• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Bangunan-bangunan Penanda : Usaha-usaha Pemerintah Merias Daerah

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
20 April 2021
in Esai
1.1k 67
0
Home Budaya Esai
BagikanBagikanBagikanBagikan

Pesisir Selatan baru-baru ini telah mendirikan sebuah ikon religi (sebuah Masjid), menjadikan Masjid ini rumah ibadah yang ikonik di Pesisir Selatan, mungkin juga Sumatra Barat. Dinamai sebagai Masjid Samudra Ilahi, terletak di pusat kota Kabupaten Pesisir Selatan, Painan. Tepatnya di Pantai Carocok. Lokasi wisata paling bertahan lama eksistensinya di daerah pesisir pantai barat ini. Tentu hal serupa bukanlah sesuatu yang baru; membuat bangunan untuk meningkatkan eksistensi/memancing wisatawan/promosi/branding. Nampaknya Pesisir Selatan tak cukup puas melakukan hal tersebut melalui wisata, maka dicoba pula melalui bangunan.

Sebelumnya juga ada Tugu Babiola, yang mengundang banyak komentar seimbang. Eh, berat sebelah mungkin. Selain itu juga ada tempat ibadah yang tak kalah megahnya, terletak di Kawasan Bahari Mandeh, Tarusan. Berada di atas bukit, lokasi yang amat sangat strategis. Jauh dari keramaian, nihil oleh keriuhan para pembalap kampungan. Berada jauh dari pemukiman warga (mungkin dibuat untuk pengunjung wisata Mandeh). Tapi wajar-wajar saja, adanya sebuah kritikan atau komentar berarti masyarakat masih memerhatikan kerja pemerintahnya. Salut.

Tapi bukan itu yang akan kita bicarakan, sesungguhnya banyak halhal kecil yang barangkali luput dari pantauan pemerintah ataupun pejabat daerah, atau mungkin diri sendiri. Halhal kecil tersebut berupa agenda jangka panjang, sebuah kegiatan yang dibuat rutin, mungkin setahun sekali ataupun sekali sebulan. Kerja nyata yang berkesinambungan, benar-benar menyeluruh. Ya, menyeluruh mungkin akan beralasan sulit, tetapi kegiatan menyeluruh tersebut tak harus pemerintah yang turun langsung. Perpanjang tangan pemerintah dalam melaksakan tugas dan kewajibannya adalah masyarakatnya sendiri. Ada tugas pemerintah yang tak dapat ia lakukan tanpa masyarakat, ada pula tugas masyarakat yang tak dapat dilakukan tanpa adanya pemerintah. Campur tangan inilah yang harus disiasati pemerintah daerah, bukan main surang. Setelah ada banyak bangunan yang ikonik, apa sebenarnya dampak signifikan bagi masyarakat Pesisir Selatan? Untuk pemerintah tidak perlu kita kaji, karena apa yang mereka kerjakan atau bangun adalah memang tugasnya.

Masjid Samudra Ilahi. Nama ini sebelum beredar luas sudah dikalahkan oleh sebutan Masjid Terapung. Wajar saja, karena pemerintah menyuarakan proyek tersebut sebagai Masjid Terapung (promosi/branding), sedangkan Samudra Ilahi adalah nama Masjid (tertulis). Tentu ini adalah kerja yang patut diapreasi, sebuah tempat ibadah yang megah, sarat makna disampaikan lewat konstruksi bangunannya, lengkap dengan filosofi, memandangnya saja membuat pengunjung nyaman. Apalagi beribadah di dalamnya. Kerja seperti ini tak bisa dipandang sebelah mata, tak cukup hanya dikomentari lewat pantauan mata saja. Atau takoktakok uwok dari kabar angin.

Nah, setelah adanya bangunan ini, kita akan menunggu agenda-agenda yang berkait. Bila sekedar tempat ibadah saja, tentu bangunan ini bakal terkesan kerja mubazir, kerja buang-buang uang. Jauh lebih baik jika dana tersebut disalurkan kebanyak rumah ibadah di Pesisir Selatan untuk perbaikan bangunan ataupun pembinaan. Kita tak perlu naif mengakui itu, bila hanya untuk beribadah semata, masih banyak tempat yang layak untuk dijadikan. Toh, ibadah (salat) adalah kewajiban yang tak bisa ditingglkan, meski di rimba sekali pun. Yang diharapkan dengan adanya bangunan Masjid megah ini adalah manfaatnya dalam bentuk kegiatan keislaman; pembinaan, pengajian, forum, dan lainnya. Pemerintah harus meninggalkan kebiasaan akutnya, bahwa bangunan yang ia buat adalah milik masyarakat Pesisir Selatan, bukan milik daerah dimana bangunan tersebut berdiri. Kecuali, bangunan tersebut didirikan menggunakan uang pribadi atau kelompok tertentu.

