Pertunjukan komposisi musik Minimalis Talempong kayu ini untuk memperkenalkan bagaimana fungsi Talempong kayu yang berasal dari Sumpur Kudus sebagai media untuk latihan oleh musisi wanita sebelum memainkan talempong logam, namun saat ini terjadi perubahan yaitu talempong kayu tidak digunakan lagi, bahkan generasi penerus tidak lagi tertarik mempelajarinya, sehingga talempong kayu sudah jarang dimainkan oleh generasi penerus. Maka grup musik Kabaloka menginovasi alat musik talempong kayu sumpur kudus dengan menggabungkan instrumen musik talempong kayu dengan alat musik xylophone dan keyboard yang dikemas dalam bentuk musik minimalis.
Dengan adanya Pertunjukan musik oleh grup Kabaloka ini, diharapkan generasi saat ini mengenal alat musik tradisional dari Sumpur Kudus agar tetap dilestarikan dan dipertahankan sebagai media latihan atau pun sebagai media untuk berkreativitas dalam berkesenian. Komposisi musik Minimalis Talempong Kayu oleh grup musik Kabaloka ini terdapat gangguan pada bagian yang menggunakan loop pada sound sehingga bunyi yang dihasilkan terputus-putus, hal ini sangat berpengaruh pada bagian klimaks akhir dari komposisi ini yang menggangu konsentrasi pemain, karena terdapat permainan solo oleh pemain talempong kayu, alangkah baiknya soundman memperhatikan hal kecil yang menganggu jalannya pertunjukan. Selanjutnya pada bagian akhir dalam komposisi, pemain kurang memperhatikan dinamika sehingga bagian penutup tidak menggunakan dinamika decrescendo (dari keras menjadi lembut), alangkah baiknya penggunaan dinamika decresscendo dibagian akhir yang berfungsi untuk menandakan berakhirnya komposisi.
Melihat dari karya musik Minimalis oleh grup Kabaloka ini, apakah komposer musik lebih mengutamakan konsep musiknya saja, atau memang ingin melestarikan kesenian melalui kreativitas? Apakah musik minimalis bisa dinikmati oleh masyarakat di perkampungan adatadat? Sedangkan ciri khas musik minimalis memiliki repetisi (pengulangan) yang berdurasi sangat Panjang. Kesulitan dalam membuat karya minimalis adalah bagaimana membuat audience atau penonton tidak merasa bosan dengan pengulangan-pengulangan motif yang terjadi sepanjang karya.
Penulis, Ade Febri Yulfita






Discussion about this post