• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, April 7, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Aji Mantrolot: Penggalan XI: KABAU KETEK (Bagian I) | Dewang Kara Sutowano

Dewang Kara Sutowano Oleh Dewang Kara Sutowano
7 April 2026
in Aji Mantrolot
970 30
0
Home Aji Mantrolot
BagikanBagikanBagikanBagikan
  • About
  • Latest Posts
Dewang Kara Sutowano
Dewang Kara Sutowano
Dian Ihkwan S.IP, dengan nama pena Dewang Kara Sutowano, seorang penikmat sejarah Minangkabau. Hadirnya serial Cerita Pendek yang berbalut sejarah ini semata-mata bertujuan untuk melihat Maharaja Adityavarman dari sudut pandang yang berbeda, agar ada perimbangan sejarah yang adil atas sosok Raja Malayu tersebut.
Dewang Kara Sutowano
Latest posts by Dewang Kara Sutowano (see all)
  • Aji Mantrolot: Penggalan XI: KABAU KETEK (Bagian I) | Dewang Kara Sutowano - 7 April 2026
  • SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 9 Januari 2026
  • Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII) - 24 November 2025

AJI MANTROLOT
(Sebuah Cerita Panjang Yang Sengaja Dicerai-Berai).
Penggalan XI: KABAU KETEK (Bagian I)
Oleh: Dewang Kara Sutowano


Satu Minggu setelah peristiwa di Bukit Atar atau sekira dua minggu sebelum pembukaan sidang di Balairong Sari Tabek Pariangan, diujung selatan, suasana di Dharma Seraya belakangan inipun agak berbeda dari yang biasa. Semenjak kedatangan Aji Mantrolot dari Jawadvipa beberapa bulan yang lalu, Dharma Seraya telah sedikit berkurang ketenangannya. Hari-hari dipenuhi berita perang, dan prajurit-prajurit bersenjata lengkap lebih sering terlihat berkeliaran disekitar istana kerajaan.

“Daulat Tuanku Maharani!”, seru seorang berpakaian Ampanglimo sambil tergopoh gopoh menghadap kehadapan YDP Puti Reno Marak Janggo. “Anak yang mulia, Aji Mantrolot dan pasukannya sudah sampai di Tanjung Simalidu”.

Maharani Puti Reno yang duduk disinggasana diatas istana kerajaan menoleh kearah Ampanglimo, pikirannya berkecamuk saat ini. Kabar-kabar yang didapatnya dari Luhak benar-benar membuatnya risau, setelah hampir satu minggu menunggu, akhirnya dia bisa menemui anaknya yang baru pulang dari Kampar.

Tanpa berpikir panjang Maharani bertitah, “Panggil Rajo Mudo menghadapku sekarang!”.

Dalam hati Maharani sedang berkecamuk dua perasaan, perasaan rindu dan marah. Rindu kepada anak semata wayangnya yang sudah satu bulan lamanya tidak bertemu, dan marah kepada anak semata wayangnya yang tidak tertib melaksanakan perintah Ratu.


“Sepertinya Kau masih membawa gaya Majapahit mu dalam berurusan di Malayapura, Rajo Mudo..”, ucapnya dengan mimik wajah datarnya kepada Aji Mantrolot.

Lama Bundo kanduang Maharani memandang sosok didepannya yang sedang duduk bersila, seorang pria gagah nan tampan rupawan dalam balutan pakaian khas bangsawan, tapi ada yang aneh dari pakaian yang dipakai oleh anaknya tersebut ketika saat ini dia menghadap. “Kau tidak memakai pakaian Wredhamentri-mu, kenapa anakku.., kenapa kau memakai Tanjak Malayu dikepalamu..?”.

“Hamba adalah anak kandung Puti Reno Marak Janggo, Maharani Kerajaan Malayapura di Dharma Seraya..”, jawab Aji Mantrolot singkat.

“Kau sampai saat ini masih menjabat sebagai Perdana Mentri Kerajaan Majapahit..”, timpal Bundo Kanduang.

“Hamba adalah cucu kandung Srimat Tribhuvanaraja Maulibhusana Varmadeva, Maharaja Kerajaan Malayapura di Dharma Seraya..”, kembali Aji Mantrolot menjawab singkat.

Bundo Kandung terdiam
“Apa tujuanmu sebenarnya, anakku..?, kenapa kau mendatangi Panai, Kampar dan Natal dengan pedang terhunus..?, ujar Maharani melunak selayaknya seorang ibu bertanya kepada seorang anak.

Aji Mantrolot diam tak menjawab. Lantas dia menarik keris Curiak Simadanggiri warisan ayahnya dari pinggangnya dan dengan gesture membungkuk meletakkan keris bersarung batu berhias Mutu Manikam tersebut dengan kedua telapak tangan beliau didepannya.

Bundo Kanduang memandang keris tersebut. Keris pemberian suaminya kepada anaknya Aji Mantrolot pada saat Aji lahir, sebagai tanda kehormatan bangsawan yang akan meneruskan kejayaan wangsa Malayu.

“Sebagian dari Mereka sedang mencoba-coba bermain menjadi Maharaja, bundo. Hamba hanya mencoba menertibkan perilaku mereka..”, jawab Aji Mantrolot singkat.
“Semua sudah kembali tertib, pihak yang seharusnya mengatur sudah kembali ketempatnya dan mendapatkan kembali kewenangannya, sedangkan pihak-pihak yang mencoba bermain-main menjadi Maharaja sudah hamba gantung di alun-alun kota mereka..”.