Terhitung mulai dari Tugu Babiola, sampai Pancuran Boga, ada lebih dari 3 Tugu dan tempat persinggahan. Megah dan mewah. Betapa pemerintah berusaha keras melihatkan kerja nyatanya. Kerja melalui bangunan, kerja yang nampak di mata masyarakat. Salutsalut! Tapi apa sebenarnya yang ingin dicapai, meski Tugu hanyalah sebuah penanda, hanya sebuah pengingat? Adakah lebih dari tugu saja yang diniatkan, semisalnya, Tugu Babiola lengkap dengan pembinaan keseniannya, tugu pahlawan, lengkap dengan kelompoknya yang mencatat, mengarsipkan kerja kolektifnya dalam pencarian sejarah pahlawan tersebut ataupun sejarah lainnya. Atau tetap kita pakai pengertiannya saja? Tugu: sebuah penanda yang dibuat dari material bata, pasir, besi, cat dan lainnya. Gunanya untuk penanda, sebagai pengingat bahwa kita pernah mempunyai mereka.

Kita tak cukup memusatkan Pesisir Selatan di ibukota saja, tapi bagaimana Pesisir Selatan tumbuh menjadi satu kesatuan yang utuh, yang jaraknya dari pangkal sampai ujung menempuh waktu lebih lama dari Padang-Padang Pariaman-Pariaman. Sungguh sia-sia rasanya bila bangunan hanya semata euforia, sedangkan SDM merosot, pengelola wisata yang minim pembinaan, tempat-tempat potensial wisata tertinggalkan, usang menjadi cerita masa lampau. Ada yang tinggal sebagai mitologi semata, mitos yang dibuat-buat, dan berita-berita bohong tentang lokasi-lokasi sejarah yang sarat makna kita dijadikan magis, sakral dan menakutkan.

Dengan adanya Masjid Terapung-Samudra Ilahi, pemerintah dapat membuka mata melakukan kegiatan bersama, merangkul, mencatat, mendata orang-orang yang benar-benar ingin bergerak dengan tulus. Tempat ini bisa menjadi suatu ruang berkumpul, mengadakan forum forum yang sekiranya wajar diadakan di sana. Tentu pemerintah memiliki banyak alternatif tempat, tak harus di Masjid pula. Jangan ada lagi kabar sumbang tentang tidak dapatnya putra-putri daerah tempat untuk melakukan kegiatan. Memberikan fasilitas berupa tempat/alat  (sekiranya wajar) tentu tak akan menyalahi aturan.

Membuka diri tentu membiarkan semua kritikan, masukan, pemikiran dari banyak kepala datang. Bila tak sanggup sekiranya, bagaimana caranya bakal ada gagasan baru yang muncul atau Pemerintah hanya sedang menjalankan yang datang saja?

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Tags: BudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby Wahyu Riyodi

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby Wahyu Riyodi

Oleh Redaksi Marewai
6 November 2025

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby...

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Oleh Redaksi Marewai
11 Mei 2025

Oleh Al Fikri Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Imam Bonjol Padang Di balik megahnya Nagari Magek hari ini, tersimpan...

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak Muda | Muhammad Nasir

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak Muda | Muhammad Nasir

Oleh Redaksi Marewai
20 April 2025

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak MudaOleh: Muhammad Nasir (Penyuka Buku/Dosen UIN Imam Bonjol Padang) Di Ranah Minang, tradisi...

Esai – Punkdikbud | Wallcracks

Esai – Punkdikbud | Wallcracks

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2025

Terlebih dahulu sedikit penerangan dalam lembaran pendek ini, bahwa PUNKDIKBUD tidak bermaksud untuk menimbulkan perdebatan-kusir mengenai topik usang tentang...

Next Post
Punago Rimbun: Menyilau Nagari Palangai Kecamatan Ranah Pesisir | Zera Permana

Punago Rimbun : Nagari Kambang Dalam Pusek Jalo Banda Nan Sapuluah | Zera Permana

Peringati Hari Bumi 2021: Komposer dan Seniman Lintas Bangsa Berkolaborasi "Restore" untuk Support Pendidikan Lingkungan Hidup

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In