• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025
in Sastra, Cerpen
951 72
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia gemari. Rintik-rintik hujan kini enggan untuk ia abadikan. Di dalam sajak ataupun cerita-cerita hujan yang telah ia tuliskan selama bertahun-tahun ini. Hujan telah melukainya begitu dalam. Ia tidak mengatakan hal ini kepada siapapun. Bahkan ia pun mantap untuk meninggalkan kota hujan tempat ia berdiam sejak lahir.

            Dulu ia begitu menyukai hujan. Siapapun tahu itu. Ketika masih kecil, ia selalu berlari keluar rumah, dan menikmati setiap tetes air yang turun dari langit itu. Ia bahkan sangat menyukai titik-titik hujan yang menggelitik sekujur tubuhnya. Panggilan ibu agar masuk ke dalam rumah tak pernah ia indahkan. Di sini curah hujan begitu tinggi. Sehingga setiap anak-anak enggan untuk melewatkan kesempatan untuk menikmatinya. Tak terkecuali bagi Aralyn gadis manis yang kini telah berusia 23 tahun itu. Satu-satunya orang yang dengan senang hati membiarkannya untuk menikmati permainan itu ialah ayahnya.

            Aralyn masih ingat bagaimana dulu ia dan ayah akan berkendara saat jalanan basah dan dedaunan yang satu-satu berguguran ditimpa butiran hujan. Meskipun ayah selalu menyiapkan jas hujan untuk meredam angin dan air yang akan membasahi pakaian dan tubuh mereka, tetap saja ayah selalu antusias untuk mengajak Aralyn menikmati tiap tetesannya. Bahkan pernah suatu waktu ayah mengajaknya mengejar hujan.

            Sebuah hal yang membuat Aralyn begitu bersemangat. Jika curah hujan belum terasa dan terlambat datang di kota mereka, ayah akan mengajaknya ke kota tetangga ataupun daerah terdekat dari tempat tinggal mereka hanya untuk mencari dan mendengarkan simfoni hujan. Aralyn acapkali memejamkan matanya, hikmat dalam nyanyian hujan yang mereka rasakan dan tak lupa mengucapkan sesuatu.

“Mohonkanlah sesuatu ketika kau mendengar deru hujan. Sebab ia akan kembali ke langit bersama setiap doa-doa yang kau ucapkan.” Ayah pernah mengungkapkan hal itu kepadanya.

Sejak usia kanak-kanak hingga jelang dewasanya, hujan tak ubahnya bagai pembawa pesan yang tak pernah mengecewakannya. Setiap harapan serta kehendaknya selalu akan kembali dalam wujud yang ia butuhkan. Karena itu ritual hujan bersama ayah selalu menjadi hal yang ditunggu-tunggunya. Namun semua itu kini tinggal kenangan bagi Aralyn. Semua hal yang menjadi kegemarannya itu sudah tak lagi bisa ia lakukan. Hujan telah membawa segala hal baik itu mengalir ke arah yang tak dikehendakinya.  

*

Hampir dua tahun semenjak kepergian Aralyn dari kota kelahirannya. Aralyn begitu menyukai tempatnya yang baru. Daerah timur yang menjauhkannya dari semua kenangan ataupun hal-hal yang menyakitinya. Satu hal yang paling menenangkannya, di tempatnya yang baru ini ia tidak perlu sering-sering berhadapan dengan hujan yang dibencinya. Di sini hujan hanya turun dalam hitungan jari. Sangat jarang dan curahnya pun tidak selebat di kampung halamannya. Aralyn pun saat ini sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang ada di sini. Termasuk aktivitasnya di sebuah komunitas literasi.  

Aralyn terlihat sangat sibuk hari itu. Ia bersama teman-teman sedang mempersiapkan segala perlengkapan untuk acara workshop literasi mereka nanti malam.(25/4/2024) Sebuah panggung sederhana lengkap dengan backdrop kegiatan mulai mereka persiapkan sejak tadi pagi. Panggung kecil itu kemudian juga ditambah dengan sound system yang kini sedang dipasang beberapa teman laki-laki Aralyn. Sementara Aralyn mempercantik meja narasumber dengan meletakkan tumpukan buku dan vas bunga kecil di sampingnya. Lalu dilanjutkan dengan menyiapkan perlengkapan ATK peserta. Kerepotan-kerepotan seperti inilah yang bisa membantu Aralyn melupakan kenangan pahitnya bersama hujan.

Persiapan untuk acara workshop pun selesai sekitar pukul satu siang. Aralyn dan teman-temannya lalu beristirahat makan siang. Mereka akan berkumpul kembali pukul empat sore untuk menerima pendaftaran ulang para peserta workshop. Senyum sumringah menghiasi wajah Aralyn dan rekan-rekannya. Raut wajah mereka tampak puas. Obrolan dan canda tawa pun mengiringi langkah mereka meninggalkan ruangan acara.

