
Anjing Kumbang
Datuk Perpatih Nan Sebatang menyamar dengan merubah penampilannya seperti orang tua ketika datang ke Pariangan, beliau juga membawa seekor anjing kumbang. Anjing yang dibawa dari rantau ketika ia melakukan pelayaran, anjing ini bukan anjing sembarang anjing, anjing patuh bukan buatan, anjing cerdik bukan kepalang, anjing yang pandai main mata, rajin disuruh dan disarayo. Maka ketika itu berjalanlah Puto Balun, Datuk Perpatih Nan Sabatang berjalan seperti orang tua, berjalan membungkuk di dalam koto, anjing dilepas dan mengiringinya. Maka bertemulah sama orang lalu lalang, satupun tidak mengenalinya. Di saat itu ia istirahat dan bersandar di sebuah pohon besar sembari selonjoran di atas batu. Sedangkan anjing yang dibawa berlari di sekelilingnya, menyalak kian kemari.
Maka datanglah seorang Hulubalang, Hulubalang gagah dari raja, Hulubalang Sultan Maharaja Besar, raja di Luhak dan di Rantau. Disaat itu Hulubalang berjalan hilir dan mudik memeriksa kian kemari, maka disaat itu dilompati oleh anjing kumbang, anjing melompat lalu menggigit, digigit kaki Hulubalang, hingga robek betisnya dan dia kesakitan. Darah mengeluarkan bau anyir. Saat itu marahlah Hulubalang, dikejar anjing kumbang itu dan dilempari batu. Namun, sang anjing yang terlatih itu bisa menghindar. Mendengar lemparan batu Hulubalang, orang tua (Puto Balun) langsung bersiul dan anjing kumbang berlari menghampirinya seraya menggerak-gerakan ekornya. Melihat orang tua itu yang punya anjing penggigit, terbitlah marah Hulubalang kepada orang tua.
Namun, ketika Hulubulang hendak menghampiri orang tua, ia langsung menghardik orang tua itu dan menghantam tanah guna memperlihatkan keras tulangnya kepada orang tua. Setiap ditanya oleh Hulubalang orang tua itu terus mengelak dengan bahasa kias dan menjerat. Maka tambah marah Hulubalang, lain ditanya lain pula yang dijawab, malahan mengenai perasaan pula. Sehingga terjadilah perkelahian orang tua dengan Hulubalang, ketika Hulubalang akan mengunakan pedangnya dan si orang tua mengangkat tongkatnya, datanglah Hulubalang yang paling tua, dilerai perkelahian orang berdua itu.
Oleh Hulubalang ditanya timpal balik, namun oleh Hulubalang yang digigit anjing dijelaskan alur peristiwa hingga dia digigit anjing dan menanyakan kepada orang tua. Namun sebelum dijawab orang tua, Hulubalang Tua langsung melontarkan kata “iyolah orang tua yang cilako, akan diperlakukan undang-undang tarik balas, siapa yang berutang dia yang akan membayar, siapa yang salah itu yang ditimbang. Sekarang ini telah nyata kau bersalah orang tua yang telah memelihara anjing penggigit, telah digigit Hulubalang Mudo, sekarang kau harus membayarnya. Namun, oleh orang tua dijawab dengan kata “kalau tidak ada lontaran kata dari raja dia tidak akan mau membayar dan melaksanakan undang-undang itu”.
Maka saat itu dibawahlah orang tua ke istana oleh Hulubalang Tua. Dia ditinggalkan di halaman istana yang berada di Bukit Batu Basa, dijaga oleh Hulubalang Kerajaan. Sedangkan Hulubalang Tua menghadap Sutan Maharaja Besar. Menerangkan peristiwa yang terjadi. Oleh Raja Sultan Maharaja Basa, orang tua itu dipanggilnya; untuk didengar pembelaannya. Hadir ketika orang tua itu menghadap antara lain Puti Reno Indrajuita. Pada waktu itu Hulubalang mengajukan dakwaannya, bahwa ia digigit oleh anjing kumbang milik orang tua. Untuk itu, orang tua tersebut harus dihukum. Tetapi orang tua itu bersikeras bahwa ia tidak mau dihukum sesuai dengan Undang-Undang Tarik Balas. Berkata Sultan Maharaja Basa “manalah orang tua engkau memang betul bersalah, telah menaruh anjing penggigit orang, namun kau tidak pula mengikatnya dan merasa tidak bersalah, tasakik Hulubalang Mudo, kau harus merasakan sakitnya juga, begitu baru berbalasan. Bungka nan piawai, taraju nan bagatok, yang ditimbang sama berat, yang kati sama ringan balasnya, yang hutang iya harus dibayar, yang salah iya harus ditimbang, bertimbang sesuai dengan salahnya”.
Mendengar pitaruh kata putus dari Raja Sultan Maharaja Besar, menyembahlah orang tua “ampun beribu kali ampun, ampunkan hamba dengan Tuanku, ampun kepada Raja, Raja di sehiliran Gunung Marapi yang sehiliran Batang Bangkaweh raja besar lalu ke Luhak, Dipartuan sampai ke Rantau yang megang Pariangan Padangpanjang, yang menggenggam Pasumayam Koto Batu, menggenggam Bukit Batu Basa. Mohon hamba timbanglah dulu, timbang dan dibanding, maka bertanya aku kepada Tuanku apakah betul telah diberlakukan undang-undang tarik balas, undang yang sebijaksana-sebijaksananya siapa yang berutang itu yang membayar, siapa yang salah itu ditimbang, siapa yang menikam itu yang ditikam, siapa yang membunuh itu yang dibunuh, siapa yang menggigit, itu yang harus digigit?”
Maka menjawab Sultan Maharaja Besar “manalah orang tua, adapun di negeri ini yang berlaku undang-undang tarik balas, berlaku sejak Raja yang dahulu, ialah raja Dauli Yang Dipartuan Sri Marajo Dirajo, ayah kandung diri saya yang sekarang kini nyatakan salah orang tua. Sekarang robeknya kaki Hulubalang oleh anjing orang tua, kaki orang tua harus dirobek pula, jika dilukai maka dilukai pula orang tua. Inilah undang-undang yang dilaksanakan dari Luhak dan sampai ke Rantau.”
Bersambung…
- Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana - 3 September 2025
- Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2 - 2 Oktober 2024
- Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung - 26 September 2024





Discussion about this post