• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Padang Kabau: Menunggu Terik Pagi dari Keindahan Alam Langgai

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
30 Desember 2020
in Pelesiran
1.3k 13
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan
Poto: Marewai, Padang Kabau Pagi Hari

Langgai, Marewai– Langgai merupakan satu pemukiman penduduk di Surantih, Kec. Sutera, Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Kampung ini masuk dalam Kenagarian Gantiang Mudiak Utara. Sebagai kampung paling hulu di Surantih, Langgai banyak dikenal masyarakat luar dengan mitos dan keilmuannya. Tapi belum bisa dipastikan siapapun: cerita orang-orang kah yang mitos, atau memang keadaan kampung tersebut.

Rabu tanggal 25 Desember 2020 kami mendatangi kampung Langgai dengan macam keinginan, salah satunya bermalam di bukit Padang Kabau. Sebuah bukit yang berada tidak jauh dari pemukiman warga, bukit yang berdampingan dengan sebuah danau itu menjadi satu tanda tanya bagi kami, karena aliran air hulu Langgai berada di bawah bukit tersebut. Sebelumnya kami bertandang ke sana hanya menyempatkan untuk berziarah ke makam ulama-ulama besar Langgai.

Poto: hamparan sawah di atas bukit

Betapa ajaran agama berkembang pesat saat itu di sana, melahirkan banyak orang-orang santiang kala itu. Dan ternyata tradisi demikian masih mengakar di masyarakat Langgai sampai sekarang, umumnya anak-anak di Langgai setelah tamat Sekolah Dasar akan dikirim ke pesantren. Memang pada kebanyakan mereka bersekolah di Pesantren seputaran Sumatra Barat, seperti di Pariaman, Bukit Tinggi, Padangpanjang dan lainnya. Tak ayal juga menghasilkan orang-orang yang “tau agamo”  pendakwa-pendakwa hebat dan tersohor.

Banyak sejarah-sejarah penting disaksikan Langgai pada masa lampau, keakuan yang dipendam Langgai diam-diam. Menjadi saksi dari banyak zaman. Tapi kali ini kita tidak sedang membahas itu, mari kita rehat sejenak dengan keelokan alam Langgai yang begitu indah. Oh, Padang Kabau.

Poto: Marewai

Satu hal yang menarik dari beberapa kali perjalanan ke Langgai, yaitu masyarakatnya yang ramah, “raso pulang karumah dunsanak kontan”. Itu barangkali kalimat yang tepat bagi kami berkunjung ke sana, tak ada sekalipun singgah di rumah warga tak mendapatkan nasi, apalagi air. Kebaikan masyarakat setempat bukan sekedar pameo saja, memang jauh cerita beredar dari apa yang didapat di sana. Tapi tentu saja semua hal demikian didapatkan tergantung niat kedatangan masing-masing.

Sesampai di Langgai, kami sempatkan bertemu dengan kawan-kawan di sana, pun tak lupa pula bertamu ke rumah tokoh-tokoh masyarakat setempat. Kali ini kami bertamu ke rumah Angku Bujang Salamat, salah satu garis keturunan ulama yang ada di Langgai, selain ke rumah Pak Wali Nagari dan karib Sabihis dan Deky.

Dari rumah beliau kami mendapatkan banyak cerita tentang ulama-ulama Langgai yang tersohor pada masanya. Cerita legenda dan perubahan cara pandang masyarakat setempat mengenai kampungnya, “anak-anak sekarang patut mengetahui tentang masa lalu moyangnya.” begitu keinginan beliau saat kami tanya soal perkembangan kampung Langgai dari masa ke masa. Selain itu, beliau juga menceritakan legenda-legenda di sana, salah satunya Bukit Padang Kabau, dimana bukit tersebut bersebelahan dengan satu danau yang lumayan panjang, tentu saja beserta cerita-cerita yang pernah bermukim di sana.

