• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pelesiran: Mitologi Anjing Dewa dan Masa Silam yang Nyaris Hilang di Gunung Pangilun | Arif Purnama Putra

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
1 September 2023
in Pelesiran
1.5k 15
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan
Gambar: jenis terkam (teril kampung-peranakan teril dan anjing Gunung Pangilun)

Gunung Pangilun merupakan salah satu kelurahan Gunung Pangilun di Kecamatan Padang Utara, Padang, Sumatera Barat. Daerah yang telah menjadi salah pusat keramaian di kota Padang, di daerah ini paling tidak terdapat lebih dari satu perguruan tinggi, sebut saja Universitas Bung Hatta dan Universitas PGRI Sumatra Barat. Belum lagi sekolah-sekolah bersasis kesehatan. Selain menjadi salah satu kawasan padat, di daerah ini juga terdapat sebuah Bungker, yang dikenal dengan Bungker Jepang Gunung Pangilun atau Lubang Jepang Gunung Pangilun. Peninggalan tersebut adalah salah satu wilayah rtahanan Jepang ketika menjajah Indonesia yang berada di kota Padang, Sumatera Barat pada era Perang Dunia II, khususnya sekitar tahun 1942-1945. Bangunan pertahanan Jepang ini berada di kawasan perbukitan Gunung Pangilun. Kondisi areanya yang berada di atas bukit merupakan kondisi yang sangat cocok untuk pertahanan dan mengawasi kawasan penduduk yang berada di bawahnya pada saat itu. Selain itu di puncak bukit dapat mengamati pesisir pantai barat Padang dan kota Padang secara menyeluruh. Kawasan pertahanan Jepang di Gunung Pangilun ini memiliki dua bungker dan empat terowongan. Secara historis, Gunung Pangilun mempunyai banyak kisah di masa lampau, bahkan sampai saat ini masih hidup dikalangan masyarakat. Terlebih masyarakat tradisonal.

Mitologi Anjing Gunung Pangilun
Salah satu legenda yang masih hidup sampai saat ini di kalangan masyarakat, terutama kalangan pemburu babi adalah mitos Anjing Gunung Pangilun yang dipercayai sebagai siluman, sebagian juga menyebut dewa anjing. Cerita ini cukup tersohor dikalangan pemburu babi di Sumatra Barat. Sampai ada pameo, “apapun jenis kelamin dan rupanya, jika itu anjing gunung pangilun, rawatlah, maka kelak ia akan balas budi.” Balas budi biasanya disematkan kepada anjing-anjing buruk rupa dan tidak meyakinkan dari segi postur atau anjing liar yang dipungut, guna berburu babi. Ekstrimnya, asal anjing gunung pangilun asli, maka ada bandrol khusus. Jika tadi balas guna, ada juga pemburu menyebutkan mengapa anjing gunung pangilun sangat lihai dalam berburu. Selain balas budi, anjing dari daerah gunung pangilun dipercayai lebih tahan berburu dalam hutan ketimbang anjing pada umumnya. Ini menjadi salah satu mitos yang menegaskan bahwa anjing gunung pangilun berasal dari maklum gaib yang hanya turun saat bulan penuh (purnama) untuk kawin. Itu menjadi faktor ketahanan anjing itu di dalam rimba berbeda dengan anjing pada umumnya. Keberadaan anjing  (masyarakat menyebut sejenis srigala) ini pun terbilang langka, bagaimana tidak, ia bisa terlihat dari kejauhan, tetapi sama sekali tidak bisa didekati. Begitu masyarakat memercayainya.

Menentukan jenis anjing asli Gunung Pangilun sangat mudah, kriteria ini juga beredar serupa dikalangan pemburu babi; ramping, moncong panjang (seperti jenis ras Teril) tapi lebih ramping, tapak tebal, dan berprilaku kalem: tidak sering menyalak. Makanya sebagian pemburu juga tidak menyukai anjing gunung pangilun, karena saat bertemu babi di hutan tidak menyalak. Lalu, anjing ini juga tidak tahan kalau dibawa marenten (berburu dengan gaya kejaran jalur pematang sawah, biasanya memakai anjing-anjing ras, karena lebih tahan kejaran jauh). Anjing Gunung Pangilun kebanyakan dipakai untuk bagian dalam, atau untuk tim pencari. Jenis anjing ini hanya mengandalkan ketahanan berada dalam hutan, bukan kekuatan melawan babi. Ia bisa mengubak hutan dari pagi sampai sore. Tentu saja hanya dengan lari-lari pelan, tapi insting berburunya amat kuat. Salak anjing ini jika bertemu celeng sangat lemah, namun melengking. Itu sebabnya, sebagian pemburu mengawaninta dengan anjing lain yang punya salak kuat, agar ketika bertemu jejak babi, dialah yang memberitahu lebih jelas. Tersebab jarak antara rombongan pemburu (bagian eksekusi) dan rombongan anjing pencari kadang amat jauh. Mitos ini sampai sekarang masih beredar dikalangan pemburu babi, jadi tak heran pula di wilayah Gunung Pangilun kerap tersiar kabar masyarakat kehilangan Anjing atau para “pembawa tali panjang” berkeliaran tengah malam.

  • Sebuah gambar tua dengan pensil tentang Don Quixote dan Sancho Panza yang duduk di atas kuda mereka, oleh Wilhelm Marstrand.
potret Gunung Pangilun di malam hari

Secara folklor, nama Gunung Pangilun berasal dari nama seorang Angku Pangilun yang tinggal di lereng perbukitan bersama beberapa anjing peliharaanya. Angku Pangilun adalah orang tua yang cukup dihormati dan disegani di kalangan masyarakat karena memiliki keahlian yang diluar nalar manusia normal. Kesaktian Angku Pangilun tidak hanya tersohor di daerah tempat beliau tinggal saja, tetapi juga tersebar di banyak daerah Minangkabau, sebab beliau juga melakukan praktik pengobatan. Banyak juga masyarakat sekitar dan  daerah lain berguru kepadanya atau sekedar meminta pertolongan kesembuhan.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Page 1 of 2
12Next
Tags: BudayaMarewaiPelesiranSejarah

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post

Puisi-puisi Burhanuddin Jamal | Tik Tok

Puisi-puisi Winarni Dwi Lestari | Menimang Bayi

Puisi-puisi Winarni Dwi Lestari | Menimang Bayi

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In