• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Malam Pembukaan: Lima Negara Hadiri Festival Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Agamjua Art & Cultural Kota Payakumbuh

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
13 Oktober 2023
in Budaya, Berita Seni Budaya
1.2k 12
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Payakumbuh, Kamis (12/10/2023), Festival Warisan Budaya Tak Beda resmi dibuka, rangkaian acara ini akan berlangsung selama tanggal 12-17 Oktober 2023. Pembukaan Festival yang diikuti 420 peserta dari 5 negara, provinsi tetangga dan perwakilan dari kabupaten dan kota di Sumatera Barat (Sumbar) ditandai dengan pemukulan gandang tambuah oleh Gubernur Sumbar Mahyeldi, bersama Ketua DPRD Supardi, Sekda Kota Payakumbuh, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Syaifullah dan Direktur festival S Metron Madison.

Malam pembukaan festival dihadiri oleh negara-negara lain, dan dijuga menampilkan aksi dua orang pesilat Bennet James dan Edward Brown asal Birmingham Inggris yang menjadi penanda dimulainya rangkaian pembukaan Festival Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) atau Intangible Cultural Heritage Festival (ICHF), di Agamjua Art & Cultural Kota Payakumbuh.

Rangkaian pembukaan festival yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Sumbar dengan dukungan Ketua DPRD Sumbar Supardi, ini juga ditampilkan kesenian Senjang, sebuah tradisi lisan asal Sumatera Selatan, tari tradisional Minangkabau oleh Sanggar Maurak Langkah serta aksi silek oleh mahasiswa asing yang kuliah di ISI padang Panjang. Gubernur Mahyeldi dalam sambutannya menyampaikan bahwa Festival WBTB sangat berdampak positif pada pelestarian warisan kekayaan budaya Minangkabau.

“Warisan ini punya kita, diakui dunia, oleh sebab itu festival ini bernilai strategis untuk mengingatkan bahwa kita memiliki warisan budaya tak benda yang harus kita wariskan pada generasi mendatang,” ujar gubernur.

Menurutnya, Gubernur berharap festival yang sudah dilakukan di Payakumbuh juga akan dilakukan oleh daerah lainnya di Sumbar sebagai upaya pelestarian sekaligus aktivasi warisan budaya.

Kemudian dilanjutkan oleh Ketua DPRD Sumbar, Supardi juga menyampaikan harapan serupa. Menurutnya, kegiatan ini momen penting dalam rangka pelestarian kebudayaan. Selain itu, juga untuk mengaktivasi warisan budaya tak benda yang telah ditetapkan nasional dan UNESCO.

“Warisan budaya tak benda yang sudah ditetapkan di tingkat nasional dan internasional itu mesti diaktivasi. Jika warisan itu dibiarkan setelah diusulkan dan ditetapkan, statusnya bisa dicabut,” ucap Supardi.

Oleh sebab itu, Supardi mengapresiasi Dinas Kebudayaan Sumbar yang sudah mengangkat budaya Minangkabau melalui kegiatan Festival WBTB yang juga sangat penting bagi pengembangan pariwisata Sumbar.

Festival yang akan berlangsung 12 hingga 17 Oktober 2023, ini menurut Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Syaifullah akan menghadirkan penampilan dari 5 perwakilan luar negeri, 5 perwakilan provinsi lain, dan 10 perwakilan dari Sumbar.

“Kegiatan festival dipusatkan di tiga titik Selain penampilan di Agamjua, juga ada pameran manuskrip di GOR M Yamin dan pameran kuliner tradisional dan pacu itiak dan pacu jawi diadakan di Koto Baru Payobasuang,” kata Syaifullah.

”Kami berharap dengan kegiatan ini nanti akan muncul kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian warisan budaya tak benda kita sekaligus mendorong pertukaran budaya antarkomunitas,” pungkasnya.

Dalam kesempatan malam itu, pada akhir rangkaian acara pembukaan festival WBTB juga dimeriahkan dengan atraksi seni beladiri kuno asal India, Kallaripayatu. Masyarakat sangat antusias menyaksikan beladiri yang menampilkan berbagai aksi mulai dari tangan kosong, pedang, tongkat, hingga pisau. Malam pembukaan yang khidmat, penonton, tamu undangan seakan terhipnotis oleh penampilan-penampilan memukau peserta yang datang. Penonton bersorak dan bertepuk tangan setiap kali peserta dari India menampilkan berbagai aksi Kallaripayatu yang disebut sebut sebagai inspirasi beladiri kung fu dan karate.

Rangkaian acara Festival Warisan Budaya Tak Benda ini meliputi: Pertunjukan, Pameran Kuliner, Demo Masakan Tradisional, Pameran Manuskrip, Permainan Anak Nagari, Pemutaran Film WBTB, Tour Budaya, dan Diskusi Naskah Kuno. (Diskominfotik Sumbar).

Sumber Foto: Dinas Kebudayaan Prov Sumatera Barat

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: Berita seni dan budayaBudayaMarewaiSastra

Related Posts

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

Next Post
Persinggungan saya dengan Pilem | Nukilan dan Ritus Pawang Pukat; Sebuah Memori Kolektif dan Masyarakat Tradisional – Arif Purnama Putra

Persinggungan saya dengan Pilem | Nukilan dan Ritus Pawang Pukat; Sebuah Memori Kolektif dan Masyarakat Tradisional - Arif Purnama Putra

Puisi-puisi Fitri Wijaya | Dekat Teluk

Puisi-puisi Fitri Wijaya | Dekat Teluk

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In