“Hai… Mande-mande bersepakatlah kalian bulatkanlah tekat, dan bemupakatlah kalian dulu rela sama rela, suci sama suci hati.”
Dewi Tara

Di negeri Tujuh gunung pedalam Minangkabau ada sebuah gunung yang di hormati dan dipuja oleh penduduknya di kala masa tumbuh peradapan awal di lereng gunung yang bernama Negeri Gunung Selasih Kembar Dua, sekarang disebut “Gunung Talang” terletak di Negeri Solok. Sumatra Barat. Menurut tutur dari tua-tua (dalam bentuk Kaba Pusako). Di lereng gunung Selasih. Angku Jangguik (alm) orang tuo di Nagari Alahan Panjang, Kabupaten Solok. Ada keberadaan seorang wanita yang mendiami puncak Gunung Selasih itu dulu kala. Sebelum negeri ini di diami oleh orang-orang yang berdatangan dari Luhuang Agam yang di sebut Ninik Nan Tigo Baleh. Seorang wanita ini bernama Ninik Dewi Taro yang suka berdiam diri dipuncak Gunung Selasih ini (bertarak) bersemedi untuk mendapatakan ilmu spritual (Ilmu batin) yang tinggi berada disamping khaliqnya. Keberadaan seorang nenek di puncak gunung menjadikan negeri di sekeling gunung tentram dan damai. Apa bila terjadi perselisihan dikalangan penduduk maka tua (penghulu) dari sukunya akan menghadap kepada nenek ini. Memutuskan perkara yang terjadi. Begitu halnya apabila terjadi wabah penyakit menyerang kampung dan tanaman-tanaman penduduk tua-tua negeri akan menghadap meminta obat penawarnya kepada Nenek Taro. Jika Dewi (nenek) Taro ini marah seluruh makluk akan mengigil mendengar suaranya. Dengan Sebutan “Hariak Simambau Tungga” yang di beri gelar oleh orang-orang dikaki Gunung Selasih.
Sedangkan Dewi Tara ini mempunyai kebun-kebun bunga yang sangat harum baunya. Apabila kita menciumnya akan kenyang semusim, dan setahun pelayaran. Nenek ini menaruh sebuah bunga yang disebut Bunga Sari Manjari. Apabila dipandang, dipandang warna putih kekuning-kuningan, dipandang kuning berubah menjadi merah. Apabila dipandang berubah lagi berwarna hijau dan apabila dipandang lagi akan berubah warna bintik kehitaman putih kemerah-merahan. Itulah bunga taruhan nenek Tara. Yang ketika itu penduduk negeri menjemput Mahkota Keistimewaan dari Negeri Gunung Selasih itu. Oleh nenek yang sakti dimintalah kepada wanita-wanita tiap suku untuk datang ke Negeri Gunung Selasih untuk dijadikan marwah di negeri sekeliling Gunung Selasih. Wanita tiap suku ini, wanita sesepuh sisebut Mande-mande Rubiah wanita kerhormatan tiap penghulu dan Raja di sekeling Gunung Selasih kala itu. Saat itu Dewi Tara menyuruh memandang kebun-kebun bunga, dan bunga Sari Manjari yang berada di halaman rumah gadang Dewi Tara. Tempat bersemedinya Dewi Tara. Dengan bimbingan Dewi Tara bermunajat kepada khaliqnya, wanita-wanita tiap suku ini bisa merasakan bau bunga dan keindahan Bunga Sari Manjari. Yang di lilit oleh akar Nan Manjelo dari surga. Di “sasok pipik” dihisap burung pipit dan dilingkar ular gerang yang mengiang-ngiang dan berjanjang ke rumah gadang. Pemandang itulah yang dilihat yang berkelau-kilauan sehingga semua wanita-wanita tiap suku dan wanita kaum raja-raja dikala itu terpersona dan terpukau melihat keberadaan Bunga Sari Majari yang sangat indah itu.
Ketika itu salah seorang wanita ingin meraba sang Bunga Sari Majari tangannya melepuh dan menjerit kesakitan. Berkatalah Dewi Tara ketika itu. “Hai… Mande-mande bersepakatlah kalian bulatkanlah tekat, dan bemupakatlah kalian dulu rela sama rela, suci sama suci hati.” Maka dilakukan perintah itu oleh mande-mande. Sehingga dengan kesaktian Dewi Tara mereka semua Bisa meraba dan mencium Bunga Sari Manjari itu. Dibawa ke rumah gadang Dewi Tara, ditarok di atas “Dulang Gadang” (talam tinggi) Bunga Sari Manjari dan dipersembahkan kepada Dewi Tara. Oleh Sang Dewi Tara, bawalah bunga ini Bunga Mahkota Gunung Selasih untuk menjadi kebesaran Raja- raja, Puti-puti, Sultan-sultan, Penghulu-penghulu tiap Suku di negeri kalian. Di saat inilah timbul ungkapan adat di negeri “Mangkuto Dek Rajo-Rajo jo Puti-Puti, Suntiang Dek Panghulu” di Pulau Emas ini. Sejak itulah mahkota sang Bunga Sari Manjari ini menjadi sarat rukun dan kehormatan tiap-tiap raja naik nobat dan penghulu yang akan dililewakan tiap suku di negeri sekeling Gunung Selasih dan daerah rantau yang disebut “Mangkuto Alam Limau Baunggeh”.
