- SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 9 Januari 2026
- Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII) - 24 November 2025
- Aji Mantrolot: Penggalan VII – Kabau Gadang Bagian V - 30 Oktober 2025

AJI MANTROLOT
(Sebuah Cerita Panjang Yang Sengaja Dicerai-berai)
PENGGALAN VII: KABAU GADANG (Bagian V)
Oleh: Dewang Kara Sutowano
Pangeran Aji Mantrolot menatap puncak stupa Candi Mahligai didalam kompleks Candi Muaro Takus sambil menyentuh susunan bata yang menyusun kaki-kaki candi tersebut. Matanya kemudian turun kearah Kaki Candi yang bersudut empat dengan masing-masing berdiri kokoh patung Singa kendaraan Sang Budha ke Nirwana di ke empat sudutnya yang masing-masing patung singa tersebut memandang ke arah empat mata angin.
“Selamat datang di Muara Takus, di Ranah Tigo Jurai, tuan Rajo Mudo..”, sapa seseorang lembut membuyarkan lamunan Aji Mantrolot.
“Mohon maaf jika saya mengganggu urusan tuanku Datuak. Saya hanya ingin memastikan bahwa warisan nenek moyang saya terjaga dengan baik..”, timpal Aji Mantrolot kepada Datuk Raja Dubalai, pimpinan Andiko 44 Kampar yang berpusat di Nagari Muara Takus.
“Rakyat Kampar masih menjaga warisan megah ini, Tuanku. Peninggalan kebesaran Kerajaan Srivijaya lama yang sekarang penerusnya berada di Kerajaan Malayapura di Dharma Seraya. Kami masih setia dengan Bundo Kanduang Maharani Puti Reno Marak Janggo, tuanku Rajo Mudo tidak perlu meragukan posisi kami dalam hal ini..”, ujar Datuk Rajo Dubalai berusaha meyakinkan sosok yang memandang tajam dihadapannya.
“Tak sedikitpun hamba meragukan kesetiaan Andiko 44 terhadap Kerajaan Malayapura dan kepada Sri Maharani..”, Aji Mantrolot menanggapi pujian Datuk Rajo Dubalai datar.
*
“Maafkan jika hamba bertanya kepada tuan, hendak kemanakah tuan Pangeran selanjutnya dengan membawa pasukan yang sebegitu banyaknya..?”, tanya Datuk Rajo Dubalai sambil mengarahkan pandangannya kearah barak-barak pasukan yang didirikan tak jauh dari lokasi Candi, berjejer di sepanjang tepian sungai batang Kampar Kanan.
“Saya berada di sini untuk memastikan bahwa empat daerah di empat Mata Angin yang ditunjukkan oleh empat Singa yang berdiri di empat sudut kaki Candi Mahligai ini menyatakan kesetiaannya kepada Malayapura..”, ujar Aji Mantrolot menatap Datuk Rajo Dubalai.
Datuk Rajo Dubalai tertegun. Wajah beliau menegang.
“Tuanku Datuak tentu tau yang saya maksudkan, bukan..?, Aji Mantrolot menatap Datuk Rajo Dubalai.
“Empat sudut kaki-kaki Candi Mahligai ini menunjuk ke arah empat mata angin yang merujuk kepada empat candi Siwa-Mahayana, tempat ibadah Raja-Raja kerajaan Srivijaya jaman dahulu kala, tuan Pangeran..”, jawab Datuk Rajo Dubalai.
Aji Mantrolot masih memandang Datuk Rajo Dubalai seolah menyiratkan agar Datuk Rajo Dubalai menyelesaikan keterangannya yang masih “tanggung” tersebut.
Datuk Rajo Dubalai lantas meneruskan, “di utara ada Candi Bahal di Padang Lawas Panai, di Barat ada Candi Tanjung Medan di Pasaman, di timur ada Candi Muaro Jambi di Jambi, dan selatan arah menunjuk kepada Candi Padang Roco di ibukota di Dharma Seraya, tuan Rajo Mudo..”, ujar Datuk Rajo Dubalai menegaskan.
“Dan dari posisi hamba tegak saat ini, tentunya tuanku Datuak paham kemana tujuan hamba, bukan..?”, ujar Aji Mantrolit sambil tersenyum.
Datuk Rajo Dubalai tidak lagi menjawab.
Aji Mantrolot kemudian bertitah, “Tadi pagi sebelum sang Surya terbit, sebagian besar pasukan saya sudah berangkat ke arah barat (Tanjung Medan/Natal) dan utara candi Mahligai ini (Padang Laweh Barumun-Panai)”. Aji Mantrolot melanjutkan, “Sedangkan sekitar seratus prajurit yang saat ini tuanku Datuk lihat berkemah dipinggir muaro sungai Kampar Kanan ini akan saya bawa ke Kuntu, untuk bergabung dengan pasukan saya yang baru saja menundukkan Kedatuan Kuntu Kampar beberapa waktu yang lalu, saya tidak berencana meninggalkan pasukan saya disini untuk menjaga candi ini, kecuali mungkin Tuanku Datuk memerlukannya..?”, tanya Raja Palokamo sambil menatap, antara menyelidik dengan menyindir pemuka Adat Kampar dihadapannya.