*

            Acara workshop literasi yang digagas oleh Aralyn dan teman-temannya itu telah berjalan sejak pukul delapan malam tadi. Peserta begitu antusias mengikuti kegiatan workshop sehari yang mereka adakan. Wajah-wajah penasaran yang tadi mereka perlihatkan saat pertama tiba, kini berganti dengan raut gembira yang menandakan acara berhasil menyedot perhatian mereka. Dalam sesi penyampaian materi tadi, mereka berebut untuk bertanya kepada narasumber. Pembawa acara pun kewalahan meminta agar para peserta tetap tenang dan mendengarkan dengan saksama jawaban dari narasumber.

            “Semua bacaan itu bermanfaat. Hanya saja jangan buru-buru untuk melahap segala jenis buku. Nanti ujung-ujungnya kalian pusing sendiri. Hal paling penting itu apa yang bisa kalian tangkap dari hasil bacaan itu. Baca, resapi dan tafsirkan makna apa yang disampaikan dari buku bacaan itu.”

            Aralyn dengan tergesa mengetik uraian dari narasumber. Hari itu ia bertugas sebagai notulen. Tangannya mulai terasa pegal mengetik pemaparan narasumber yang cukup banyak itu. Untungnya uraian tadi merupakan jawaban dari sesi tanya jawab yang terakhir. Aralyn tersenyum sejenak, sebentar lagi ia terbebas dari huruf-huruf di keyboard tersebut. Setelah pembawa acara menutup sesi hari itu dan seluruh rangkaian acara, para peserta pun bangkit dari tempat duduk masing-masing. Mereka terlihat santai dan tidak buru-buru pulang. Banyak dari peserta yang mengambil kesempatan itu untuk beramah tamah dengan sesama peserta. Namun yang tidak dapat dielakkan adalah sesi foto bersama. Para peserta lainnya berebut untuk berfoto dengan narasumber yang merupakan penulis legendaris tanah air.

            Dari meja tempat ia berada, Aralyn hanya memperhatikan pemandangan itu. Ia lekas mengemasi perlengkapan yang tadi digunakannya.

            “Aralyn, nanti jangan lupa rangkumannya dirapikan dan dibagikan ke grup wa komunitas ya…” Arga, salah satu senior di komunitas itu mengingatkannya.

            Aralyn menghentikan kesibukannya sesaat. “Iya Kak. Nanti secepatnya aku kirimkan ya, Kak.”

            Arga pun berlalu meninggalkan Aralyn yang baru saja selesai membereskan semua perlengkapannya.

*

Panggung itu kini sudah kosong. Hanya ada satu standing mic di sisi kiri. Sudah sekitar dua jam yang lalu ruangan itu sepi dari para peserta. Malam kian larut. Aralyn terduduk sendiri di antara bangku-bangku peserta. Di luar teman-temannya masih mengobrol. Sudah menjadi kebiasaan setiap usai acara, mereka akan berkumpul dan menghabiskan sisa waktu untuk membincangkan berbagai hal. Atau sekadar bersenda gurau. Tidak terkecuali bagi Aralyn awalnya. Namun Aralyn segera beranjak dari teman-temannya, setelah bercakap-cakap dengan Pak Afyan. Aralyn teringat perkataan Pak Afyan, narasumber mereka, yang kini bersarang di kepalanya.

Aralyn dan teman-temannya tadi sempat berbincang dengan Pak Afyan, usai membereskan berbagai perlengkapan acara. Mulanya percakapan mereka berjalan biasa. Mereka membincangkan program-program komunitas ke depan, bagaimana situasi dunia perbukuan tanah air saat ini hingga obrolan lebih personal menyangkut kehidupan dan kegiatan mereka masing-masing. Pak Afyan begitu tertarik mendengarkan ucapan mereka satu per satu.

“Kalau saya sih, nggak ke mana-mana Pak. Cukup kerja di sini saja, Pak. Mau memajukan kampung halaman saya,” Andra berkata dengan penuh percaya diri.

Bara kemudian ikut menimpali, “Saya juga, Pak. Nggak ada yang lebih nyaman dari tanah kelahiran sendiri, Pak.

Aralyn mendengarkan jawaban teman-temannya sambil tersenyum kecut.

“Apapun pilihan kalian menurut saya, sama baiknya. Tetap di sini sambil membangun tanah kelahiran ataupun meninggalkannya untuk mencari pengalaman baru dan kembali suatu saat nanti, juga tidak ada salahnya. Yang penting…,” Pak Afyan menghela napas berat dan tiba-tiba menghentikan ucapannya. “Yang penting, jangan seperti saya. Pergi tapi nggak pernah kembali. Sekalinya ada niat buat pulang semuanya sudah terlambat.”

