Selanjutnya, di akhir bulan Syawal, setelah panen maka akan diadakan Bakaru Ampiang sebagai ungkapan rasa syukur mereka dan sekaligus perekat silaturahim. Tradisi Bakaru Ampiang ini hanya dilakukan pada Tompat Datuak Gadang Tuanku Rajo Dauli. Semua masyarakat akan datang berduyun-duyun ke sana dengan membawa rantang yang berisi ampiang (beras yang di sangrai) beserta berbagai macam makanan lainnya, mulai dari penganan kecil, hingga nasi dan lauk.
Dalam Bakaru Ampiang semua seni tradisi yang ada di Sikabau akan kembali ditampilkan, tak ubahnya dalam tradisi Bakaru Boniah tadi. Tradisi Bakaru Ampiang ini sebenarnya tak ubahnya dengan Bakaru Boniah, tapi dalam Bakaru Ampiang lebih kepada bentuk perayaan rasa syukur atas hasil bumi, sedangkan Bakaru Boniah lebih kepada permohonan izin dan restu dari seluruh masyarakat nagari. Dalam acara Bakaru Ampiang ini akan dibuka dengan sepatah kata dari Penghulu adat, pengungkapan rasa syukur terhadap keberlimpahan hasil panen, lalu akan diakhiri dengan doa tolak bala oleh salah seorang Malim (orang yang mengurusi bidang agama) yang ada di Nagari Sikabau.
Bakaru Ampiang ini sebenarnya juga memiliki tata cara yang berbeda dengan Bakaru Boniah, dalam Bakaru Ampiang hampir seluruh pemuka adat pada tiap-tiap suku yang ada di Kenagarian akan ikut dilibatkan. Masing-masing suku yang ada di Kenagarian Sikabau itu ialah, suku Piliang, suku Tigo Nini, suku Malayu, suku Mandailiang, suku Patopang Ateh, suku Patopang Bawuoh.

Setiap suku yang ada di Kenagarian Sikabau dalam Bakaru Ampiang akan menjalankan fungsinya masing-masing sesuai dengan yang telah diatur dan di wariskan dari generasi ke generasi. Fungsi masing-masing suku di Sikabau di analogikan dengan struktur seperti dalam sebuah kapal. Suku Malayu dengan penghulu sukunya yang bergelar Datuak Rajo Panghulu berfungsi sebagai Alu (Kapten Kapal), sedangkan suku Tigo Nini dengan penghulunya yang bergelar Datuak Rajo Mangkuto berfungsi sebagai juru kemudi (Nakhoda), suku Mandailiang dengan penghulu sukunya yang bergelar Datuak Jati berfungsi sebagai Camin Taruih (Penasihat).
Dalam acara ini juga para orang tua yang membawa anak-anak akan mengambil tanah yang ada di pusara Datuak Gadang Tuanku Rajo Dauli untuk digoreskan pada kening anak-anak mereka. Dalam kepercayaan masyarakat Kenagarian Sikabau, hal itu mereka lakukan untuk memberikan penghormatan pada Datuak Gadang Tuanku Rajo Dauli selaku manusia awal atau cancang-tatiah (Pendiri) Nagari Sikabau.
Penulis, Dino Rawan Putra Lahir pada tanggal 21 September di Kenagarian Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.
Surel : [email protected]
Instagram : @dino_rawan_putra1






Discussion about this post