• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Yulputra Noprizal | Sebelum Magrib

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
19 Agustus 2023
in Sastra, Cerpen
1.1k 56
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Tak biasanya Saifa secemberut ini sekarang. Dari pagi ia terus cemberut. Tak tahu sebab-musabab apa. Padahal ini hari Minggu, hari libur dan masih weekend. Roni jadi termenung memerhatikan sikap Saifa sedari pagi itu. Mumpung belum masuk waktu Magrib, Roni memberanikan diri mendekati Saifa yang sedang manyun di ruang perpustakaan. Roni mengambil kursi di dekat ruang makan, dan duduk berhadap-hadapan dengan Saifa yang membelakangi meja.
“Ada apa Saifa. Kok dari pagi Uda perhatikan mukamu cemberut saja.”


Saifa biasa memanggilnya Uda, panggilan untuk orang Minang yang berarti kakak laki-laki. Itu bukan berarti Saifa orang Minang pula. Saifa orang Jawa, hanya saja panggilan itu sengaja ia bikin untuk mengingatkan bila setiap kali memanggil suaminya ia selalu ingat asal suaminya.
Saifa memaling sebentar. Lantas ia menatap Roni begitu tajam. Yang ditatap, Roni, tidak menatap balik, melainkan menekur sejenak kemudian balik menatap muka Saifa yang tak lagi menatap tajam.
“Itu Hendri siapanya, Uda?” kata Saifa dengan suara sesenggukan.
“Memang kenapa dengan Hendri. Ia kan tak lagi di rumah kita,” kata Roni dengan suara seperti menenangkan.
“Seenaknya. Sampai tiga Minggu di rumah kita.”
“Saifa. Tidak baik berbicara begitu. Hendri itu tamu. Dia orang kampung Uda. Dekat dengan Uda di kampung dulu. Ada yang dia urus ke Jakarta. Dia tidak punya tempat untuk menginap.”
“Tamu itu cuma tiga hari Uda, dan ini bukan kali pertama Uda menerima orang kampung Uda tinggal di rumah kita. Sudah enam kali aku hitung.”
“Nah, itu gunanya kamar tamu Saifa.”
“Iya, kan makan dan semua kebutuhannya kita yang tanggung. Hanya ongkos angkot yang tidak kita beri,” kata Saifa, yang sekarang cemberutnya mulai mereda. “Apalagi si Hendri, dia yang paling lama. Semuanya kita yang tanggung. Kalau tidak aku larang, pasti pas ia minta ongkos pulang Uda kasih. Hidup kita di Jakarta sederhana, Da. Kita bukan orang kaya raya.”
Ya, begitulah. Bila ada kawan atau orang kampung yang sudah dianggap sukses di Jakarta. Begitulah kebiasaan orang kampung Roni.


Perihal Hendri, sebenarnya Roni ingin menceritakan serinci-rincinya kepada Saifa. Hendri adalah anak dari orang tempat Roni jadi karyawan toko di kampung dulu. Setelah tamat SMA, Roni tak langsung masuk universitas di Jakarta. Ia bekerja dulu di sebuah toko P&D di kampung. Tepatnya di toko ayah Hendri. Dan Hendri semasa SMA tidaklah dekat dengan Roni. Mereka dekat semenjak Roni bekerja di toko ayahnya. Sering Roni dikasih makan malam bila terlambat pulang ke rumah karena toko yang masih ramai pembeli. Dari bekerja di toko ayah Hendrilah Roni bisa menabung. Uang tabungannya itu kelak jadi modal awal Hendri untuk berkuliah di sebuah kampus negeri di Jakarta.
“Hendri itu sudah uda anggap saudara, Saifa,” kata Roni setelah mengenang masa-masa ia bekerja di toko ayah Hendri di kampung dulu.
“Lantas. Heru. Siapa pula itu. Hampir dua minggu ia tinggal di rumah kita waktu itu.”
“Heru itu keponakan dari yang punya warung makan tempat Uda bekerja paruh waktu sewaktu kuliah dulu,” kata Roni.
“Keponakan dari yang punya warung makan tempat Uda kerja dulu. Kenapa tidak di rumah Om-nya saja tinggal kalau ke Jakarta.”
“Om-nya itu sudah bangkrut Saifa. Gulung tikar. Pulang kampung. Berladang kunyit di kampung sampai sekarang.”
Mendengar kata berladang kunyit seketika cemberut di muka Saifa menghilang.
“Memang kalau cuma berladang kunyit bisa menghidupi keluarga?” kata Saifa yang sedikit tersenyum.
“Kunyit itu ladangnya yang banyak. Tanaman lain ada juga Saifa. Macam-macam. Lagian Heru itu pernah sekelas sewaktu SMP dengan uda di kampung dulu.”
“Gawat juga, tuh, Heru. Rokoknya Uda yang beliin selama tinggal di rumah kita.”
“Sudahlah Saifa…,” Roni ingin mengatakan kepada Saifa arti sesungguhnya kedatangan kawan-kawannya itu ke rumah. Mereka hanyalah ibarat kata pepatah: ada ubi, ada talas; ada budi, ada balas.  
“Aku sebutin selain Hendri dan Heru. Ada Budi, Beben, Safar, dan Gahar. Memang mereka itu kawan-kawan Uda sewaktu di kampung dulu?”
“Kawan uda semua, Saifa. Mereka itu dekat dengan uda. Ada yang kawan sepengajian, kawan SMP dan sering mengerjakan PR bareng, dan kawan SMA.”
“Kalau pacar. Uda punya sewaktu di kampung dulu?”
Nah, obrolan Saifa mulai menyerempet. Melenceng dari tema yang sedang dibahas. Mendengar kata pacar itu tentu saja Roni hanya bisa menahan diri dan berusaha menguasai emosi. Jujur ia tidak pernah punya pacar sebelum bertemu dengan Saifa. Tapi kalau yang dijodoh-jodohkan ada, yang dekat ada, dan yang nyambung bila mengobrol ada.

