
“Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.
Oleh: Irawan Winata
Dalam perspektif dramaturgi, pertunjukan “Yang Tumbuh dan Yang Tak Pernah Lahir” karya sutradara Tya Setyawati berhasil menjaga keterkaitannya dengan cerpen “Seorang Anak Sebaiknya Lahir di Rumah yang Hangat” karya Yetti A.KA. Pertunjukan ini tidak terjebak pada upaya memindahkan cerita secara harfiah ke atas panggung. Meminjam konsep adaptasi Linda Hutcheon (A Theory of Adaptation), pertunjukan ini melakukan alih media yang mandiri, menjadikan tema, emosi, dan gagasan utama cerpen sebagai pijakan, lalu membangun ruang dramatiknya sendiri. Pilihan artistik ini membuat pementasan memiliki identitas yang utuh dan berdaya ubah sebagai sebuah karya teater.
Keputusan sutradara menggeser pusat dramatik dari sudut pandang Suami ke tokoh Istri (Minami) merupakan langkah strategis yang memperkuat fokus pertunjukan. Perubahan sudut pandang ini mengalihkan perhatian penonton dari sekadar proses pengungkapan misteri alasan Minami tidak ingin melahirkan, menjadi pemaknaan mendalam atas pengalaman batin seorang penyintas trauma. Akibatnya, bahasa panggung yang dibangun melalui olah tubuh, tata ruang, dan suasana menjadi jauh lebih intim, emosional, dan tajam menyasar isu utama.
Kekuatan pementasan ini justru terletak pada kemampuan Tya Setyawati menerjemahkan teks sastra ke dalam pengalaman teatrikal (theatrical experience). Kalimat “Seorang anak sebaiknya lahir di rumah yang hangat” tidak lagi berfungsi sebatas judul, melainkan menjadi ruh pementasan. Rumah tidak lagi dipahami secara harfiah sebagai latar tempat, melainkan sebagai ruang dramatik yang menyimpan luka, kesunyian, dan trauma para aktornya. Pertunjukan ini tidak hanya menceritakan kisah Minami, tetapi juga mengajak audiens merenungkan kembali fungsi rumah, sebagai ruang yang idealnya memberikan rasa aman, namun dalam realitas kontemporer sering kali menjadi sumber keretakan bagi anak.
Hubungan antara cerpen dan pertunjukan ini mewujud dalam bentuk hubungan intertekstual yang matang. Sutradara dan dramaturg berhasil menangkap jiwa cerpen, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa visual, gesture tubuh aktor, dan atmosfer panggung yang memukau. Di dalam cerpen, porsi kehidupan kelam masa lalu Minami baru terkuak di bagian akhir melalui kacamata Suami. Namun, di panggung teater, Tya Setyawati mengungkapkan dinamika traumatis tersebut secara langsung dan gamblang.
Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari keaktoran yang solid:
- Tokoh Minami: Aktor berhasil merepresentasi kekerasan seksual masa kecil yang menjelmakan trauma psikis saat berumah tangga. Ketakutan mendalam ini tidak tertangkap oleh Suami karena ketiadaan komunikasi langsung, sehingga menciptakan jarak emosional yang dingin.
- Tokoh Suami & Lily: Konflik diam-diam ini mendorong tokoh Suami melarikan diri ke bar dan bertemu Lily, seorang pelayan bar yang merupakan single parent. Kemunculan Lily menghadirkan kontradiksi dramatis, seorang perempuan yang terdesak secara finansial justru mampu mengasuh anak, sementara Minami yang berada dalam kondisi finansial stabil memilih menolak kehamilan. Pergeseran batin ini memicu perselingkuhan Suami, yang secara ironis juga mencurigai istrinya melakukan hal serupa.
- Aktor Anak-Anak & Pasangan Pembanding: Kemunculan aktor anak (anak Lily) menambah dimensi spektakel panggung dengan artikulasi emosi yang cukup kuat. Ditambah kehadiran dua aktor lain sebagai representasi pasangan rumah tangga lain, penonton secara intuitif diajak membandingkan dua ketegangan domestik yang berbeda.
Tentu saja, dalam sebuah pertunjukan panggung, kerikil-kerikil kecil kerap hadir. Pada babak tertentu, ketika tiga aktor perempuan (pemeran Minami, Lily, dan sosok istri lain) menari bersama, koordinasi akhir gerakan sempat sedikit terganggu akibat musik pengiring yang berhenti mendadak. Selain itu, di beberapa bagian, dinamika vokal aktor sempat tertutup oleh intensitas soundtrack yang terlalu dominan sehingga artikulasi dialog kurang terdengar jelas di kursi penonton. Meski demikian, catatan teknis ini tidak mengurangi kualitas artistik pertunjukan secara keseluruhan.
Pada akhirnya, pertunjukan ini menegaskan sebuah pesan moral dan psikologis yang kuat, sebelum seorang perempuan seperti Minami melahirkan kehidupan baru, ia harus disembuhkan terlebih dahulu dari luka masa lalunya. Trauma antar-generasi harus diputus agar rumah benar-benar kembali menjadi tempat tumbuh yang hangat, bukan tempat mewariskan kekerasan yang berulang.
Pementasan Yang Tumbuh dan Yang Tak Pernah Lahir karya Tya Setyawati ini sukses memanjakan mata sekaligus memuaskan dahaga para pembaca karya Yetti A.KA dan penikmat teater. Sebuah sajian yang memberikan efek katarsis mendalam pada ruang pertunjukan.
Catatan Pelaksanaan: Hadir dalam rangkaian 13 tahun penyelenggaraan Festival Nan Jombang Tgl3, Senin, 3 Agustus 2026.





Discussion about this post