• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Senin, Juni 15, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026
in Berita Seni Budaya
972 41
0
Home Budaya Berita Seni Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama dihadirkan dalam program ini, yakni Pameran Kelompok Simpul, Ruang Temu, dan Kumpul di Room C. Selama tiga hari, Kumpul IV mempertemukan seniman, penulis, pegiat budaya, dan publik dalam berbagai forum yang membuka ruang berbagi pengalaman, pembacaan karya, serta percakapan mengenai perkembangan seni rupa di berbagai wilayah Sumatera.

Simpul: Ruang Pertemuan Beragam Praktik Seni Rupa Sumatera

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan Pameran Kelompok Simpul pada 5 Juni 2026 di GUA Lokal, Jalan Kalingga No. 14, Medan. Pameran ini menampilkan karya delapan seniman dari berbagai kota di Sumatera, yaitu Yulfa Haris Saputra (Aceh), Ai, Simu Anugrah, dan Winarto Kartupat (Medan), Rara Almada Mutiara (Bengkulu), Imam Teguh Sy dan Jimmi Kartolo (Padangpanjang), serta Nanda Pradinhe (Padang).

Dalam sambutannya, Jedidah Angkasa dari tim manajemen GUA Lokal menyampaikan bahwa Simpul dihadirkan sebagai ruang pertemuan bagi beragam praktik dan pengalaman berkesenian di Sumatera. “Simpul tidak berupaya menghadirkan satu gambaran tunggal tentang Sumatera, melainkan membuka ruang bagi berbagai cara melihat, membaca, dan memahami pengalaman yang tumbuh dari konteks yang berbeda-beda,” ujarnya.

Melalui karya-karya yang dipamerkan, Simpul memperlihatkan bagaimana ingatan, lingkungan, material, keseharian, hingga perubahan sosial hadir melalui pendekatan artistik yang beragam. Perbedaan latar geografis dan pengalaman para seniman tidak diarahkan menjadi satu suara, melainkan menjadi bagian dari percakapan yang saling terhubung dalam satu ruang bersama. Dalam pembukaan pameran, penulis dan kurir seni rupa Hendro Wiyanto yang terlibat sebagai teman ngobrol Kumpul IV menilai karya-karya yang ditampilkan menunjukkan proses pencarian yang penting dari para seniman muda Sumatera. Menurutnya, seni rupa Sumatera memiliki sejarah panjang yang melahirkan banyak perupa penting. Jejak tersebut tidak perlu diulang, tetapi dapat menjadi sumber inspirasi bagi praktik seni rupa hari ini. Hendro juga menyoroti bagaimana para seniman dalam Simpul bekerja dengan material yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru dari material yang digunakan. Kain, kawat, pasir, foto, atau benda-benda yang kita temui setiap hari sudah ada di sekitar kita. Yang menjadi penting adalah bagaimana seniman memberi konteks baru, menciptakan relasi baru, dan menghadirkan cara pandang baru terhadap hal-hal yang selama ini dianggap biasa,” ujar Hendro.

Menurut Hendro, sikap kritis seniman hadir ketika sesuatu yang tampak biasa dipertanyakan kembali melalui karya. Ia mencontohkan penggunaan pasir dalam karya Winarto Kartupat maupun pertemuan antara fotografi, cyanotype, dan kantung teh dalam karya Simu Anugrah. Benda-benda yang sehari-hari terlihat biasa ditempatkan dalam hubungan yang berbeda sehingga membuka kemungkinan pembacaan baru.

“Sering kali kita menganggap dunia yang kita lihat sehari-hari sebagai sesuatu yang sudah selesai dipahami. Seni membantu kita keluar dari kebiasaan itu, melihat kembali hal-hal yang selama ini luput diperhatikan, dan menemukan hubungan-hubungan yang sebelumnya tidak kita bayangkan,” Jelasnya.

Sebagai bagian dari rangkaian Simpul, GUA Lokal juga menghadirkan Artist Talk pada 7 Juni 2026 yang mempertemukan publik dengan sejumlah seniman peserta pameran. Kegiatan yang berlangsung di lantai tiga Me & Kalingga ini menjadi ruang berbagi proses kreatif, latar belakang karya, serta berbagai pengalaman yang membentuk praktik artistik masing-masing seniman.

Artist Talk menghadirkan Simu Anugrah, Ai, Imam Teguh Sy, Yulfa Haris Saputra, dan Jimmi Kartolo. Melalui sesi diskusi yang berlangsung terbuka, para seniman membagikan proses berkarya, sumber inspirasi, serta berbagai pertanyaan yang melatarbelakangi praktik artistik mereka.

Seniman asal Padang, Diah Angginauli Sitompul, juga menilai Ruang Temu tidak hanya menjadi tempat untuk saling mengapresiasi karya, tetapi juga ruang kritik dan refleksi yang membantu seniman mengembangkan karya sekaligus memperluas cara pandangnya dalam berkesenian.

Kumpul di Room C: Menelusuri Jejak Seni Rupa Melalui Koleksi dan Percakapan

Rangkaian Kumpul IV ditutup melalui kegiatan Kumpul di Room C pada 7 Juni 2026. Bertempat di Room C Art Gallery, Medan, kegiatan yang dihadiri belasan peserta ini menghadirkan suasana yang lebih intim melalui kunjungan koleksi dan sesi berbagi pengalaman bersama seniman sekaligus pemilik ruang, Franky Pandana.