“Bercanda Uda. Tapi ngomong-ngomong kawan Uda kalau menginap lama, lebih dari seminggu. Terus pada ngaku tak punya uang.”
“Mereka itu ada keperluan ke Jakarta Saifa. Maklumlah hidup di kampung. Cari uang susah. Ada ongkos pulang pergi saja sudah bersyukur.”
Saifa tersenyum lebar. Sekarang hatinya sudah tenang. Mendengar penjelasan Roni yang singkat dan polos, Saifa jadi terhibur.
“Tapi kapan kita pulang kampung, Uda?”
“Ke kampung uda maksudnya?”
“Iya. Kan Uda yang orang kampung. He…he…. Bercanda.”
“Kalau pulang kampung harus menyiapkan uang yang banyak Saifa. Banyak saudara-saudara yang mesti dikasih. Bertemu kawan-kawan lama juga musti ngasih uang. Minimal rokok sebungkus dan kopi segelas.”
“Banyaknya berapa kira-kira Uda?”
“Tak sampai seratus juta.”
“Waduh…. tak sampai seratus juta. Berarti hampir seratus juta dong.”
“Ya, begitulah, Saifa. Masalahnya uda belum pernah pulang kampung semenjak Ibu meninggal. Kamu tahu sendiri, semenjak lulus kuliah uda tak pernah pulang kampung.”
“Memang setiap orang pulang kampung bawa uang sebanyak itu, Uda.”
“Tidak. Banyak yang pelit dan hanya sekedar pamer mobil. Tapi itu tanda kita orang rantau. Biar terhibur orang di kampung dengan kepulangan kita.”
“Nah, soal kawan-kawan Uda yang pernah tinggal di rumah kita, apakah mereka bakal ke sini lagi,” kata Saifa dengan nada bicara khawatir.
Roni memperhatikan muka Saifa. Ada rasa kasih dan sayang yang tulus di wajah itu. Dalam hati Roni bergumam, semoga mereka tak datang ke rumah lagi.


Yulputra Noprizal, lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Alumni SMA 5 Padang (2000-2003) ini sempat menempuh pendidikan di Universitas Padjadjaran (2004-2007, tidak selesai). Sekarang tinggal di Rimbo Panjang, Kampung Koto Panai, Nagari (Desa) Air Haji, Kec. Linggo Sari Baganti, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Facebook: Yulputra Noprizal


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: CerpenMarewaipuisiSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Puisi-puisi Sultan Musa | Balak Pelukan

Puisi-puisi Sultan Musa | Balak Pelukan

Buku Puisi: Yang Tidak Mereka Bicarakan Ketika Mereka Berbicara Tentang Cinta – Jemi Batin Tikal

Buku Puisi: Yang Tidak Mereka Bicarakan Ketika Mereka Berbicara Tentang Cinta - Jemi Batin Tikal

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In