
Menjadi pembangkang atas keseragaman seringnya akan dicap antagonis oleh suara-suara yang lebih dominan. Mereka kerap dimusuhi akibat penyimpangan atas pandangan yang telah ditetapkan konvensi sebelumnya, dan yang telah lama diyakini. Tak pelak kadang subjek ini juga dijatuhi hukuman yang tak tanggung-tanggung semisal digantung hingga hilang napas, alias tewas. Dalam buku puisi Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api, karya Syaiful Alim yang diterbitkan oleh Pelangi Sastra kita akan menemu subjek pembangkang ini dalam puisi narasi tentang Syekh Siti Jenar.
Buku puisi Syaiful Alim ini menjadi Naskah yang Menarik Perhatian Dewan Juri Sayembara Manuskrip Puisi DKJ 2023. Dan dalam buku Kumpulan puisi ini, kita akan menemu narasi-narasi puitik atas etos Syekh Siti Jenar sebagai subjek pembangkang dan yang liyan dari Dewan Walisanga. Seperti yang kita tahu Walisanga sendiri adalah Sembilan orang saleh sekaligus protagonis dalam budaya dan Sejarah puritanisme bangsa kita. Sementara itu kita tahu Syekh Siti Jenar adalah salah satu dari sembilan wali yang seakan terkesan menyimpang dari ajaran dan pandangan kebanyakan.
Barangkali di sinilah letak kesalahannya, pandangan. Apa yang saya pandang menggunakan mata kepala saya tentu akan berarti beda dengan apa yang mereka pandang menggunakan mata kepala mereka sendiri. Meski objek yang saya pandang dengan yang mereka pandang adalah sama. Diam-diam dalam batok kepala kita akan menafsirkan objek yang kita pandang tersebut, entah itu diutarakan atau tidak.
Begitu pula apa yang dipandang Syekh Siti Jenar tentang Islam. Beliau memiliki penafsiran yang cukup berbeda dari para Walisanga lainnya. Dan inilah yang membuat Beliau hendak dihukum oleh dewan Walisanga lainnya. Namun di sini saya tidak akan membahas tentang apa pandangan Syekh Siti Jenar yang membedakan Beliau dengan Dewan Walisanga lainnya, melainkan apakah kita mampu menemukan suatu yang kita Yakini kebenarannya dari sebuah keseragaman yang kebenarannya telah diamini khalayak.
Barangkali di sinilah Syekh Siti Jenar, melakukan pembangkangan atas kebenaran yang telah disahkan oleh kebanyakan umat memang tidak main-main. Seperti Nicolaus Copernicus, seorang astronom dan matematikawan, ia pernah membantah teori gereja tentang kesalahan teori geosentrisme dan menggantinya dengan heliosentrisme, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, melainkan matahari-lah yang menjadi pusat tata surya. Benda-benda langit tidak mengelilingi bumi melainkan mengelilingi matahari. Pernyataan itu tak hanya membuatnya dicaci maki oleh gereja, bahkan beberapa ilmuan lain termasuk teolog Martin Luther juga mengolok-oloknya.
Bisa dibayangkan segala yang menyangkut iman atau kepercayaan suatu kaum yang telah diamini kebenarannya mendadak disalahkan, adalah perkara yang tak main-main, boleh jadi subjek ini akan menderita seluruh hidupnya. Namun yang jarang kita renungkan adalah tentang keseragaman yang telah kita kenakan selama ini apakah sudah tentu benar adanya. Jika kita bukan wali atau ilmuan yang belum belum teruji kesahihannya, jangan dulu merambah ke ranah itu.
Di luar ranah itu masih banyak yang perlu kita koreksi, kenapa seorang anak harus sekolah sejak dini dengan tingkatan yang ditentukan jenjang usia? Apa jika tidak sekolah si anak akan mengalami kesialan, kegagalan, dan masa depan yang suram. Mungkin banyak orang yang sukses karena sekolah, tapi ada juga orang yang bunuh diri karena stress tak mampu mengkuti jenjang sekolah yang telah ditentukan. Jarang sekali kita memikirkan kebenaran atas banyak sekali keseragaman yang telah kita kenakan tanpa sadar, apakah keseragaman ini telah benar-benar benar untuk kita kenakan?[]
—Bojonegoro, 2024
Ihwal Penulis
Fatah Anshori, lahir di Lamongan. Buku puisinya yang telah terbit Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Novelnya Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021) masuk dalam 20 besar Anugerah Sastra Nongkrong.co 2021. Cerpennya Mencari Marlin Lain yang Pernah Memakan Bunga terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018. Puisinya Mustafa Hanya Tinggal Nama terpilih dalam Nominasi Anugrah Sastra Litera.co 2021. Cerpennya Sepasang Wisatawan Tiba-tiba Tak Bernyawa Setelah Beramalam di Sebuah Desa dimuat Majalah Suluk (DKJT) 2020. Puisinya masuk dalam lima puisi terbaik Payakumbuh Poetry Festival 2022 & 2023. Diundang di Borobudur Writers & Cultural Festival 2023. Beberapa cerpen, puisi dan esainya telah dimuat beberapa media online. Sekarang bergiat di Guneman Sastra Songgolangit Creative Space dan KOSTELA.
Instagram: @fatahanshori // Facebook: Fatah Anshori
Discussion about this post