• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Adnan Guntur | Karangmenjangan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
12 Juni 2021
in Sastra
1.5k 61
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

PERBURUAN

pada siapa lagi kau kenang kanak-kanak, dari jauh batu bukit di dalam murung pengembara yang menghabiskan waktu menyingkap kegelapan
jika hujan turun dan daun-daun menggeragas, maka aliran air henti menuju perjamuan, di tebang rerumput ilalang, terbang kokoh pada bayang-bayang matahari
batang pohon dalam tubuhku menggeliat, mengepit kuat-kuat kesepian yang menguning
dalam tidurku, kau akan melihat sorga jatuh seperti kupu-kupu menyerbuk asam mimpiku, hikayat akan tertulis dari halaman yang akan termuat muncul tetiba dalam mantra-mantra melabuh melukis duka dimuka cermin kita yang memasuki raya
kita akan berpuasa dan beralih tinggal dalam kerongkong membawa gelas-gelas berisi zaman yang tidak pernah akhir dalam menulis kita, di sana lahar menyerupa kolam menunggu, menebus hatimu dalam perburuan-perburuan

Ciamis, 2020

SIARAN

ada seseorang yang tertembak dalam musik, meledak, dari bintang-bintang yang binal di pinggulmu, seorang laki-laki lari dari selatan menuju trotoar yang sepi dari pengunjung, hanya demonstran hinggap di lampu merah membawa punggung yang penuh dengan tulisan; semangat, menunggu ibu-ibu dari warkop pulang membawa segelas dan pil pereda linu, de amour
kemana lagi mimpi yang seharusnya hadir dari majelis-majelis, menyimpan duit recehan dikantong pantatmu yang hitam, akan muncul sebuah ramalan bagi hatiku yang puisi, melukisi setiap terbang bayang-bayang burung kematian
ada yang hilang dari maskerku, sebutir laut melayar dalam helaan napas yang tersedak, dari kejauhan paus orca merusak bumbung kapal bibirku yang bolong, kupaksakan layar pada bajuku menyumpal gigi kapal yang kosong bagi setiap perjalanan
tak ada lagi serangga yang hinggap pada setiap jendela di bumi ini, hilang dalam setiap mimpi-mimpi para penjual koran, mereka jajakan tulisan-tulisan yang memaksa otak kita bekerja pada ketakutan dan bait-bait pendek kehausan
telah tergambarkan berita, ada seorang yang tertembak dalam musik, dipajang dalam reklame besar kota, di koran, dan dinding penghapus cuaca dari cericitan kuku pada kaca jendela, kompak untuk duduk di rumah aja
tombol pause di remot menghentikan kegiatan kita

Ciamis, 2020

MENANDAI JEJAK BULAN

lihatlah jendela, sauhku telah sampai pada ujung mimpimu, dari rumah yang kerlap-kerlip, telah terbangun kota-kota yang kering dan berabu, menekkukkan segala pandangan
kemana hujan yang membau gigil pinggulmu, pi, telah terkabarkan melalui garis tanganmu ke seluruh pertemuan, remah roti pada serbet rambutmu yang meliuk-liuk ketakmampuan kita
–jangan, seluruh pelaut telah membinasakan kering separuh sirip hiumu di lampung, jangan, kita tidak akan bisa menembus deras ombak laut internet jaman kini yang kapir—
jika tergambarkan mulai dari sepatu ke pitak kepalamu, arus surut pasang membunuh para perompak, nyanyian, pedang, hidangan, meledak-ledak seperti igauan
katamu ingin pergi menandai jejak bulan dan mancing disana
dingin telah membengkokkan sendok pertama disauh, dalam gelap dan bayang yang menjauh dari daun yang berjatuhan runtuh menembus kelaparanku, serupa nyeri yang dirajam sunyi
tapi pi, kalau tetiba masa kanak-kanakmu menyerangmu datang, ingatlah, ingatlah, aku pernah hanyut dalam ombak bibirmu yang coklat, menumpahkan airmata pada kesendirianku dahulu, jauh sebelum rembulan membeku