Wajah-wajah anak muda yang ada di hadapan Pak Afyan, kini tampak serius. Mereka heran sekaligus penasaran dengan perkataan Pak Afyan yang terasa menggantung. Ingin bertanya lebih lanjut, tapi merasa segan.

Pak Afyan tertawa kecil. “Tampang kalian jangan terlalu serius begitu. Pasti kalian pada penasaran ya… Ceritanya panjang. Saya hanya ingin berpesan di mana pun kalian hidup suatu saat nanti dan apapun yang kalian kerjakan, jangan pernah lupakan tempat asal kalian. Betapa pun buruknya kehidupan di sana, tetap saja itu rumah kalian. Tempat semua bermula.”

“Jangan seperti saya, hanya karena merasa tersinggung sama saudara yang ngeremehin saya yang nggak lanjut kuliah, saya minggat dan nggak pernah pulang sampai berhasil. Taunya pas ngerasa udah mapan dan pengen pulang, orang-orang yang saya cintai justru sudah nggak ada, sudah berpulang semua.”

*

            Ucapan terakhir Pak Afyan sebelum pamit tadi, seperti sebuah sindiran halus dan menjadi pengingat bagi Aralyn. Ia sudah sekitar dua tahun ini tidak pulang. Bukan hanya ia tidak ada niat untuk kembali ke kota hujan, kampung halamannya. Tapi Aralyn pun jarang menghubungi mereka yang ada di kampungnya. Termasuk adik laki-laki satu-satunya yang kini tinggal bersama bibi mereka. Kenangan pahit air bah usai hujan deras di kota kelahirannya masih terus membayang di ingatannya. Tidak hanya kehilangan tempat tinggal dan semua harta yang mereka miliki. Tetapi Aralyn juga harus merelakan kedua orangtuanya berpulang akibat banjir besar itu. Mereka hanyut terbawa arus dan tidak dapat diselamatkan.

            Aralyn mengerjapkan kedua matanya yang berkaca-kaca. Sebuah lonceng kesadaran mendera dirinya. Tak seharusnya ia membenci hujan dan meninggalkan mereka yang ia sayangi. Betapapun pahitnya kenyataan yang terjadi, Aralyn tidak punya kekuatan untuk dapat mencegahnya. Ia pun menyadari semuanya sudah digariskan. Hujan bukanlah penyebab utama, ia hanyalah bagian dari skenario yang sudah ditetapkan.

Aralyn cepat-cepat menghapus tetes air mata yang meleleh di kedua pipinya. Kini ada hangat yang mengalir di dadanya. Bersambut dengan rasa rindu di tubuhnya. Rindu untuk mengunjungi kampung halaman, berjumpa dan bercengkrama dengan adik dan keluarganya yang tersisa. Serta keinginan untuk kembali mendengarkan simfoni hujan, sambil berharap sesudahnya sinar matahari yang hangat menyentuh kulitnya. Aralyn pun sudah tidak sabar agar esok segera menyapanya. (Padang, 6/5/2024).

***

PROFIL PENULIS:

ADE FAULINA, penulis kelahiran Padang, 1 Februari 1987. Berkecimpung di dunia tulis menulis sejak duduk di bangku kuliah pada tahun 2005 di IAIN Imam Bonjol Padang. Menulis karya fiksi dan non-fiksi. Tulisan-tulisannya dapat ditemukan di media massa (cetak dan online). Seperti Tabloid Suara Kampus, Koran Singgalang, Padang Ekspres, Haluan, Haluan Riau, marewai.com, langgam.id, kliksiar.com, covesia.com, tribunsumbar.com, dll. Serta telah menerbitkan dua buku berupa kumpulan puisi “Pesta Bulan Air” (Kabarita, 2016) dan kumpulan cerpen “Kelopak Bunga Dara” (Rumah Kayu Pustaka, 2023).  Saat ini menetap di kota Padang, Sumatera Barat. Dapat dihubungi melalui email [email protected].

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026
Tags: CerpenSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Puisi: Gelanggang – Nico Farentinno

Puisi: Gelanggang – Nico Farentinno

Oleh Redaksi Marewai
18 Oktober 2025

Gelandangan sentak tidur gelandanganroda empat lalu lalangemperan toko pinggir jalanah, pagi kembali terulang kardus coklat alas pantatjaga tubuh tetap...

Next Post
Festival Akhir Tahun Steva 2025 : Membaca, Melihat, Merasakan, Mempelajari dan Merayakan

Festival Akhir Tahun Steva 2025 : Membaca, Melihat, Merasakan, Mempelajari dan Merayakan

Jejak Aksara Rilis “Terus Berlanjut” Setelah Menuntaskan Tur 9 Kota di Dua Negara

Jejak Aksara Rilis “Terus Berlanjut” Setelah Menuntaskan Tur 9 Kota di Dua Negara

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In