terlalu puas dengan jawaban beliau yang terkesan seadanya. Saya kembali bertanya seolah sedang mengintrogasi dengan pertanyaan yang bertubi. Saya menanyakan kapan saja beliau memasang bambu-bambu untuk menampung air nira.
“Saya meninggalkan bambu itu di pohon nira pada pagi dan sore hari. Air nira yang saya jemput pagi ini adalah air nira yang telah saya tampung sore hari. Sedangkan air yang saya jemput sore hari adalah air nira yang yang telah saya tampung pagi hari. Begitu trip-nya setiap hari.”
Butuh sepersekian menit untuk memahami penjelasan Pak Menan ini. Di tengah kebingunan saya, Pak Menan lanjut berbicara. “Air nira yang saya ambil pagi, akan dimasak siangnya. Sedangkan air nira yang diambil sore, disimpan dulu hingga pagi dan baru dimasak pada siang hari bersamaan dengan dengan air nira yang telah saya ambil dipagi itu.” Walaupun masih agak membingungkan, saya dapat memahaminya dengan pelan.
Pak Menan kemudian menyandarkan batang-batang bambu yang berisi air nira itu pada papan tempat sapinya menyudu rumput. Saya begitu mengamati batang bambu tersebut dengan pertanyaan yang mengganjal dalam kepala, bagaimana bisa bambu-bambu ini terisi air nira hingga penuh sedang yang ditampung hanya tetesan demi tetesan?
Tanpa saya sadari, Pak Menan telah hilang begitu saja seperti lenyap dihembus angin. Tak lama berselang beliau datang dengan membopong beberapa balok kayu besar—barangkali pohon jati yang telah mati—di pundaknya. “ini kayu bakar untuk memasak air nira nanti”. Ucap beliau sambil menyorongkan umpan api tersebut ke tungku anglo yang jaraknya sedepa dari moncong sapi.
“Lah pak, ini ada kayu bakar,” saya menunjuk batang getah dan ranting-ranting di sekitar ‘dapur’ Pak Menan.
“Memasak nira tidak bisa menggunakan kayu yang asal saja. kayu yang bagus menghasilkan gula saka yang bagus pula”. Kata yang terdengar seperti kutipan motivator tersebut beliau ucapkan sambil menyalakan api di tungku anglo yang telah ada kuali besar di permukaannya.
Satu persatu batang bambu yang berisi nira mulai dituangkan. Kuali besar yang mampu menampung 15 hingga 20 liter air nira tersebut terisi penuh.
Tepat setelah air nira tergenang di kuali panas, istri beliau datang membawakan 3 piring plastik dan semangkok tupperware berisi ketan. Kemudian mengambil sejerat durian dari balik kandang sapi. Istri Pak Menan menghidangkan lalu bilang “makanlah!”. Pak Menan yang sesak oleh asap di ‘dapurnya’, meninggalkan air nira yang sedang menggelegak untuk membersamai saya dan istrinya.
Kenapa suami-istri ini begitu baik seolah-seolah semua hal ingin diberikan padahal saya baru kenal dengan beliau apalagi dengan istrinya. Hal itu dilakukan dengan tulus dan ikhlas walaupun saya baru pertama kali ke sana— itupun dengan tujuan melaksanakan program kerja KKN belaka. Pertanyaan itu menggantung dalam kepala tapi tak berani saya tanyakan langsung.
Seakan-akan bisa membaca pikiran saya, Pak Menan berbicara sambil menuntaskan ketan dan durian di piringnya.
