• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Heri Haliling – Presto

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
3 Agustus 2025
in Sastra, Cerpen
1k 42
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Inilah terobosan teknologi Negeri Sine Qua Non tahun 4256. Di sini semua aplikasi media sosial dilengkapi oleh virtual hologram 3D. Para professor telah mengembangkan alat haptic feedback yang memberikan pengalaman nyata seperti bermain game. Sensasi guncangan dan getaran merambah ke fisik. Semua akan bermuara pada baterai yang ada di virtual hologram 3D, di mana sakit hati bisa menurunkan daya baterai dan menjelma kematian.

*

Haikaw duduk di sebuah sofa. Jemarinya di dunia nyata terus mengetik keypad hp. Sementara virtual dirinya menyusur dan memburu. Di sana beragam organisasi telah ia bentuk meski penangkal itu belum berhasil Haikaw wujudkan.  Cukup banyak Haikaw menelan luka. Baterai hidupnya tinggal 15%. Sebagian teman banyak yang mendahulinya. Konflik klanisme di negeri ini menjelma melebihi perang.

Pada satu laman, Haikaw dan beberapa anggota merangsek karena terjadi keributan.

“Klan Jama hama!”

“Tolak transmigrasi Jama!”

“Kalian Jama, SDM rendah!”

“Sesat!”

“Jama perusak alam!”

Satu kubu dari klan Jama menghardik.

“Klan Kalem Bang itu yang SDM rendah! Demi makanan gratis rela anarkis!”

“Ya. Mereka klan yang mirip Prindivian!”

Dengan logat khas, Galo dari klan Pupuka maju. Banyak dari klan ini yang memihak pada Haikaw. Namun seorang dengan aura sentimen tinggi segera menghalang lengan.

“Di sini manusia! Bukan tempat binatang!”

Lebih 50% baterai Galo langsung tersedot. Hinaan itu begitu dalam. Sialnya, jumlah persen baterai itu adalah cadangan akhir daya. Haikaw segera berlari memapah Galo yang mulai melemah.

“Keterlaluan, kau!” hardik Haikaw pada pemuda itu.

“Tak apa, kawan,” ucap Galo lirih. “Nyatanya mulia mana, orang kau sebut binatang dengan manusia yang cari makan di tempat binatang!”

Tak ada sesal dari barisan penghina di sana. Padahal ucapan Galo itu beriring dengan terhapusnya virtual dirinya.

“Galo!!” pekik Haikaw kehilangan.

Darahnya mendidih! Tanpa pikir panjang, ia serang pemuda penghina klan itu!

Bukk!!

Satu hantaman menjungkalkan si pemuda. Kawannya segera berang hendak membalas. Namun Haikaw langsung berujar, “Kiamat negeri ini segera terjadi! Kalian ini buta! Sikap klanisme demikian menjadikan negeri ini remuk!”

“Kau SDM rendah dengan tak melihat fakta, Haikaw!” kata Gilbert. Dia seorang asing pemilik laman ini. Gilbert akhirnya menyembul dari kerumunan dan menampilkan virtual bercahaya.

“Negerimu tak menjamin apa-apa! Negeri daif begini tak akan menengok kasta rendah! Urusan tinggi dan komersil yang ada dalam agenda kerja junjungan kalian!”

Gilbert yang bersinar tak pelak buat semua klan terpana. Dia bentangkan tangan seraya berujar, “Datanglah ke negeriku! Hidup kalian kami jamin! Di sini kalian hanya menjadi jongos dari sistem bobrok!”

Haikaw segera mencegah.

“Jangan saudaraku! Ingatlah petuah tokoh pendahulu! Beliau pernah berkata ‘Berpikirlah seperti orang Sinang, bekerja seperti orang Jama, dan berbicara seperti orang Bavaka!’

“Pendahulu yang kau maksudkan itu dari klanmu. Wajar kau puja dan bela mati-matian. Sementara tokoh dari klan kami hanya berakhir mengendap di bui!” protes seorang dari klan Sinang.

