
Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater
Oleh: Irawan Winata
Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata artistik, dihidupkan oleh sandiwara tokoh, dan dirajut dalam keutuhan skenografi, panggung sejatinya memproyeksikan kehidupan bagi penontonnya. Kekuatan magis inilah yang memaksa penonton untuk berpikir, memaknai, mengulas, hingga membicarakannya setelah lampu auditorium padam.
Namun seiring berjalannya waktu, ekosistem teater saat ini tampak meranggas, ia bertumbuh secara kuantitas tetapi gugur secara kualitas. Peristiwa teater hari ini tak ubahnya sekadar seremonial administratif demi menyelesaikan kewajiban RAB. Ketika panggung sekadar menjadi penyerapan anggaran, seniman teater seolah kehilangan tanggung jawab moral terhadap intelektualitas penontonnya.
Krisis ini berdampak langsung pada menyusutnya ruang apresiasi. Berkurangnya kuantitas penonton teater secara masif memicu pertanyaan besar! siapa yang harus disalahkan? Apakah seniman murni, seniman berdarah campuran, seniman harian lepas, seniman aparatur negara atau seniman proyek yang belakangan subur menjamur?
Fenomena sepinya penonton ini linier dengan matinya regenerasi di institusi akademik. Berdasarkan realitas di Sumatera Barat, program studi yang bersinggungan langsung dengan seni pertunjukan, seperti Jurusan Sastra Indonesia atau jurusan teater di berbagai universitas, terus mengalami penurunan peminat yang signifikan. Bahkan, geliat aktivitas teater kampus di Sumatera Barat dalam satu dekade terakhir dinilai mengalami masa kekosongan yang mengkhawatirkan. Teater kehilangan gairah karena dipandang sebagai cabang seni yang “berat”, rumit, dan minim menjanjikan masa depan secara ekonomi, sehingga generasi muda perlahan memalingkan wajah.
Situasi ini diperparah oleh kegagalan estetika di atas panggung. Banyak sutradara hari ini berlindung di balik konsep pertunjukan kontemporer yang meminimalkan kata. Namun, alih-alih menghadirkan kedalaman makna, eksperimen teater mini kata justru dirasa kurang bertanggung jawab dalam membangun struktur dramaturgi.
Muncul pertanyaan spekulatif, apakah teater saat ini berkiblat ke tari, atau teater telah menjelma menjadi tari itu sendiri?
Secara teoretis, jika kita merujuk pada konsep Dramaturgi Aristotelian dalam teks klasiknya Poetics, esensi dari sebuah drama adalah mimesis yang harus mampu menggerakkan emosi, memberikan pencerahan (katharsis), dan menyampaikan gagasan melalui struktur plot yang logis. Ketika teater memilih jalur “mini kata” sebuah bentuk estetika yang dipelopori oleh tokoh teater Indonesia seperti Danarto atau WS Rendra sebagai perlawanan terhadap dominasi teks teks konvensional gerak tubuh (aktor) seharusnya bertindak sebagai “kata” itu sendiri yang sarat akan subteks, simbolisme, dan metafora teatrikal yang kuat. Sayangnya, yang ditampilkan di panggung saat ini sering kali hanyalah gerak tubuh ragawi tanpa konsep dramaturgi yang matang; sebuah eksploitasi visual yang tidak jauh berbeda dengan pertunjukan tari kontemporer biasa.
Menghadapi pendangkalan estetika tersebut, penonton teater yang dulunya ramai dan digandrungi anak muda ternyata memilih bersikap cerdas. Mereka tidak memilih pasrah di kursinya, penonton justru juga sedang melakukan “atraksi kontemporer”, Penonton membiarkan bangku-bangku kosong, hanya diisi oleh angin, udara, dan kesenyapan sebagai bentuk kritik paling radikal terhadap pertunjukan teater yang kehilangan kedalamannya.
Bagaimana dengan seniman yang lainnya, apakah juga bisa mempertanggung jawabkan moralnya seperti mempertanggung jawabkan RAB?
Hari ini, pertunjukan teater seolah dilumat habis oleh ego program kemajuan kebudayaan yang bersifat top-down. Seniman berlomba-lomba mengisi wadah kompetisi dan festival, di mana urusan perut sering kali mendikte arah kreativitas. Seniman yang terbuai oleh kebegahan perut terlamun dalam kemalasan berpikir. Mereka menyajikan jalan pintas dengan meminimalkan dialog dan mengandalkan visual gerak yang miskin makna, yang pada akhirnya mematikan daya kritis penonton.
“Penonton kontemporer” pada dasarnya tidak pernah ada. Namun, mereka menjelma menjadi ada ketika “kutukan panggung” aktif melalui rentetan bangku kosong di ruang pertunjukan. Jika kompetisi seniman dalam mengentaskan program kesenian hanya melahirkan karya-karya instan tanpa mempertimbangkan kecerdasan penonton, maka kutukan tersebut akan bekerja secara sempurna. Pada saat itu, teater tidak hanya akan kehilangan penontonnya, tetapi juga akan melenyapkan dirinya sendiri dari peta peradaban kesenian.




Discussion about this post