
Nan Jombang Dance Company selalu memberikan kesejukan bagi jiwa seniman, menyediakan ruang agar mereka dapat terus tumbuh dan berkembang dalam mengekspresikan karyanya. Salah satunya melalui “Festival Nan Jombang Tgl 3” edisi 3 April 2026 yang menghadirkan Komunitas Seni Ku-Liek. Mereka membawakan pertunjukan teater “Nilonali Sang Puti Bungo Karang” karya Wisran Hadi yang telah didekonstruksi, bertempat di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Jumat 3 April 2026.
Legenda Puti Bungo Karang merupakan folklor yang berakar kuat di wilayah Pesisir Selatan, Sumatra Barat, khususnya di sepanjang pantai hingga gugusan pulau sekitarnya. Sebagai representasi identitas masyarakat maritim, sosok putri ini dianggap sebagai penjaga keramat ekosistem laut yang menghuni ruang transisi antara dunia nyata dan gaib. Namanya mencerminkan dualitas karakter yang unik, kelembutan estetis layaknya bunga, namun memiliki keteguhan pelindung sekuat karang yang mampu mengendalikan ombak demi menjaga keseimbangan alam pesisir.
Secara naratif, kisah ini sering kali dibalut tema kesetiaan dan batas antara daratan dan samudra. Puti Bungo Karang dikisahkan memilih menyatu dengan laut demi menjaga kesucian cintanya, yang kemudian diyakini mewujud menjadi formasi karang indah di sepanjang pantai, entah ia tenggelam, bunuh diri, atau memang menyatu dengan lautan. Di luar fungsinya sebagai folklor, legenda ini adalah metafora penghormatan terhadap alam maritim yang menawarkan simbolisme kuat bagi karya literasi, terutama dalam mengeksplorasi tema isolasi, martabat, dan estetika budaya pesisir Sumatra Barat.
Wisran Hadi sendiri membentuk karakter Nilonali sebagai wanita yang selalu menanti Kinanti. “Kinanti, kaukah itu Kinanti?” adalah potongan dialognya yang ikonik. Bentuk pengharapan Nilonali yang selalu pupus inilah yang dikaitkan sebagai bentuk kesialan oleh masyarakat nelayan, dianggap sebagai penyebab kematian nelayan dan minimnya hasil tangkapan, seolah penantian cinta yang teguh itu adalah tabu di Minangkabau.
“Teater dekonstruktif harus menolak dominasi naskah sebagai otoritas tunggal. Panggung bukan lagi tempat untuk mengilustrasikan teks, melainkan ruang di mana tanda-tanda (gerak, suara, cahaya) memiliki otonomi sendiri tanpa harus patuh pada makna final sang penulis.” Jacques Derrida.
Komunitas Ku-Liek mendekonstruksi naskah ini menjadi simbol ekologi antara pelindung dan penghancur alam. Dengan performa yang atraktif dan penuh totalitas, jiwa keaktoran para pemainnya terbukti sangat tangguh. Komunitas Ku-Liek mendaur ulang proses yang pernah ditampilkan di Gedung Kebudayaan Taman Budaya Sumatra Barat tahun 2025 silam, penampilan ini menunjukkan kematangan berproses hingga akhirnya kembali dipentaskan di “Festival Nan Jombang Tgl 3”.
Namun dari sisi pemahaman naskah, sutradara sepertinya sedikit gagap dalam menyusun ulang cerita yang didekontruksi. Memang sah saja jika dekonstruksi dilakukan dengan menambah teks, membongkar tokoh, menghancurkan lalu menyusun ulang, serta mengungkap kontradiksi internal guna memahami makna naskah asli secara lebih tajam.
Jika dekonstruksi pada Nilonali ini merupakan analogi baik-buruknya alam beserta efek kegagalan perilaku manusia, maka pertunjukan ini mengalami sedikit cacat logika panggung. Hal ini dapat diperhatikan dari naskah, babak, serta tokoh yang diperankan, sebagai berikut:
Opening dengan lampu biru dan kabut asap telah memberikan simbol laut yang teduh sekaligus mengharukan, membawa penonton masuk ke dalam suasana pertunjukan yang serius. Dengan pendekatan ekokritik, penonton mulai terbawa untuk menganalisis makna cerita selanjutnya.
Kemudian pada penari yang disimbolkan sebagai masyarakat modern yang dekat dengan dunia maya, simbol perempuan dan alam yang dieksploitasi, serta simbol pesilat bersenjatakan limbah alami sebagai sumber filosofi tradisi. Namun, penggunaan penari terasa mubazir karena kostum hitam yang seragam mengaburkan simbolisasi. Penonton akan sulit mencerna makna di balik warna baju yang sama meskipun aksesoris yang digunakan berbeda.
Penonton akan mencoba memaknai penari sebagai sekumpulan nelayan karena penggunaan topi nelayan, atau sebagai ombak pada koreografi tertentu. Namun, ketika salah satu penari balet menggunakan aksesoris jala sementara pesilat menggunakan kostum limbah, hal ini terasa tidak relevan dan menciptakan cacat logika panggung yang cukup terasa.
Selanjutnya, pada dialog tambahan dari sutradara untuk tokoh Pawang seperti potongan “Roh pai indak babaliak” (Roh yang pergi tidak akan kembali), penambahan ini akan sangat cocok jika mengikuti alur asli naskah. Namun dalam konteks dekonstruksi ini, dialog tersebut terasa kurang relevan karena penonton sulit mencerna “roh” apa yang dimaksud dalam konteks alam. Meski demikian, doa-doa yang disampaikan Pawang terkesan “bertuah” saat badai datang, didukung oleh musik dan pencahayaan yang serempak mengikuti intonasi suaranya.
