
RANJANG
akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya
duduk depan jendela
sambil melantunkan nyanyian kecil
ninabobo, ninabobo berulang-ulang
anak-anak begitu riang mendengarnya
mereka cepat-cepat pulas di ranjang yang lucu
melihat malam menjelang matang
dengkur panjang nyaring sekali
laki-laki itu menangis sambil merengek
“kembalikan dengkur itu, kembalikan ranjang itu pada saya.”
“anak-anak masih ada, pak?”
demikian ibu setengah baya mengejeknya.
dan sambil tersenyum sendu, laki-laki itu merajuk, “aduh anak-anak saya hilang di bawah ranjang, setelah bermain petak umpet dua puluh tahun yang lalu!”
anak bukan sembarang anak, kecil manis dan lugu
kata-kata itu terus saja berulang
sudah sepekan laki-laki paruh baya tidak duduk depan jendela, kata seorang ibu yang diam-diam merindunya
sepertinya laki-laki itu sudah menemukan anak-anaknya
“rindu bukan sembarang rindu”ucap ibu setengah baya sambil menahan mata yang airnya sudah mengalir liar di atas ranjang
Marana, 19/03/25
RUMAH KHONG GUAN
sore itu, di rumah khong guan
dari jauh terlihat sunyi menyala-nyala
di halaman, celana tergantung lusuh dan kusut
seperti sudah lama tak dihiraukan
waktu mulai menyusut
rumah khong guan tertutup rapat
seperti sudah lama kehilangan tuan
persis depan jendela, baju bulan hangat tak bertuan
setelah beberapa saat saya melihat-lihat rumah khong guan
jam berhenti berdetak
terlihat senja mengendap-endap masuk lewat jendela
perlahan senja berhangat-hangat di ruang doa
sembari membaca ayat-ayat puisi yang sudah lama mati.
Marana, 02/03/26
PADA SUATU MALAM
kunang-kunang terbang bebas menyusuri bangku tanam
jarum-jarum jam tak hentinya meloncat, merapat ke sepi.
Barangkali saja malam sudah terjaga
tiba-tiba lampu taman menyusut di udara
sementara hujan menggodaku tidur
katanya kepada ranjang, “tidurlah dan pejamkan matamu” biar
kujaga resahmu dari hujan, langit, dan malam
dan pergilah!
barangkali hujan serba gaib
serba suara
menggodaku pulas, desahmu dari malam-malam panjang
lirih melebur hilang dalam ingatan
Palu, 29/07/25
Roy Andika lahir di Marana, Donggala, Sulawesi tengah. Seorang guru di sekolah menengah pertama. Aktif menulis sejak duduk di bangku kuliah. Bukunya yang telah terbit berjudul Ketika Puisi Bercerita (2020) dan karya-karyanya dimuat dibeberapa media seperti Redakasi Marewai, ompiompi.com serta dimuat dalam berbagai antologi nasional.
- Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
- Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
- Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata - 10 Maret 2026




Discussion about this post