
Apakah semua dalam dunia ini harus tampak gamblang? Barangkali itulah pertanyaan yang muncul dalam benak saya ketika selesai membaca Pelajaran Membaca, sebuah buku kumpulan cerpen karya Beri Hanna yang diterbitkan oleh Rusamenjana Publishing ini paling tidak menyuguhkan perkara yang demikian.
Dunia yang semula tampak gamblang, benderang lantas mendadak redup dan memburam. Segala yang awalnya kita duga akan menuju muara yang berada di bawah sana, mendadak berbelok menuju muara lain bahkan sesekali mengalir kembali ke hilir. Segala yang awalnya kita dapat menebak-nebak tafsirnya ternyata hanya sebuah tipu daya yang mengelabui kita, yang diawal pongah dan penuh sok tahu mendadak tolol dan tak mengerti apa-apa.
Pelajaran Membaca, adalah buku yang diterbitkan penerbit indie menyuguhkan tampilan yang menarik. Dengan cover ilustrasi yang kiranya cukup memberi gambaran atas cerita apa saja yang berada di dalamnya. Di halaman-halaman awal buku kita akan menemui layout daftar isi yang menurut saya cukup efisien untuk pembaca-pembaca yang selektif, sebab di tiap judul daftar isi kita akan mampu membaca secuil cerita di balik judul cerpen tersebut, barangkali ini semacam spoiler bagi cerita-cerita tersebut dan jendela kecil yang sekiranya cukup untuk para pembaca menengok ada apa di dalam cerita tersebut.
Ada 12 cerita pendek Beri, di dalam buku Pelajaran Membaca. Dan dalam 12 cerpen itu saya seperti melihat kepiawaian Beri meramu cerita dalam bingkai cerita pendek. Sebagian besar cerpen-cerpen itu tampak tak mempedulikan bentuk-bentuk cerpen pada umumnya, yang kerap kita baca di koran atau media-media lain. Ia seakan sedang menata suatu rumah dengan kuasa dan otoritas pemilik tunggal rumah tersebut. Seperti yang ditunjukkan sebuah cerpen berjudul: Lima Puisi Siapa Saja yang Bernama Diana. Dalam cerpen tersebut kita akan masuk ke dalam sebuah prolog berisi peristiwa bagaimana semuanya bermula dan pada akhirnya segalanya, atau cerita barusan menjadi puisi dan berakhir dalam bingkai puisi.
Begitu juga dengan cerpen berjudul: Pelajaran Membaca. Mulanya kita akan dibawa pada percakapan Narator dengan seorang kepala Dusun yang merupakan keturunan Rajo Amun sang pengarang, lantas kita akan dibawa pada cerita-cerita yang ditulis Rajo Amun. Mungkin ini bukan barang baru dalam cerita-cerita pendek yang kita tahu adalah cerita di dalam cerita, namun yang membuat saya beberapa kali mengumpat adalah kebengalan imaji-imaji Beri dalam cerita-ceritanya. Saya takjub dengan prolog yang serupa pondasi kokoh cerita dan bangunan yang berada di atasnya menyuguhkan bentuk yang memang sepadan dengan pondasi yang dibangun di awal.
Kebengalan imaji-imaji Beri juga nampak dalam cerita pendek berjudul: Keganjilan Tulisan Mario, kita akan menemu pengantar cerita, dan cerita di dalam cerita tentang percakapan roh dan dewa tentang negasi si roh atas keinginan kebanyakan roh. Dan ketika si roh menjelaskan tentang sikapnya tentu saja sedikit banyak si roh membuat kita mengangguk dan membayar tuntas rasa penasaran kita atas negasinya barusan.
Kiranya masih banyak lagi cerita-cerita serupa dalam buku cerpen Pelajaran Membaca, Beri Hanna ini. Sesekali ia juga menyuguhkan cerita Arkais, lokalitas magis, magis yang diolah dari segala yang dekat dengan kita. Juga sesekali ia mengutil teknik bercerita dari pencerita ulung tanah air, memolesnya sedikit dengan gayanya dan tanpa malu-malu ia menunjukkan bahwa apa yang ia lakukan dari awal adalah teknik milik beliau. Juga sebagai warga negara yang baik, Beri juga menyelipkan satu dua cerita yang ia permak dari sejarah kolonialisasi bangsanya lengkap dengan kisah-kisah gelap yang kerap mendera satu dua warga yang bernasib serupa.
Mungkin begitulah sehampar cerita Beri Hanna yang mampu saya tangkap dengan pemahaman buram ini. Sesekali saya menikmati cerita-cerita pendek dalam Pelajaran Membaca sesekali juga saya gagal menikmatinya sekaligus meragukan apa yang saya pahami atas cerita-cerita yang penulis ceritakan. Namun saya tak ambil pusing akan ketololan saya, bukankah masih banyak yang belum saya pahami dalam hidup ini dan semuanya masih berjalan, kau masih tetap bisa melihat burung beterbangan tanpa pusing memikirkan rumus keterjadian burung terbang, juga kau masih bisa menenggak kopi sembari menyulut rokok tanpa pusing memikirkan perkara bobrok di dalam kepalamu.[]
—Bojonegoro, 2024
Ihwal Penulis
Fatah Anshori, lahir di Lamongan. Buku puisinya yang telah terbit Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Novelnya Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021) masuk dalam 20 besar Anugerah Sastra Nongkrong.co 2021. Cerpennya Mencari Marlin Lain yang Pernah Memakan Bunga terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018. Puisinya Mustafa Hanya Tinggal Nama terpilih dalam Nominasi Anugrah Sastra Litera.co 2021. Cerpennya Sepasang Wisatawan Tiba-tiba Tak Bernyawa Setelah Beramalam di Sebuah Desa dimuat Majalah Suluk (DKJT) 2020. Puisinya masuk dalam lima puisi terbaik Payakumbuh Poetry Festival 2022 & 2023. Diundang di Borobudur Writers & Cultural Festival 2023. Beberapa cerpen, puisi dan esainya telah dimuat beberapa media online. Sekarang bergiat di Guneman Sastra Songgolangit Creative Space dan KOSTELA.
Instagram: @fatahanshori // Facebook: Fatah Anshori






Discussion about this post