“kerja sebagai pembuat gula saka ini gampang-sulit. Terlepas dari proses pembuatannya yang lama, kami juga ada pantangannya. Kami tidak boleh mengambil air nira jika sedang berseteru dengan istri. Kami juga tidak boleh mengambil nira jika hati sedang kusam. Selain itu, apabila ada orang yang ingin menghendaki (meminta) air nira, kami tidak boleh menjualnya dan harus memberinya dengan takaran seikhlasnya tanpa menerima serupiahpun. Juga tidak boleh menggeser kayu bakar pakai kaki. Itu baru beberapa. Sebenarnya dan masih banyak lagi. Jika pantangan itu dilanggar, air nira yang kami dapat pasti lebih sedikit dari biasanya. Sebaliknya, jika kami sering berbuat baik dan mengerjakannya dengan perasaan yang cerah, air nira yang didapat juga berlimpah. Satu lagi, bila air nira kami dicuri atau diambil, batang nira tersebut malahan meneteskan air nira yang banyak.”
Pak Menan terdiam sejenak kemudian melanjutkan. “kami mempercayai semua hal itu”
Saya hanya tercengang dan sesekali bilang ‘o’ yang panjang karena mengetahui magis dari nira yang diyakini oleh para pengrajin gula saka di Ampek Koto Palembayan ini.
Demi membunuh diam di antara kami, saya kemudian segera bertanya dengan menunjuk batang-batang nira di rimba tempat Pak Menan keluar saat awal bertemu dengan beliau tadi.
“Itu semua punya bapak?” saya memonyongkan mulut ke batang-batang nira yang tampak dari tempat kami makan.
“Batang nira di sini tumbuh dari cirik luwak. Kami tak pernah menanamnya. Tapi, kami sesama pengrajin gula saka sudah tau mana batas wilayah batang nira yang bisa kami tampung airnya. Misalnya wilayah saya dari situ ke situ” Pak Menan menunjuk sisi rimba ke sisi lainnya. “di sebelahnya atau di sebaliknya itu sudah beda lagi yang mengambil air niranya. Hal itu memang tak tertulis tapi kami sudah sama-sama mengerti.”
Kata Pak Menan tersebut sekaligus mengakhiri makan bersama kami dan masing-masing dari kami mencari genangan air untuk mencuci tangan.
Setelah itu, Pak menan dan istrinya mulai mengaduk air nira yang mulai kental serupa mengaduk gelamai. Melihat kerja sama suami-istri ini mengingatkan saya pada Walter White dan Jessy Pinkman yang sedang memasak methapetamin dalam sebuah bus tua di film Breaking Bad. Bedanya, jika meth yang telah matang (mengeras), ditumbuk menjadi bubuk atau dipecah menjadi serpihan kasar serupa kristal, sedangkan air nira yang telah mengental, dituang ke potongan bambu setinggi ampu tangan kemudian membiarkannya mengeras. Jika meth berwarna putih, gula saka Pak Menan berwarna merah agak terang (berbeda dengan gula saka pada umumnya yang agak berwarna hitam). Dan tentu saja gula saka bukanlah narkoba seperti meth walaupun gula saka Pak Menan juga membuat ketagihan.
Saat matahari mulai berangsur ke barat, tepat Setelah semua proses pembuatan gula saka dari air nira selesai, Pak Menan mengatakan “sebentar lagi saya akan kembali mengambil air nira”. Saya langsung paham dan tau apa yang selanjutnya harus saya lakukan.
Saya minta pamit dan mengucapkan terima kasih pada Pak Menan dan Istrinya. Sebelum pulang saya dihadiahi sejerat durian dari istri Pak Menan,. Pak Menan sendiri memberi 3 bungkah gula saka yang baru jadi untuk saya bawa pulang ke posko. Kebaikan-kebaikan dari pengrajin gula saka ini tak berhingga, walaupun saya tidak membantu apapun, walaupun saya baru pertama kali bertemu dan entah kapan akan kembali lagi ke situ.
Dandri Hendika, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Bergiat di UKMF Labor Penulisan Kreatif. Menulis Puisi, cerpen, dan Esai. Puisi-puisinya dapat dibaca di media seperti Tempo.co, Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, Marewai.com dan lain-lain. Puisinya juga tergabung dalam “Distopia” (Antologi Pemenang Sayembara puisi Payakumbuh Poetry Festival 2023).






Discussion about this post