Pawang disimbolkan dengan kostum jas ala modern layaknya pemimpin bermulut manis yang menebar pencitraan serta selalu menyalahkan Nilo. Penggambaran alam yang mengalami bencana sepertinya juga kurang relevan dengan visi dekonstruksi. Namun di balik itu, aktor pemeran Pawang tampil sangat totalitas dan konsisten dalam mengguncang panggung.
Kerusakan logika berlanjut saat Nilonali terbebas dan posisinya digantikan oleh Pawang yang terbungkam bingkai kayu. Saat Pawang menghilang dari panggung, hal yang membuatnya ambigu adalah dialog “Wanita merias diri di rumahnya”. Dialog ini mungkin akan memicu pertanyaan besar bagi penonton. Jika saja kalimat itu diucapkan sejak awal sebelum kepergian Pawang, mungkin bisa menjadi flashback alur mundur. Namun, detail kecil ini sepertinya tidak dirasakan oleh sutradara dalam menyusun ulang logika panggung.
Tokoh pria sebagai simbol sosok marginal yang bertahan hidup juga kurang menunjukkan korelasi jelas melalui kostum dan riasannya. Meskipun karakter ini mengucapkan dialog “kematian” sebanyak dua kali, tidak ditemukan simbol kuat yang mengangkat kemarginalannya, kecuali tato di lengan kanan yang menggambarkan peta topografi angin, itu pun jika penonton mampu menangkap maknanya. Alhasil, tubuh pria tersebut sebagai elemen artistik terasa kurang fungsional dalam menyampaikan simbol.
Dialog “kematian” pertama pria tersebut mengabarkan kematian nelayan (pada naskah asli), yang direpresentasikan menjadi kehancuran alam akibat badai saat Nilonali terbebas dari kebungkaman.
Pada dialog “kematian” kedua, pria tersebut melihat sosok Kinanti di alam lain sambil memandang ke arah penonton. Seolah-olah kehancuran akibat badai Nilonali telah terjadi dan penguasa munafik (Pawang) telah hilang. Babak ini terlihat sangat dramatis, epik, dan merupakan bentuk dekonstruksi yang baik.
Ku-Liek juga menggunakan artistik sampah yang dikemas estetik di sisi kanan dan kiri depan panggung sebagai pembatas. Batasan ini sangat kreatif dalam membantu penyampaian makna, fokus mata pemain yang konsisten ke arah penonton menandakan bahwa penonton adalah laut dan panggung adalah bibir pantai. Namun, keberadaan daun kering di panggung justru menjadi perusak visual meskipun berfungsi sebagai hiasan atau penegas suasana. Dalam pertunjukan eksperimental, sekecil apa pun simbol adalah penting, sehingga jika tidak fungsional, keberadaannya terasa sia-sia.
“Kembalilah menjadi Puti Bungo Karang nan indah, Nilo,” ujar Pawang. Dialog ini mempertegas visi dekonstruksi bahwa Nilonali bukan lagi sekadar wanita, melainkan alam yang menghancurkan saat ia bertindak. Nilonali tampil indah secara visual melalui gerak tari yang dipadukan dengan keaktoran dan intonasi suara yang pas. Namun, gerak tubuhnya tidak mudah dicerna sebagai representasi alam karena minimnya simbol yang melekat, baik dari gerakan, kostum, riasan, maupun properti yang membungkam kebebasannya.
Visi dekonstruksi ini hancur dan merusak logika panggung ketika para penari mengajak, membawa, dan menarik-narik Nilonali yang terkurung dalam bingkai kayu. Hal ini menjatuhkan premis yang telah dibangun sebelumnya, logika Nilonali sebagai representasi alam justru ditarik oleh penari sebagai simbol masyarakat. Kontradiksi ini menciptakan ambiguitas bagi penonton.
Secara keseluruhan, Ku-Liek sukses melakukan dekonstruksi naskah Nilonali karya Wisran Hadi sesuai dengan visi pendekatan ekokritik. Meskipun kerumitan simbol membuat simpulan makna bagi penonton menjadi “menggantung”, secara visual Ku-Liek mampu membawa audiens menikmati pertunjukan dalam ambang batas keseriusan yang terjaga hingga babak akhir.
Apresiasi untuk Komunitas Ku-Liek, keberanian Komunitas Ku-Liek dalam membongkar dan mengolah kembali naskah Nilonali patut diacungi jempol. Di tengah tantangan teknis dan logika panggung, semangat eksplorasi mereka menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap pertumbuhan teater modern di Sumatra Barat. Kedisiplinan aktor dalam menjaga totalitas peran sepanjang pertunjukan membuktikan bahwa Ku-Liek adalah kolektif yang serius dalam berproses. Semoga pementasan ini menjadi pijakan untuk karya-karya dekonstruksi berikutnya yang lebih matang dan tajam secara simbolik. Irawan Winata.
…
Penulis, Irawan Winata. Praktisi seni, pernah membedah naskah Nilonali serta menampilkan Nilonali di panggung Universitas PGRI Sumatera Barat (2023), mentor. Panggung Dinas Kebudayaan Sumatera Barat (2023), Pimpro.





Discussion about this post