• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Chalvin Pratama Putra | Komedi Sebelum Mati

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
10 Agustus 2022
in Sastra
1.3k 97
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Patahan Tulang
—Chelsa Amanda P.N

“dan segala yang kau pinta terletak pada niatku
kecuali kematian.”

apa yang mampu kuceritakan ke hadapmu
tentang waktu yang membakar patahan mimpi
seolah takdir kita tuduh tumpul ke atas tajam ke bawah

kita lurus paksa jalan menikung
kita kupas daging paha pengganti sarapan pagi
kita tampung ritmis hujan pelepas kering batang merih

terlalu sering kita menuduh tuhan yang tidak-tidak, dik

kau sama sekali tak tahu
jika tuhan menitipkan patahan tulangku ini
sebagai pondasi tiang untuk kau panjati
tempat pitarah menggantung batang leher dari urat malu

betapa setiap hari aku membayangkan
jika kau mati esok pagi
sedangkan aku belum pandai
merapal yasin di depan jasadmu.

Pauh, 2022


Percakapan di Sintinjau Laut
—Fauziah Azzahra

dan seketika kegelisahan menjadi setumpuk bahasa tanpa ucap
bergumpal serupa uap laut memanjat dinding langit bertempias hujan

di pertengahan malam ke dua puluh lima
kita berlalu di tempat di mana dahulu orang-orang meninjau pasang
aku membuka kunci-kunci suara rahasia dari masa lampau.

di matamu, aku melihat bulan menggantung; gelombang laut pasang surut
aku melihat sosok tuhan dan ibu dalam dirimu
aku melihat zulaikha merampas yusuf
bagai semua umpama telah bangkit malam itu

tepat di hadapmu aku serupa orang-orang siak mengadu pada tuhan
seperti bocah lima tahun menceritakan luka jatuh pulang melalang buana;
telah kulangkahi perang dan sayatan dan pecahan yang lalu pernah bermukim di jantungku

mungkin sosok tuhan dan ibu ada dalam dirimu

dan seketika kegelisahan menjadi setumpuk bahasa tanpa ucap; maukahkah kau perang dan terbakar bersamaku?

Padang, 2022


Pramuria II

aku ingin berkirab dari masa ini
untuk kembali mengambang kitab-kitab yang lalu pernah kita maktub
bukalah satu lembah atas nama kerinduan
sungguh benar aku  ingin kembali terjungkir ke dalam matamu
mata yang membikin aku lupa cara berdiri

aku telah terdidih oleh api kangen
satu kecupan yang pernah
membakar halimun pagiku yang terkembang

ngiangmu tak berketentuan untuk sampai pada sentak jagaku
hulu jantung terdampar pada suatu ruang keributan
di mana kau bertingkah pada setiap sabda dan dalil kecemasan
sungguh benar aku ingin kau tegak kembali
menggaet garis di antara dua paha yang pernah kau lerai.

Pauh, 2022


Selamat Malam

selamat malam kekasihku
apakah di kejauhan kau masih mendengar kisruh perang?
peluru beradu tembak, atau letusan api di udara
aku rasa tidak lagi kau dengar

kau tahu, dunia kini terdiam!
orang-orang begitu cemas dan ragu bercinta kembali
begitu banyak orang pulang nama dari medan tempur
ada kisah kasih yang tak sampai, ada ucap terperam hebat.

selamat malam kekasihku
jika aku mati malam ini
sediakan perahu besi untuk jasadku
lepaskanlah pada lautan luas
biarkan karat merayapi
di mana pulau-pulau menjauh
ombak bergulung yang tak mampu menepikannya.

kita akan saling merindu
saat hidup beradu mati.

selamat malam, kekasihku
di sini kelam serupa kisah cerita-cerita takut
yang pernah kita langsaikan.

Pauh, 2022


Komedi Sebelum Mati

tuhan, beri aku sembilan nyawa serupa kucing belang tiga
aku hendak menungkus berangkas negara ke dalam goni bapak
juga hendak memikat cinta ibu negara.

sebelum aku ke ibu kota
atau sebelum menyelinap masuk ke istana
dukun kampung telah menyematkan dua mantra;
pemikat wanita dan jengat kebal dari apa saja.

aku merasa akan mati kalau ke sana
tentu saja bedil akan memburu
dan peluru akan meletus di kepala.

tapi, tuhan, masih saja aku kurang percaya
sebab dua mantra begitu saja dapat disyarati
dengan tiga batang kretek, seperempat gula pasir
kopi dan telur ayam kampung.

aku ragu-ragu, tuhan
kecuali kau beri aku sembilan nyawa
serupa kucing belang tiga

Pauh, 2022


Chalvin Pratama Putra, lahir di Koto Berapak, Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Merupakan anggota Salimbado Tarok dan Sarang Tampuo. Menulis puisi sebelum tahu puisi.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: CerpenMarewaiMingguPenulispuisiSastraSastrawan

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Zera Permana | Kota Besar Terakhir Melayu Swarnabhumi di Saruaso – Punago Rimbun

Zera Permana | Kota Besar Terakhir Melayu Swarnabhumi di Saruaso - Punago Rimbun

Bagian #2 Kota Besar Terakhir Melayu Swarnabhumi di Saruaso

Bagian #2 Kota Besar Terakhir Melayu Swarnabhumi di Saruaso

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In