“Oh tidak, tuan, tidak perlu. Tak ada yang perlu tuan Rajo Mudo khawatirkan disini, di sini aman-aman saja sesuai dengan komitmen yang hamba sampaikan tadi..”, jawab Datuk Rajo Mudo agak kaget.
Aji Mantrolot lalu melanjutkan, “Hamba harapkan keramah-tamahan seluruh rakyat Kampar selama kami di sini. Mohon kerjasama Andiko 44 dan tuanku Datuk Rajo Dubalai bagi kepentingan Kerajaan Malayapura. Ketertiban harus ditegakkan, Malayapura harus kembali berdiri tegak di keempat mata angin, demi kejayaan Wangsa Mauli..!”, ucap Aji Mantrolot dengan nada tegas.
“Kampar akan setia dan tunduk kepada kebesaran Kerajaan Malayapura..!”, ujar Datuk Rajo Dubalai lantas membisu.
“Ingat Datuk, Hamba minta Tuanku Datuk dan segenap jajaran Andiko 44 tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh sebagian Rakyat tuanku Datuak di Kedatuan Kuntu di Kampar kiri yang memberontak kepada Kerajaan Malayapura dan sudah hamba bumi hanguskan dari peta Svarnabhumi saat ini..!”, ujar Aji Mantrolot dengan wajah mengeras kearah Datuk Rajo Dubalai.
Datuk Rajo Dubalai hanya diam sambil menunduk.
“Sementara saya akan menetap di Kuntu Kampar, sambil menunggu perkembangan pergerakan pasukan yang saya kirim untuk meminta kepatuhan pada rakyat Natal dan Barumun kepada Malayapura dan membangun kembali kestabilan dan ketertiban di Kuntu. Jika Tuanku Datuk ada keperluan dengan saya, cari saya disana”, titah Aji Mantrolot singkat.
“Baik, yang mulia Raja Muda..”, Datuk Rajo Dubalai memberikan respon yang singkat saja.
Aji Mantrolot kemudian membalikkan badannya lalu berjalan pelan menuju Candi Bongsu yang berada disebelah Candi Mahligai. “Puti Bongsu yang berasal dari Pariangan, lereng Gunung Marapi. Tempat di mana Dua Wangsa, Sailendra dan Indra, bersatu menjadi sebuah kekuatan di Bhumi Malayu..”, gumam beliau di dalam hati.
“Setelah ke empat mata angin kembali berada didalam genggaman Malayapura, aku berjanji akan menepati takdirku di Pariangan..”, bisik Aji Mantrolot pada dirinya sendiri.
“Saya undur diri dulu tuanku Datuak..”, Aji Mantrolot berjalan keluar dari komplek candi Muara Takus dengan pengawalan ketat dari beberapa pasukan elit Bhayangkara. Datuk Rajo Dubalai hanya memandang langkah kaki Pangeran Aji Mantrolot yang semakin menjauh.
*
Keesokan harinya menjelang siang, Aji Mantrolot dan sekitar seratus orang pasukannya sampai di Kedatuan Kuntu di Kampar Kiri. Kedatuan ini dulunya merupakan salah satu sentra perdagangan utama di tepian sungai Kampar. Paska ekspedisi Pamalayu, ditambah melemahnya pengaruh Kerajaan Malayapura paska mangkatnya Maharaja Tribhuvana Mauliwarmadewa, maka Kuntu kemudian melepaskan diri dari posisinya sebagai Vassal Malayapura.
Selama pemerintahan Maharani Puti Reno Marak Janggo, Kedatuan Kuntu relatif tidak diganggu karena Maharani Puti Reno Marak Janggo lebih sibuk menyelesaikan semua persoalan internal yang ditinggalkan oleh mendiang Maharaja Tribhuvana sehingga tidak punya waktu dan kemampuan untuk memaksa wilayah-wilayah luar Kerajaan Malayapura kembali tunduk pada Malayapura, termasuk vassal di Kuntu. Ketika Aji Mantrolot anak Maharani Puti Reno Marak Janggo kembali dari Majapahit, berbekal pasukan Bhayangkara yang menjadi andalan beliau di jawa ditambah para pasukan Raja Muda di Dharma Seraya, Aji Mantrolot memulai kampanye militernya untuk merebut kembali wilayah-wilayah Malayapura yang sempat melepaskan diri dari kendali Dharma Seraya.
Aji Mantrolot menyapu pandangannya ke dermaga Kuntu yang sudah hangus terbakar, sambil menunjuk kearah dermaga, “Aku minta dermaga sungai ini kembali dibangun secepatnya agar fungsinya sebagai jalur perhubungan dan perdagangan di sungai Kampar kembali pulih!”, ujarnya. “Kita sudah menguasai seluruh aliran sungai Kampar kecuali bagian hulunya yang berada di Pasaman, yang saat ini sedang aku usahakan untuk merebutnya seutuhnya, dari hulu ke hilir, aku tak mau ada lagi kendala disepanjang sungai ini, kita butuh aliran upeti secepatnya dari Kampar, jika perdagangan di sungai kampar tersendat, maka tersendat juga pemasukan untuk Malayapura”. Tandas Aji. “Tuan Bandaro, harap segera dikerjakan!”, tutup Aji Mantrolot.