“Kenapa kau menggunakan pendekatan dan cara-cara Majapahit ditanah leluhurmu. Ini tanah Malayu, bukan tanah Jawadwipa. Kau tak perlu memperturutkan cara pamanmu Gajahmada membakar Pasai dan Bali..!, sergah Bundo Kanduang. “Di Majapahit kau adalah Perdana Mentri, disini kau adalah Anak Puti Reno Marak Janggo, aku tidak pernah mengajarkan cara-cara ini dalam menyelesaikan konflik..!”.

“Hamba datang ke Svarnadvipa bukan untuk kepentingan Maharani Tribuvana Tunggadevi. Hamba datang ke Svarnadvipa untuk kepentingan dan kebesaran kakek hamba, Tribhuvanaraja Maulibhusana Varmadeva..”, jawab Aji.

“Apakah ini artinya kau sudah meninggalkan Maharani Tribhuvana Tunggadevi dan Trowulan..?”, tanya Bundo Kanduang dengan mimik wajah terkejut.

“Hamba lihat Bundo sudah tua dan sakit-sakitan. Lalu kepada siapa lagi akan kita tompangkan kebesaran Kerajaan Malayu ini, hamba sebagai anak merasa harus berbakti.”, jawab Aji Mantrolot.

Bundo Kanduang terdiam. Dia baru paham kenapa anaknya menggunakan Tanjak saat ini, dan bukan baju kebesarannya sebagai Maha Mantri Majapahit.

“Keluarga kita adalah Kanakamedi-Indra, penguasa Pulau Paco Pulau Ameh, sudah lama hamba merantau Bundo, sudah saatnya Hamba kembali ketanah Malayu, ke Ranah Bundo..”, ujar Aji Mantrolot sambil kembali menyarungkan Curiak Simadanggiri di pinggang dan bangkit dari duduknya.

“Tapi anakku, kau belum menjawab pertanyaan ibumu!”, sergah Bundo Kanduang.

“Restorasi bundo, anakmu ini berniat merestorasi Kerajaan Malayapura warisan Kakek. Beristirahatlah bundo, jaga kesehatan Bundo, Bundo masih diharapkan rakyat dan rakyat masih memuliakan Maharani Kerajaan Malayu dan kepemimpinanya. Urusan para pemberontak dan para penyamun serta lanun di perbatasan serahkan kepada hamba anakmu ini..”, jawab Aji Mantrolot tegas.

“Daulat, Tuanku Maharani!”, Aji Mantrolot mengundurkan diri.

Maharani Kerajaan Malayapura tidak kuasa menahan kepergian Aji Mantrolot. Ada kekuatan yang mencegah dia menahan laju langkah Adityavarman meninggalkan istana Dharma Seraya.


Sejurus Aji melangkahkan kakinya keluar dari Istana, berdiri didepannya tiga orang rombongan pendeta yang dijumpainya di Padang Gantiang beberapa hari yang lalu.

Mereka saling memandang tanpa suara, Mpu Dhamma lantas membuka kata dengan sapaan kepada Aji. “Salam Kebajikan, saudara Rajo Mudo”.

“Sadhu.., apa berita untukku dari Suravaca, saudara Pendeta..?” Ucap Aji dengan nada datar.

“Seperti yang telah sama kita ketahui saat di Bukit Atar beberapa hari yang lalu, kami sudah melaksanakan tugas kami di Suravaca dengan sebaik-baiknya, maka dengan kepulangan kami ke Dharma Seraya saat ini adalah untuk keperluan melapor kepada paduka Sri Maharani Puti Reno Marak Janggo..”, ucap Mpu Dhamma.

“Kau belum menjawab pertanyaan ku, saudara pendeta”. Pungkas Aji.

“Saya hanya menyarankan kepada Tuan Rajo Mudo untuk mempersiapkan diri Tuan berangkat ke Suravaca karena minggu depan Tuan akan dilantik menjadi Tuan Suravaca menggantikan mendiang Rajo Akarendravarman..”.

Aji tertegun, tidak bersuara.
Seketika jalan ke Pariangan terbentang luas dalam bayangan aji.

“Kami permisi Tuan, kami akan menyampaikan berita bahagia ini kepada Paduka Sri Maharani. Salam”. Mpu Dhamma berlalu disamping Aji Mantrolot yang masing membeku.


Malam itu, Satu Laksa besar Pasukan yang dipimpin langsung oleh Aji Mantrolot dan para Ampanglimo terbaiknya berderap menuju Nagari Suravaca dari Tanjuang Simalidu. Bergetar tanah Dharmas Raya dibuatnya.

Puti Reno Marak Janggo hanya memandang kepergian anak semata wayangnya berangkat menjempit takdirnya ke Suravaca dari balik jendela istana. Dia masih belum mendapatkan jawaban dari Anaknya tersebut.

BERSAMBUNG

Tags: Budaya

Related Posts

SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Redaksi Marewai
3 Februari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII)

Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII)

Oleh Dewang Kara Sutowano
25 November 2025

Manakala sidang pemilihan Datuk Indharma gelar Tuan Suravaca sudah memasuki hari ke lima… Sore itu di tepian Nagari Sitangkai...

AJI MANTROLOT: Penggalan VIII – Kabau Gadang (Bagian VI) Dewang Kara Sutowano

AJI MANTROLOT: Penggalan VIII – Kabau Gadang (Bagian VI) Dewang Kara Sutowano

Oleh Redaksi Marewai
6 November 2025

Posisi bulan sudah cukup tinggi, malam itu sangat tenang, hampir tak ada angin, sebuah pasukan yang tak lebih besar...

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In