Franky Pandana merupakan seniman multidisipliner asal Medan yang berkarya melalui gambar, lukisan, kolase, seni konseptual, hingga performance art. Karya-karyanya telah ditampilkan dalam berbagai pameran di Medan, Yogyakarta, Jakarta, Malaysia, dan Jepang. Pada 2023, ia turut menjadi seniman undangan ArtJog melalui karya berjudul Art Instruction. Selain aktif berkarya, Franky juga dikenal sebagai salah satu pegiat yang konsisten mendorong perkembangan seni rupa di Medan melalui berbagai ruang dan inisiatif seni yang dibangunnya. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak berkeliling melihat puluhan karya yang menjadi bagian dari koleksi Room C Art Gallery. Satu per satu karya diperlihatkan sembari disertai cerita mengenai pertemuan, persahabatan, dan perjalanan yang melatarbelakangi kehadirannya dalam koleksi tersebut.

Percakapan juga mengarah pada sosok almarhum Panji Sutrisno yang memiliki peran penting dalam perjalanan Franky dan keluarganya di dunia seni rupa. Melalui berbagai pertemuan dan hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun, Panji dikenang sebagai sosok yang memperkenalkan mereka kepada banyak seniman serta membuka jalan bagi berbagai pengalaman yang kemudian membentuk perjalanan mereka hingga hari ini. Selain berbagi mengenai koleksi, Franky turut menjelaskan proses artistiknya sebagai seniman. Menurutnya, setelah melalui berbagai medium dan pendekatan berkarya, ia selalu kembali pada drawing sebagai dasar yang paling penting dalam praktik seni rupa.

“Saya suka drawing. Buat saya drawing itu dasar yang paling penting bagi seorang perupa. Awalnya saya multidisiplin, membuat kolase, seni konseptual, hingga performance art. Akan tetapi, pada akhirnya saya kembali ke dasarnya. Bukan drawing yang realistis, melainkan mulai dari menarik garis dan membiarkan garis itu bergerak. Saya mengejar spontanitas garis tersebut, bukan bentuknya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa karya-karyanya tidak sepenuhnya berangkat dari pendekatan abstrak. Sejumlah bentuk tetap berangkat dari realitas yang kemudian diolah kembali melalui garis, permanent marker, dan spray paint sebagai bagian dari eksplorasi visual yang terus berkembang. Melalui Kumpul di Room C, peserta tidak hanya diajak melihat karya yang tersimpan dalam sebuah koleksi, tetapi juga memahami berbagai pengalaman, relasi, dan proses yang membentuk perjalanan seorang seniman. Dari percakapan mengenai koleksi, praktik berkarya, hingga ingatan tentang tokoh-tokoh yang turut membangun ekosistem seni rupa, kegiatan ini menjadi ruang berbagi yang memperlihatkan bagaimana seni tumbuh melalui pertemuan dan hubungan yang terus dirawat dari waktu ke waktu.

Sekilas GUA lokal GUA

lokal merupakan inisiasi yang bertujuan membawa seni rupa Medan ke ruang yang lebih akrab, terbuka, dan kritikal. Berbasis di Medan, Jl. Kalingga 14, GUA lokal secara konsisten mendorong pemaparan praktik perupa lokal sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan melalui program kuratorial dan diskurs publik. Sejak 2022, GUA lokal telah menyelenggarakan berbagai program pertemuan dan pameran, di antaranya pameran Rakit (2022), Merekah (2024), Minor Melodis (2025), dan ADA (2025), serta forum pertemuan Kumpul (2023–2025) dan Potluck (2025–2026). Sejak November 2025, GUA lokal menghadirkan program buku bertajuk Kutu Rupa. Ruang baca ini hadir bagi seniman dan publik untuk menjelajahi gagasan seni rupa secara kritis melalui koleksi buku seni serta pertemuan antara pembaca dan perupa. Kutu Rupa terbuka bagi publik setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 11.00 WIB sampai 19.00 WIB. GUA lokal pernah berkolaborasi bersama Me& BakeOut, Clapham, Room C Art Gallery, Penerbit Gang Kabel (untuk Kutu Rupa), Sekelak Foto dan Kinocolony. Informasi terkait kegiatan terkait GUA Lokal juga bisa diakses melalui Instagram @gua_lokal dan situs resmi gualokal.com.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera - 14 Juni 2026
  • GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV - 14 Mei 2026
  • Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata - 25 April 2026
Tags: Berita seni dan budayaBudaya

Related Posts

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

Oleh Redaksi Marewai
14 Mei 2026

Medan, 10 Mei 2026 - Kumpul IV menandai keberlanjutan sebuah ruang yang diinisiasi oleh GUA lokal, yang dalam beberapa...

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
25 April 2026

Tidak ada hukum wajib atau teori khusus yang mengharuskan sebuah komunitas teater memiliki penulis naskah tetap. Keberadaannya bukanlah sekadar...

Kesuksesan Totalitas Aktor Ku-Liek pada Festival Nan Jombang Tgl3, Menggantung Hak Intelektual Penonton dalam Dekonstruksi Nilonali | Irawan Winata

Kesuksesan Totalitas Aktor Ku-Liek pada Festival Nan Jombang Tgl3, Menggantung Hak Intelektual Penonton dalam Dekonstruksi Nilonali | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
6 April 2026

Nan Jombang Dance Company selalu memberikan kesejukan bagi jiwa seniman, menyediakan ruang agar mereka dapat terus tumbuh dan berkembang...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In