“Baik, Yang Mulia…”, timpal tuan Bandaro.
*
Aji Mantrolot baru saja duduk, memandang hidangan makan siang diatas meja makan. Semua hidangan ini hanya untuk dirinya sendiri, seperti juga prinsipnya selama ini bahwa semua keberhasilan dan kemenangan seharusnya dimiliki dan dirayakan untuk dirinya sendiri.
“Ijin yang mulia, saya menghadap untuk menyampaikan beberapa kabar dari ibukota..”, ujar seorang prajurit pembawa surat yang baru saja sampai dari Dharma Seraya.
Aji menghentikan suapannya tapi matanya masih memandang pinggan didepannya yang penuh lauk pauk, “Apa berita yang kau bawa untuk ku, prajurit?”, ujar Aji singkat tanpa memandang wajah si prajurit.
“Ada dua berita yang mulia. Pertama, Maharani Kerajaan memerintahkan tuan Raja Muda untuk segera kembali ke Dharma Seraya dan menghadap beliau..”, ujar si prajurit.
“Sepertinya bunda sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya yang sedang mati-matian berperang untuk mengembalikan kebesaran kerajaan ini nampaknya…”, gumam Aji dalam hati kecilnya sambil tersenyum tipis dan memandang kearah jendela samping kediamannya.
“Lalu apa berita kedua, prajurit..?”, tanya Aji kemudian.
“Mamak Raja Muda di Suravaca, tuanku Suravaca Raja Akarendravarman gelar Datuk Indharma, telah tewas dalam perkelahian di Dusun Tuo V Kaum..”
Suasana berubah hening.
Derap langkah prajurit yang sedang berpatroli terdengar jelas dari jendela.
Gesekan roda besi pembawa meriam dorong terdengar lebih mengilukan gusi saat ini.
“Praaannggg..!!”, dengan lengan kekarnya, Aji Mantrolot menyapu seluruh isi meja dalam sekali sapuan tangan. Seluruh isi meja berserakan dilantai. Piring-piring keramik cina yang pecah berderai, Aji mengangkat wajahnya, memandang tajam pada si prajurit, “siapa yang membunuh Mamak ku, prajurit?!”, tanya beliau sambil menggertakkan giginya.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, Mamak tuan Raja Muda dibunuh beberapa hari yang lalu oleh Datuk Bandaro Kuning, pucuk Kedatuan Dusun Tuo di V Kaum..”, ucap prajurit yang sudah berkeringat dingin tersebut singkat.
Aji masih menahan amarahnya. Seketika dia teringat kenangan-kenangan lamanya bersama sang Mamak, ketika Aji masih bocah, Mamak Akarendra sering mengajak beliau bermain bahkan bergelut di lantai baleh istana Malayapura, kediaman adik sepupu mamak Akarendra, Puti Reno Marak Janggo. Ketika Aji kehilangan sosok ayahnya yang lebih memilih mengabdi di Kerajaan Majapahit, Mamak Akarendra seumpama pengganti ayah bagi Aji Mantrolot.
“Kumpulkan seluruh pasukan kita di Kuntu, kita akan berangkat ke Dusun Tuo nanti malam juga untuk tindakan pembalasan atas penghinaan mereka..!”, ujar Aji setengah berteriak.
“Ampun beribu ampun yang mulia Raja Muda, pasukan yang saat ini berada di Kuntu hanya kurang dari 150 prajurit, sebagian besar pasukan kita sedang dalam perjalanan menuju Natal dan Barumun. Sedangkan…..”, belum sempat prajurit menyelesaikan kalimatnya, Aji seketika itu juga menarik pedangnya dari pinggang dan menghunuskannya tepat kewajah si prajurit, ujung pedang tajam itu hanya berjarak kurang dari satu jengkal dari bola mata si prajurit.
“Kau mempertanyakan otoritasku sebagai panglima perang kerajaan Malayapura, prajurit?”, ucap Aji Mantrolot dengan mata melotot.
“Tidak, yang Mulia…”, tenggorokan prajurit tercekat.
“Maka laksanakan perintahku sekarang juga!”, teriak Aji.
Prajurit lantas bangkit dari posisi menghadapnya dan berlari kecil ke arak barak utama diseberang kediaman Aji Mantrolot. Dari kejauhan terdengar keriuhan isi Barak, beberapa prajurit berpangkat perwira lantas berlarian ke barak-barak disebelah barak utama. Kemudian setelah beberapa lama mereka bersama-sama menghadap ke kediaman Raja Muda Aji Mantrolot.
Sang Surya sudah terbenam sepenuhnya diufuk barat, para perwira keluar dari kediaman Aji Mantrolot, seseorang diantara mereka berbisik, “segera persiapkan pasukan, kita akan menyebrangi Batang Sinamar malam ini menuju Suravaca dan kemudian menyerang Dusun Tuo V Kaum…!”






Discussion about this post