Ciamis, 2020

CINTAMU MENGGEMAKAN RIUH TUBUH INI

kuraih pintu, masuk ke sela-sela jarimu, keramaian kota henyak dibebauan lumpur, tak ada yang hilang, jika hujan dari ketiakmu meluncur ke pasak-pasar, disitulah kerinduan meledak-ledakkan ketukan
kupasang lenguh dari jam weker, bergetar tercekik nafasmu , ajal bagiku, tumpah dan menggenang meninggalkan daun dan rerumputan liar pada kolam matamu
hari-hariku rontok, menafsirkan percakapan di antara  genangan, puing-puing langit menerpa kepala kita yang benjol, merah, dalam batas yang terabai, cintamu menggemakan riuh tubuh ini, kegilaan tumpah mengalir menciptakan bermacam-macam adegan 
jika waktu kita habis terpakai, tembok dan pintu di pantai, adalah caraku membiarkan kobar dalam celah ruang, tertutup jendela dan gorden

Ciamis, 2020

HILANG BERSAMA KEMENANGAN

dari tumpukan abu masa lalu, aku masuk sebagai gedung paling tinggi, impian yang terpotong mengalami keburukan yang paling buruk
tidurku dibawa lari oleh seluruh penghuni bumi yang kian mengecil
orang-orang tua hilir mudik membawa senjata, merakit taman dengan jungkat-jungkit yang membalikkan masa laluku
seekor kuda terlepas dari orang-orang yang berbaju putih, tapi kitacuma bisa menduga, bendera semakin mengendor dari tian yang keropos menelurkan perjuangan yang sia-sia
setangan angin menampar bumi, berlari menuju utopia yang hilang bersama kemenangan

Surabaya, 2020

BELAJAR MENTAATI LAMPU MERAH KARANGMENJANGAN

sebagai anak angin, aku meliuki kepergian ibu dalam ketukan seng dari wajan para penjual nasi goreng, memeluk kuat-kuat jalanan dan mendudukinya sebagai tahta paling tinggi
orang-orang bergerak seperti anjing, liur lidahnya yang menetes terserap ke dalam lampu-lampu, menghauskan wajah pada telinga seperti beribu kentrung elektrik
bebutir beras menempel pada keningku yang berminyak, kau mereguk kopi pait dari mulutku yang kian hari makin melebar, sedang di ujung sana tembok kian hari makin pudar, lalu kita bercakap dan memutih setelahnya, retak, seperti manusia silver yang ada dalam bayang-bayangmu
kematian mungkin akan menyiksa, tapi ketiga batu karang kau bawa untuk menenggelamkan matahari, susuran laut yang mengelok di mendung rambutku terbungkus oleh kata-kata, membiaskan arti-arti dari makna yang sebenarnya

Surabaya 2020

KARANGMENJANGAN

orang-orang khawatir, di sepinggir jalan sepasang muda-mudi menyanyikan lagu own my way diiringi adzan, tapi hujan meluruh datang dengan keburu
sembilan puluh sembilan kematian mencatat bunyi dangdut, sekedar mengepung harapan dari purapura di sini dan kata-kata berhimpitan dalam kereta api, menggotong kegilaan dari anak-anak cybernetic, mungkin kupingnya dicengkoki pinggul koplo
kubawa haus dan lapar pada keinginan, dari kota kepada rimba yang mengantarkan peradaban purba, sebaris senyum meletus keluar jendela melewati jidatku, menulisi namamu dalam potret zaman di reklame bergambar bunga
aku menepuk dada, berdiam disudut-sudut taman yang bergerak dengan spontan, membawa wahyu, dan kesepian menjelma kapak yang membuka peta dunia, takut jika kau menduduki kursi di surga

Surabaya 2020




Penulis Adnan Guntur, lahir di Pandeglang pada tahun 1999. Saat ini sedang melanjutkan studi di Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Aktif berkegiatan di Teater Gapus Surabaya dan Bengkel Muda Surabaya. Email: [email protected] Instagram: pem.belajar_

— marewai.com

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaCerpenPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Tukang Pijat Bukan Dokter | Intan Hafidah NH

Cerpen Tukang Pijat Bukan Dokter | Intan Hafidah NH

Air Terjun Telun Berasap: Sajian Panorama Indah dan Kesejukan Hutan Seblat Kerinci

Air Terjun Telun Berasap: Sajian Panorama Indah dan Kesejukan Hutan Seblat Kerinci

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In