• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Melihat Pesona Pulau Batu Nago Sambil Menikmati Pantai Labuang Baruak

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
30 September 2020
in Pelesiran
1.5k 31
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Masih memikirkan akhir pekan mau kemana, mungkin tempat ini salah satu alternatif. Pesisir Selatan memang tidak ada habisnya jika bicara pesona alam, sehingga banyak orang memberi julukan Pesisir Selatan sebagai Negri Sejuta Pesona, salah satu tempat indah itu adalah Pulau Batu Nago atau disebut juga Pulau Keong. Bagi sebagian orang mungkin sudah tidak asing lagi mendengar tempat ini, lokasi pulau Batu Nago atau pulau Keong memang jarang dikunjungi oleh masyarakat sebagai tempat wisata, alasannya akses jalan ke sana. Akses jalan ke pulau Batu Nago hanya bisa ditempuh berjalan kaki, sedangkan jalan utama masih kerikil dan pendakian juga melalui jalur terjal juga membuat pengunjung berpikir dua kali. Barangkali itu salah satu alasan pulau Batu Nago atau Keong jarang dikunjungi.

Foto: Pulau Batu Nago dari Kejauhan Berbentuk Keong


Pulau Batu Nago atau Pulau Keong ini terletak di Labuhan Baru Batang Kapas, Kenagarian Koto Nan Duo. Tapi tidak perlu cemas jika niatan ke sana gagal lantaran akses jalan yang lumayan menantang, karena sebelum Pulau Batu Nago, daerah tersebut juga memiliki banyak tepian pantai yang indah lainnya. Yang paling banyak dikunjungi masyarakat daerah baik dari luar maupun dalam adalah Labuang Baruak. Pantai yang menyuguhi pasir putih sepanjang semenanjungnya, ombaknya tenang menambah suasana indah. Saat ini lokasi Labuang Baruak juga sudah terjaga dengan adanya masyarakat mendirikan pondok-pondok bagi pendatang yang ingin menikmati suasana pantai. Pemerintah setempat juga sudah melirik tempat tersebut sebagai potensi kunjungan wisata dengan cara merambah semak-semak dan memperbaiki jalan menuju ke sana. Tentu sebuah upaya yang tiap tahun dilakukan masyarakat dan pemerintah setempat.


Jika hendak ke Pulau Batu Nago atau Pulau Keong, pengunjung akan menempuh waktu lumayan lama. Dari Kota Padang perkiraan waktu sekitar 3/4 jam lebih perjalanan. Sebelum pasar Batang Kapas ada sebuah simpang sebelah kanan sesudah kedai-kedai yang menjual makanan khas Pesisir Selatan ada banyak makanan khas Pesisir Selatan dijual di sana: Mangkuak Badeta, Pinyaram, Pinukuik dan lainnya. Dari simpang tersebut menuju lokasi menghabiskan waktu sekitar 30 menit atau lebih, tergantung kecakapan mengendarai kendaraannya. Selain itu, Pulau Batu Nago juga bisa dilihat dari tepi jalan Sungai Nipah, sesudah penurunan bukit stasiun RCTI—bukit Ransam. Dari sana Pulau itu akan terlihat berbentuk keong.
Kabar beredar di masyarakat setempat, konon Pulau Batu Nago ada karena sebuah peristiwa yang mengakibatkan terpisahnya sebuah pulau kecil yang berada di dekat pantai Sungai Nipah. Menurut masyarakat, dimasa lampau seekor naga pernah mengamuk dan menghempaskan ekor serta cakarnya sehingga membuat pulau itu putus dan terpisah dengan tepian pantai. Cerita itu diperkuat dengan adanya bentuk batu yang menyerupai kaki serta tumpukkan berbentuk kepala naga. Namun masyarakat tidak bisa memastikan kapan kejadian tersebut, saya menganggapkan sebagai cerita rakyat dan legenda saja. Tentu masih ada banyak cerita dari keberadaan pulau tersebut, mitos-mitos yang juga membuat pengunjung berpikir dua kali untuk sampai ke sana, ataupun peristiwa-peristiwa yang benar-benar pernah terjadi.

