• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Mengawinsilangkan Tradisi dan Modernitas: Gala Resonant Karya Muhammad Giffary | Muhamad Irfan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
21 Januari 2025
in Esai
1.1k 34
0
Home Budaya Esai
BagikanBagikanBagikanBagikan

Karya seni bertajuk Gala Resonant karya Muhammad Giffary dan dibantu oleh Rama Anggara dalam perancangan instalasi elektronik, berhasil menggabungkan tradisi Minangkabau dengan teknologi elektroakustik modern. Mengangkat alat musik tradisional pupuik gadang sebagai elemen utama, Giffary menciptakan sebuah pertunjukan yang memadukan bunyi eksperimental dan instalasi visual yang penuh makna filosofis. Karya ini dipamerkan pada Kamis (9/1/2025) di Studio Kayu Seni Kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, menghadirkan pengalaman seni yang kaya akan interpretasi dan pesan sosial. 

Sebagai tugas akhir untuk meraih gelar sarjana, Gala Resonant berakar pada kesenian tradisional Minangkabau, khususnya alat musik tiup pupuik gadang yang terbuat dari batang padi dan daun kelapa. Giffary menghadirkan bebunyian khas alat musik ini melalui pendekatan elektroakustik eksperimental yang mengolah spektrum frekuensi bunyi secara mendalam. Proses ini menciptakan suara-suara multitafsir yang merepresentasikan bebunyian alam dan aktivitas sosial. 

Tidak hanya fokus pada musik, Gala Resonant juga memperkenalkan instalasi visual bernama “Kulilik”. Instalasi ini berbentuk susunan sapu lidi yang disusun menyerupai payuang panji—simbol kepemimpinan dalam budaya Minangkabau—dengan tambahan selang, kabel, dan lampu warna-warni. Elemen-elemen ini melambangkan harmoni dan keterhubungan dalam masyarakat, menciptakan narasi visual yang memperkaya pengalaman penonton. 

Sumber foto: Call Me Odonk

Menggambarkan Perjalanan Zaman

Pertunjukan Gala Resonant membawa penonton ke dalam perjalanan yang menggambarkan dinamika perubahan zaman. Bunyi-bunyi tradisional pupuik gadang di awal pertunjukan menciptakan suasana masa lalu yang damai. Namun, lambat laun suara-suara ini bercampur dengan bunyi klakson kendaraan, kereta, dan elemen modern lainnya yang merepresentasikan industrialisasi. 

Pada puncaknya, suara-suara yang tidak menentu muncul, menggambarkan disrupsi zaman modern yang sering kali menyebabkan hilangnya identitas tradisional.

“Karya ini mengajak kita untuk merenungkan kembali bagaimana tradisi terus memberikan pengaruh dalam setiap lapisan kehidupan, meskipun kerap tergerus oleh arus modernisasi,” ungkap Giffary dalam wawancaranya. 

Simbolisme Warna dan Harmoni

Selain bunyi dan bentuk, Giffary juga menonjolkan simbolisme melalui warna pada instalasi Kulilik. Warna-warna seperti oren, biru, hijau, putih, dan hitam masing-masing memiliki makna: oren melambangkan perlindungan, biru dan hijau merepresentasikan ketenangan, putih menunjukkan keuletan, dan hitam menggambarkan ketangguhan. Harmoni warna ini mencerminkan keberagaman dalam kebersamaan yang menjadi inti dari gotong royong dalam budaya Minangkabau. 

Tantangan dalam Karya Eksperimental

Meskipun kaya akan simbolisme dan makna, karya ini tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh semua kalangan. Pendekatan elektroakustik eksperimental dan simbolisme yang kompleks membutuhkan pemahaman mendalam dari audiens.

“Saya berharap karya ini dapat menjadi inspirasi bagi seniman lain untuk terus mengeksplorasi seni tradisional dan menjembatani dengan inovasi modern,” tambah Giffary. 

Gala Resonant membuktikan bahwa seni dapat menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini, menciptakan karya yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga sarat akan makna filosofis. Karya ini menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan dua elemen yang dapat berpadu untuk menghasilkan pembaruan seni yang autentik. 

Muhamad Irfan lahir di Sunua Barat, 26 September 1995. Alumnus Sastra Indonesia Unand.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: Esai

Related Posts

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby Wahyu Riyodi

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby Wahyu Riyodi

Oleh Redaksi Marewai
6 November 2025

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby...

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Oleh Redaksi Marewai
11 Mei 2025

Oleh Al Fikri Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Imam Bonjol Padang Di balik megahnya Nagari Magek hari ini, tersimpan...

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak Muda | Muhammad Nasir

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak Muda | Muhammad Nasir

Oleh Redaksi Marewai
20 April 2025

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak MudaOleh: Muhammad Nasir (Penyuka Buku/Dosen UIN Imam Bonjol Padang) Di Ranah Minang, tradisi...

Esai – Punkdikbud | Wallcracks

Esai – Punkdikbud | Wallcracks

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2025

Terlebih dahulu sedikit penerangan dalam lembaran pendek ini, bahwa PUNKDIKBUD tidak bermaksud untuk menimbulkan perdebatan-kusir mengenai topik usang tentang...

Next Post
Nama: Derita dan Cerita | Bandung Mawardi

Nama: Derita dan Cerita | Bandung Mawardi

Cerpen Arif Kurniawan | SALITTER

Cerpen Arif Kurniawan | SALITTER

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In