
Malam itu seperti malam minggu yang biasa kita lalui. Sebatang rokok kuselipkan di jariku kau yang menghidupkan pemantiknya. Helaian rambutku beterbangan karena semilir angin. Kau gemas segera kau selipkan ke belakang telingaku.
“Apa agenda kita malam ini?” Tanyamu yang kujawab dengan bahu yang terangkat lebih seperti. Entahlah.
“Kita melakukan ini tiap malam minggu kan? Adakah yang spesial malam ini?” Tanyamu lagi.
Kuhisap dalam rokok, lalu menghembuskannya perlahan.
“Tidak ada yang menarik di kehidupanku, kau sendiri bagaimana dengan pacarmu?” Tanyaku santai.
“Aku bertengkar dengannya tapi sudah berbaikan,” jawabmu.
Aku memutar bola mata karena sudah tahu pasti kalian tidak akan kunjung putus.
Malam itu kita berbincang seru tentang banyak hal dari politik, keadaan negara saat ini hingga hal-hal konyol yang terjadi di hidupmu. Beberapa kali aku menjitakmu karena perkataanmu yang mencemooh itu.
“Bagaimana kalau kita kelilinh kota Padang,” katamu seakan-akan muncul ide cemerlang begitu saja.
Aku melirik ke pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam sepertinya hal itu menarik, secara aku belum pernah melakukannya. Bepertualang di kota Padang di malam hari. Setelah membakar satu batang rokok lagi kita pun beranjak dari kedai kopi itu meninggalkan gelas berisi minuman rasa cokelat yang hanya tinggal setengah gelas.
Kita pun berbincang di sepanjang perjalanan. Dinginnya malam, temaram lampu jalan kala itu, rumah-rumah yang terlihat dari Jembatan Siti Nurbaya yang kita tak tahu bagaimana caranya warga kampung itu menuju ke puncak paling atas. Kalau orang-orang melihat mungkin sudah menduga kita adalah sepasang kekasih yang sedang berbahagia itu semua tergambar di wajah kita yang tak henti-hentinya tertawa lepas. Seakan-akan hanya ada kita berdua di jalanan lengang itu.
“Jujur dulu aku menyukaimu,” kalimat yang meluncur baru saja dari mulutmu itu menghilangkan senyumku seketika.
“Apa maksudmu, jangan bercanda.” Kataku dengan memukul kecil bahumu dari belakang.
“Aku serius, kalau dulu aku lebih memilih mengejarmu dan berusaha mendapati hatimu daripada dia yang sekarang, akan sperti apa menurutmu?” katamu dengan nada serius.
“Ya, kita tak tahu akupun bukan penulis takdir paling bagus di muka bumi ini dan hal itu juga tak terjadi di masa yang kita jalani sekarang.” Jawabku.
Aku percaya dia tak akan pernah benar-benar memiliki rasa itu. Entah rasa itu benar ada atau tidak pernah ada diantara kita atau akulah yang takut jika rasa itu benar-benar ada. Kita berdua sama-sama terlanjur menjadi teman berbagi. Menghabiskan sebungkus rokok berdua ditemani dengan eskopi dan cokelat dingin di warung kopi pertigaan yang kita kunjungi tadi, lebih tepatnya setiap malam minggu yang kita habiskan bersama.
Angin malam itu entah mengapa terasa dingin tapi menyejukkan. Jujur saja dengan semua hal yang telah kita lalui tidak mungkin aku tidak menaruh rasa padamu, tapi aku tak kunjung jua berani mengungkapkannya dari 3 tahun lalu. Aku takut dengan adanya rasaku mengubah kita. Aku takut tak ada lagi malam-malam dengan perbincangan kekagumanmu kepada Tan Malaka atau tak ada lagi perbincangan mengenai mengapa Indonesia tak kunjung maju atau-atau perbincangan mengenai kucing putihmu yang buang air sembarangan. Atau ah sudahlah aku tak mau itu terjadi sungguh.
Semakin kita melaju menyusuri Padang semakin rancu suasana antara kita berdua. Tanpa aba-aba kau raih tanganku mencoba mengenggamnya sedang aku tak menolak diperlakukan begitu jauh dalam hatiku aku menginginkannya jua, menginginkanmu. Kalau boleh jujur aku sudah lama tak merasakan sesuatu yang seperti ini. Ada rasa yang bergejolak dari dalam dadaku. Semakin erat genggaman kita semakin rasa itu berdentum memanjat satu persatu aliran nadiku mempercepat jantung memompa darahku membawa sel-sel bahagia bermain-main dalam diriku menciptakan kehangatan yang hanya bisa kita rasakan berdua. Rasa itu membawa kita ke hal yang tak seharusnya kita lakukan. Malam itu di bawah pohon rindang yang kita tak tahu namanya kau mengecup bibirku. Aku sontak terkejut tetapi aku memandang dalam matamu, menatap rembulan yang bersemi di kedua bola matamu. Aku ingin tahu adakah rasa cinta itu untukku? Atau kau hanya sekadar meraba-raba keinginanmu untuk mencumbuiku. Semakin dalam kulihat semakin kita hanyut hingga lidah itu saling bertemu. Mungkin kita merasa dunia ini milik kita malam itu. Andai bulan bisa bicara mungkin sudah ia sampaikan pada kekasihmu.
Dalam perjalanan pulang menuju tempat peristirahatan, aku memelukmu erat seakan aku tak ingin melepasmu. Seharusnya aku tak melepasmu seperti 3 tahun lalu. Mungkin aku tak akan merasa seberdosa itu melakukan ini.
Tapi sama halnya dengan perempuan lain. Akupun juga tak ingin di madu tak ingin pasanganku menatap wanita lainnya maka setelah kita berpisah aku memilih hilang. Aku memilih menghilang dari hidupmu walau aku tak pernah ingin menjadi orang asing bagimu. Tetapi aku juga tak ingin membuat wanitamu yang memang kepunyaanmu tahu apa yang terjadi malam itu. Aku tak ingin ia bersedih karena lelakinya sudah mencium wanita lain. Oh, sungguh maafkan aku. Wahai bulan purnama hapuslah segala kenangan malam itu darinya. Semoga di kehidupan selanjutnya kau dan aku baiknya tak pernah bertemu.
Padang, 22 September 2025
- BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
- PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
- Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026






Discussion about this post