• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Kamis, Maret 5, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Kembar Sejoli dan Tradisi Si Muntu

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
1 Oktober 2020
in Budaya
1.2k 75
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Tradisi perayaan anak kembar sejoli di Surantih, Pesisir Selatan, Sumatra Barat, merupakan sebuah tradisi yang dirayakan sejak lama, biasanya juga disebut masyarakat setempat dengan perayaan Anak Sumbang yang maksudnya ialah anak kembar yang lahir sejoli (lelaki dan perempuan). Tradisi ini merupakan salahsatu tradisi yang sanggup mengumpulkan banyak masyarakat untuk sebuah perayaan kelahiran anak. Tentu harus sesuai juga dengan aturan yang sudah dibuat para orang-orang terdahulu. Prosedur dari perayaan anak kembar sejoli ini adalah berkumpulnya masyarakat untuk ikut berkunjung atau biasa disebut babondong ke rumah induak bako lalu berjalan menuju rumah anak kembar lahir. Induak bako ialah saudara perempuan dari bapak. Sebelum mendatangi rumah tersebut, orang yang datang akan membawa pisang yang sudah direbus dan begitu juga sebaliknya dengan orang yang menanti di rumah kelahiran.

Saat iring-iringan berlangsung menuju rumah tempat anak kembar lahir, ada beberapa orang lelaki yang ditunjuk untuk memakai baju yang terbuat dari daun pisang, biasa disebut Si Muntu/baju kisiak. Sesampai di rumah tempat anak kembar lahir, orang-orang yang datang dari rumah induak bako tadi akan saling lempar pisang rebus atau yang biasa disebut masyarakat setempat parang pisang. Ritual ini dianggap masyarakat sebagai sebuah perayaan bahagian telah mendapatkan anak kembar.

Perayaan anak kembar sejoli ini tidak memakai waktu jeda atau isyarat berhenti, perang pisang rebus akan berhenti jika masyarakat sudah lelah atau kehabisan pisang untuk dilemparkan.  Kentara itu juga menjadi hari untuk anak-anak bermain dan berebut pisang rebus, sebab sebagian anak-anak, pasti akan lebih suka mengumpulkan pisang rebus untuk dimakan ketimbang ikut dalam perang pisang. Tradisi ini memang hanya dilakukan saat ada keluarga dari mereka melahirkan anak kembar sejoli saja, tidak dilakukan saat perayaan lainnya. Berbeda dengan tradisi lainnya yang bisa dilakukan diberbagai acara, seperti randai, bisa dilakukan saat perayaan acara pesta atau tarian-tarian khas daerah juga bisa dilakukan pada perayaan festival dan lainnya. Di Sumatra Barat,  perayaan simuntu juga ada dibeberapa daerah, misalkan Tanah Datar. Namun Perayaan Simuntu yang ada di Surantih, Pesisir Selatan hanya dilakukan saat adanya anak sumbang atau kembar sejoli.

Anak sumbang: sepasang atau sejoli

Si muntu: nama orang yang yang memakai baju dari daun pisang

Parang pisang: perang pisang

Induak bako: saudara perempuan dari bapak

Babondong: bergerombolan atau beramai-ramai

Tulisan ini saya ambil dari tradisi di Koto Baru, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Propinsi Sumatra Barat.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram - 5 Februari 2026
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025

Related Posts

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

Next Post
Bukit Panjang

Bukit Panjang

Masjid Pahlawan Lumpo dan Zaini Zen: Sebuah Saksi Pengorbanan Sang Pejuang

Masjid Pahlawan Lumpo dan Zaini Zen: Sebuah Saksi Pengorbanan Sang Pejuang

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In