Jleb! Baterai Haikaw berkurang 5 %. Gilbert tertawa menang.

“Bukan itu yang ku maksudkan!”

“Ahh!!! Mulut klanmu yang sedari lampau pintar berdusta! Untuk apa kami ikuti!” potong pemuda klan Sinang itu.

“Dengarkan!” bentak Hakiaw. “Beri aku waktu! Aku tak melihat dari mana mula slogan itu! Siapa yang bisa menafikan navigasi kelautan dari klan Bugia? Siapa yang meragukan kelestarian hutan dan adat dari klan Kayak? Siapa yang meragukan kecintaan terhadap seni budaya dari Klan Balia? Bagiku setiap klan punya kelebihan dan kekurangan. Sikap dari klanku yang menyimpang di sanapun aku tak setuju! Namun bukan penyamarataan begini! Pilihan prilaku seorang atau kelompok bukan dipengaruhi klan, tapi pemenangan pertarungan nurani dan ambisi!”

“Pada akhirnya dogma dominasi dari klanmu yang harus kami terima, bukan?” provokasi Gilbert.

“Kaulah pendogma itu! Laman ini kau ciptakan untuk perseteruan! Pada akhirnya bateraimulah yang penuh sementara semua klan di sini akan lebur perlahan!”

“Tidak jika mereka pindah! Begini saja,” Gilbert melangkah. Dia lihat wajah setiap klan. “Negeriku adidaya! Disegani dunia! Aku tak paksa kepindahan. Tanah di pulau kalian tersisa batu dan pasir. Bergabung di negeri ini sama saja merebutkan tulang untuk bertahan. Semua daging telah diambil oleh klan seperti Haikaw! Merdekalah! Negeriku mendukung penuh!”

Sorak sorai pecah! Semua klan saling memandang. Imajinasi bergelimang bagai permata. Setiap klan mendambakan kemakmuran dan terlindungi.

“Bayangkan semua kekayaan itu dikelola klan sendiri.”

“Ya. Didukung negara adidaya lagi.”

“Aku pernah ke sana. Pembaca buku disubsidi setiap tahun. Pengangguran digaji. Tempat tinggal disediakan. Dan oh ya, kabarnya negeri itu juga kekurangan aktor pria dewasa. Waahaha.”

“Pisah! Pisah!! Merdeka!” sorak sorai tambah membahana.

Haikaw meremat dada. Napasnya sendat. Virtualnya mulai pudar. Pucat melabuh di wajahnya dengan bermandikan keringat. Bahkan seruan itu merayu banyak orang dari klannya. Dia berdikari sekarang. Tapi hanya sejenak. Baterainya telah kosong daya. Sungguh kehancuran dari dalam. Di atas sofanya, sekonyong-konyong Haikaw tumbang lalu tenggelam.


Bionarasi

Heri Surahman memiliki nama pena Heri Haliling.  Pria kelahiran Kapuas, 17 Agustus 1990 itu adalah seorang guru di SMAN 2 Jorong di Kalimantan Selatan. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif sebagai penulis. Beberapa karyanya antara lain Novel Perempuan Penjemput Subuh (Aksara Pustaka Media, 2024), Novelet Rumah Remah Remang (J-Maestro, 2024), dan buku kumpulan cerpen Perempuan Penggenggam Pasir (Guepedia, 2025).  Adapun untuk cerita pendek, karya-karyanya telah dimuat di beberapa majalah sastra dan koran digital atau cetak. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun Ig heri_haliling, email [email protected].

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: CerpenSastra

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Next Post
Cakap Film: Sinners – Malam Tragis dan Penebusan Dosa

Cakap Film: Sinners - Malam Tragis dan Penebusan Dosa

Pembukaan Pekan Nan Tumpah 2025: Siska Aprisia akan Tampilkan “Lidah Yang Tersangkut di Kerongkongan Ibu”

Pembukaan Pekan Nan Tumpah 2025: Siska Aprisia akan Tampilkan "Lidah Yang Tersangkut di Kerongkongan Ibu"

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In