Poto: Marewai

Selesai salat magrib, kami berkemas hendak menuju bukit Padang Kabau. Ya, lantaran bukit tersebut tidak terlalu jauh, kami bisa berangkat kapan saja. Jarak tempuh hanya sekitar 30 menit dari pemukiman warga, bukitnya pun terlihat jelas kalau dilihat dari tepian air, dekat Surau Gadang, Kampung Janang. Kami berangkat malam itu berlima. Kawan yang lain menyusul setelah itu.

Agak melelahkan ternyata mendaki malam, kami harus buka tenda lebih dulu sebelum mencapai puncak Bukit Padang Kabau, tentu saja stamina kami tidak sekuat orang-orang Langgai yang sudah terbiasa mendaki bukit untuk berladang. Sembari menunggu stamina pulih, rekan kami dari Langgai bercerita beberapa pantangan kampungnya.

Poto: Suasana Malam Hari

Rekan kami (Deky) akhirnya sampai ke tempat kami istirahat bersama ayahnya. Ayahnya melihat ada api unggun dari bawah, karena penasaran beliau ikut bersama Deky, walau sudah diberitahu bahwa itu adalah kami. Sesampai di sana mereka tertawa keras, melihat kelelahan seorang teman mendaki bukit rendah (bagi mereka).

Tepat jam 11 akhirnya kami sampai dipuncak, suasana sejuk dan suara uir-uir menyambut kami. Air danau yang tenang sesekali berkeciprak oleh ikan, tak ada halimun, bukit-bukit mengelilingi Padang Kabau. Sesakali hanya suara simpai terdengar dari kejauhan, bersahutan dengan kera melompat dahan pinago dekat danau.


Kami nikmati suasana bukit Padang Kabau, malam yang menyenangkan dengan bulan setengah jadi tegak tali. Bunyi hiliran air batang Surantih dari hulu langgai menjadi nada latar obrolan malam ini. Tentu lengkap dengan cerita lama dari pria parubaya tadi, tentang seorang pendekar asli Langgai yang pernah tinggal di Padang Kabau.

Sejauh mata memandang adalah bukit, kami tepat berada di tengah-tengahnya. Benar-benar udara yang sajuak, menyatu dengan alam Kampung Langgai, begitu terasa persaudaraan dengan mereka yang baru beberapa hari bahkan jam kami kenal. Tapi candaan terasa sekarib kerabat. Cemeeh dilapeh, tak ado sakik hati. Candaan yang dilontarkan adalah kias, satire yang pas untuk sebuah hiburan letih. Kami bercerita kehidupan masyarakat di sana, ladang gambir, sawah di atas gunung yang tak perlu dipupuk barangsekalipun, atau tempat bermain anak-anak di danau padang Kabau: menangkap ikan. Di sana juga ditumbuhi banyak durian kualitas wahid, rata-rata tiap ladang memiliki batang durian. “Bila musim durian, datanglah kemari”, sebut seorang karib.

Jarak tempuh dari surantih sekitar 2 jam lebih, tergantung kepandaian mengendarai motor. Akses jalan beraspal hanya sampai Gantiang, seterusnya jalan kerikil, sesekali beton. Usahakan kalau datang membawa teman yang sudah mengetahui Medan ataupun daerah tersebut. Jangan lupa bawa bekal makanan, atau membuatnya di bukit Padang Kabau. Sero!


Tim Marewai.com

Terimakasih kepada karib kerabat di Langgai yang telah bersedia meluangkan waktunya ikut dalam perjalanan kami dan melayani dengan sangat baik.

Tim Marewai

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaCaritoPunago RimbunSastra

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
Lewat Festival, Bisati Lirik Potensi Pengembangan BUMNag

Lewat Festival, Bisati Lirik Potensi Pengembangan BUMNag

Sambut Tahun Baru: Para Demisioner Ormada Pesisir Selatan Gelar Diskusi Onlen

Sambut Tahun Baru: Para Demisioner Ormada Pesisir Selatan Gelar Diskusi Onlen

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In