Sedangkan Menurut Tambo dan Kaba Tareh Negeri Kubuang Tigo Baleh. Pada saat telah bermukimnya anak Kamanakan Ninik Tiga Belas (keturunan) di lereng Gunung Salasiah. Disaat itulah terjadi suatu peristiwa permintaan Permaisuri Tuan Puti Reno Jalito mengambil nama yang sama dengan nenek moyang beliau yakni Puti Reno Jalito Atau Puti Jamilan. Permintaan (kehendak) Bungo Sari Manjari. Bunga itu merupakan idaman permaisuri yang sedang mengandung, Puti Reno Jalito kepada suaminya Raja Pandan Bonang Sutodeowano. Atas permintaan itu oleh raja, diusahakan untuk mencari ke Gunung Marapi, namun usaha beliau sia-sia, tak setangkai pun Bunga Sari Manjari itu didapatkan. Terdengar suatu kabar berita bahwa bunga itu selain di Gunung Merapi juga ada di Gunung Salasiah Kamba Duo (Gunung Talang) di Kubuang Tigo Baleh (Kabupaten Solok sekarang).
Sedangkan Pada saat itu Kubuang Tigo Baleh dilanda keganasan perampok di kampung-kampung yang sangat mencenkam di negeri sekeliling Gunung Selasih dikala itu. Maka diutus oleh yang dipatuan seorang pembesar bernama Dt Rajo Jihin mencari Bunga Sari Manjari serta mengamankan ke tempat kampung-kampung Kubuang Tigo Baleh yang sedang dilanda perampokan yang mengganas. Sesampai pembesar Dt. Raja Jihin mengamankan dan mengendalikan situasi di daerah Kubuang Tigo Baleh menjadi aman dan damai. Maka dikumpulkanlah seluruh pembesar. Diutarakan niat dan maksud tujuan untuk mencari sekuntum Bunga Sari Manjari. Oleh pembesar Kubuang Tigo Baleh beserta sepuh-sepuhnya bersama-sama untuk mencari Bunga Sari Manjari yang di inginkan oleh Permaisuri raja Pagaruyung itu. Bersama Dt Rajo Jihin dan orang Kubuang Tigo Baleh mencari Bunga Sari Manjari namun usaha mereka sia-sia. Tidak menemukan setangkai pun bunga itu. Berhimpunlah semua pembesar kembali (bermumpakat) orang Kubuang Tigo Baleh dengan Datuak Rajo Jihin. Memutuskan untuk membuat duplikat sebuah bunga dari daun Kelapa Nyiur Gading yang terkenal keramatnya. Diambil pucuk kelapa dan dibikin menyerupai Bunga Sari Manjari. Seperti bentuk aslinya. Itulah yang diserahkan kepada permaisuri raja. Permaisuri menjadi senang dan gembira. Disaat itulah Bunga Sari Manjari dijadikan Mahkota, ditarok di atas talam yang tinggi untuk marwah kehormatan basa-basa penghulu-penghulu Raja Puti di daerah kubuang Tigo Baleh dan rantaunya menjadi “Mahkota Alam Limau Baunggeh”.
Bergitulah turunan Kaba Tareh turun termurun serta Tambo yang diwarisi sebagai “Tareh Batang” dalam indentitas jati diri sebuah masyarakat adat yang berbudaya luhur dari Ninik Moyang. Warisan ini, diwarisi oleh anak kamanakan orang Kubuang Tigo Baleh “Warih nan bajewek, Pusako nan batolong” di rantaunya. Dikatakan dari Gunung Selasih Kembar Dua, di daerah Tarusan Rantau orang Guguk Kubuang Tigo Baleh sebuah Limau Baunggeh menjadi sarat mutlak untuk pengangkatan Penghulu maupun Raja Atau Sultan yang berkunjung kedarahnya harus di cacah Limau diateh Kaniang (diberi limau diatas kening) dalam Mangkuto Limau Baunggeh. Sampai kepada acara “Babako-bako” pengantin yang baru akan di bawakan Mangkuto Limau Baunggeh ini kepada anak pisang (anak pusako) yang dibikin oleh induak bako pertanda marwah ayah orang yang berbangso berketurunan kuat di negerinya. Mangkuto Limau Baunggeh ini akan dibuat oleh seorang Mande Rubiah, seorang sepuh kaum induak Bako (kaum ayah), yang berasal dari anyaman daun kelapa. Dibentuk bermacam-macam nama yang sarat dengan simbol. Terutama sekali “Anyaman Bungo Sari Manjari, Sari Luruih, Sari Rakuak, Itiak Pulang Patang, Takuak Karan, Buruang Pipit, Sipasan, Serta Kain Perca Tiga Warna, Dibalut oleh Kain Cindai Panjang Tujuh dan Akar Subang-Subang”. Ditarok di atas Dulang Tinggi (talam tinggi) disusun dengan seindah rupa susunan Sarai Sarumpun. Berbilangan ganjil, berjumlah lima. Mahkota inilah yang di jujung oleh seorang Mintuo Bini Mamak tertua dari kaum/suku yang membawakan limau. Berdiri di depan, dipancang oleh seorang Mande Rubiah (bundo kaum) pembawa Carano yang menjadi kepala barisan ketika arak-arakan berlangsung, menuju ke rumah anak pisang yang diringi oleh induak-induak “Bako” serta orang dalam negeri. Itulah Mangkuto Alam Kerhormatan Tiap kaum: Suku atau kaum Raja. Yang menjadi syarat wajib ketika melakukan acara-acara yang sakral di Nagari Sungai Pinang Koto XI Tarusan, Kabupaten Persisir Selatan. Zera Permana
- Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana - 3 September 2025
- Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2 - 2 Oktober 2024
- Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung - 26 September 2024








Discussion about this post