Foto: Marewai.com


Meski demikian, tujuan saya ke sana adalah untuk melihat keindahan pulau Batu Nago atau Pulau Keong. Karena beberapa kawan menyarankan untuk mendatangi tempat tersebut, selain jarang dikunjungi karena akses jalannya, pulau itu juga menyajikan keindahan yang berbeda dari pulau-pulau kecil di Pesisir Selatan lainnya.
Sebelum sampai ke Pulau Batu Nago atau Pulau Keong, tentu kami tidak melewatkan keindahan Pantai Labuang Baruak yang menawan, kebetulan cuaca sedang cerah, pasir putih mengkerlip bagai mutiara dari kejauhan. Ombak yang pulang pergi dari tepian, pun suara kanak berlarian berebut umang-umang.


Dari Labuang Baruak kami mengulik beberapa cerita Pulau Batu Nago dengan masyarakat, tidak banyak memang, kerena keindahan pantai lebih menarik ketimbang cerita-cerita yang belum tau kebenarannya itu. Ternyata selain Pulau berbentu naga, di daerah tersebut juga ada batu berbentuk baruak, begitu menurut cerita seorang kawan. Saya pun mendeskripsikan daerah itu sebagai kawasan wisata mandeh versi kecilnya. Mungkin sedikit berlebihan, tapi sepanjang jalan menuju Pulau Batu Nago kita juga disuguhkan pemandangan pantai yang jernih, ombak yang tenang dan pulau-pulai kecil bertengger di tengah lautan. Mungkin yang membedakan secara signifikan hanyalah jalannya saja, bila di Mandeh sudah memiliki jalur bagus, di daerah ini jalan kerikil masih begitu betah.

Pantai Labuang Baruak (foto: Marewai.com)


Bila ingin mengunjungi Pulau Batu Nago usahakan saat pasang surut, apabila pasang sedang naik, kita tidak dapat melewatinya untuk sampai ke Pulau kecil itu, karena antara pulau dan tepian terpisah. Sedangkan bagian yang menjorok ke tengah diyakini sebagai kepala naga, dan yang terpisah agak ke tepian adalah bagian ekornya. Meski menimbulkan banyak tanda tanya soal nama Pulau Batu Nago dan sebutan Pulau Keong ini, saya menyimpulkan secara logika saja mengapa ada dua nama. Barangkali sebutan Pulau Batu Nago menurut cerita rakyat, sedangkan Pulau Keong menurut bentuknya dari kejauhan.


Hati itu kami memang kurang beruntung, sesampai di tepian pantai, ternyata air pasang sedang naik. Seorang kawan terlihat gamang langsung mengajak kami keluar, dan menghabiskan waktu di Labuang Baruak sebagai alternatif lain. Lagipula Labuang Baruak memang sudah menggoda sejak kami sampai di sana, begitu juga yang diutarakan seorang kawan kepada saya. Lebih baik kita nyantai di sana saja, ketimbang di sini yang suasananya mencekam dan lengang, begitu kata seorang teman. Dari tepian pantai, saya memandang keindahan pulau mungil yang berbentuk naga itu dengan seksama, mulai dari bagian yang berbentuk ekor, kepala serta bebatuan yang memenuhi area sekitar. Air laut yang menyimpan ketenangan, gemuruh ombak sedang menambah keindahan suasana Pulau Batu Nago. Akhirnya kami menghabiskan waktu hingga petang di Labuang Baruak, menikmati nasi bungkus sambal rendang dan es kelapa muda, angin meniup telinga melebihi dinginnya Ac, suara burung dari hutan seperti tiada henti. Bila ada waktu luang datanglah, tempat indah yang tak perlu mengeluarkan biaya banyak. Memiliki persinggahan-persinggahan yang menyuguhkan tepian pantai bersih dan pasir putih.

  • Foto: Marewai.com
  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
Hijrah Dari Perjalanan Wisata Menuju Sebuah Kebudayaan; Beserta Mitos-mitos yang Terkandung di Dalamnya

Hijrah Dari Perjalanan Wisata Menuju Sebuah Kebudayaan; Beserta Mitos-mitos yang Terkandung di Dalamnya

Wisata Lawas: Pantai Gunung Rajo, Sungai Sirah Pesisir Selatan

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In