• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Ilda Karwayu | Ramadan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
9 Mei 2021
in Sastra
1.3k 54
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Para jamaah salat tarawih mulai berhamburan keluar dari masjid di pojok perempatan jalan raya. Gerombolan anak perempuan mengangkat bagian belakang mukenahnya. Sebagian terlihat memegang telepon genggam sambil bercengkrama satu sama lain. Debu-debu ditepuk kaki-kaki melangkah. Para perempuan tak mempermasalahkan itu sampai derap langkah anak-anak lelaki menyalipi langkah mereka. Dua, tiga anak terbatuk. Ada yang mengumpat, ada pula yang mengusap-usap mata.


Anak-anak lelaki tadi terus berlari, seperti sedang berbalapan. Mereka, mungkin sepuluh atau sebelas anak, semuanya berhenti di depan Alfamart; jaraknya sekitar beberapa puluh meter dari masjid tadi—yang mulai mengumandangkan suara orang-orang mengaji. Seorang pegawai Alfamart sedang mengelap salah satu sisi pintu ketika anak-anak bersandal jepit itu menyerbu masuk. Keningnya mengerut dan ada nampak bibir bergerak-gerak di balik masker warna putihnya.


Di depan pegawai yang akhirnya melanjutkan kerja itu, terdapat sepasang sejoli. Mereka saling pandang, lebih tepatnya saling memandangi mulut yang masing-masing sedang mengulum es krim. Selang berapa lama, seorang pegawai lainnya—terlihat baru saja mengepel lantai luar Alfamart—berdeham-deham melewati keduanya sampai ke pintu.


“Coba lihat itu, kalau sampai mereka ndak kawin selesai lebaran, potong telinga saya!” bisik pegawai pemegang tongkat pel kepada pegawai pengelap pintu.
“Side kenal yang dua itu?”
“Iya, yang laki itu anaknya Amaq Sukri, pengepul roti dekat rumah.”
“Yang perempuan sering dia ke sini, duduk di depan begitu dah. Kadang sampai jam 11, sendiri dia duduk, terus HP aja dilihat.”
“Pas ndak bulan puasa juga?”
“Iya.”
“Nine belang!”


Si pengelap pintu mengangguk-angguk sambil berpindah ke pintu sisi satunya. Kemudian menyuruh rekannya yang baru bekerja dua minggu itu masuk.


Di luar, dua sejoli telah hilang dari tempat mereka barusan, digantikan anak-anak remaja yang merokok sambil mengobrol. Satu di antara mereka asyik menikmati minuman dari botol Fanta yang warnanya seperti sudah dicampuri kental manis. Sedang di dalam, gerombolan anak lelaki itu riuh seperti kawanan nyamuk yang terperangkap dalam kelambu.


Beberapa orang selain mereka terlihat menjauh, paling tidak, berusaha jangan sampai membuat kontak mata dengan mereka. Derap langkah anak-anak itu tak kalah kerasnya dengan suara mereka yang saling sahut tentang hal-hal, yang mungkin, dipahami antar mereka saja.


Satu orang pengunjung, ia berdiri depan lemari pendingin dan hendak membukanya, tak sengaja ditabrak oleh salah satu anak yang berlari serampangan. Anak setinggi drum minyak tanah itu mendongak; didapatinya seorang lelaki tinggi tegap dengan rambut ikal terikat rapi ke belakang. Keduanya sempat terlibat momen saling tatap selama—mungkin—tiga detik, sebelum lelaki tinggi akhirnya membuka lemari pendingin dan menawari diri mengambilkan apa yang dicari si penabrak punggungnya itu.


“Pocari Sweat dua, Pak.”
Dua botol disodorkan.
“Ada yang kaleng?”
Dua botol dikembalikan ke tempat semula, diganti dengan dua kaleng. Anak itu sigap menaikkan celana kemudian membetulkan letak sarung di lehernya sebelum mengambil dua kaleng yang disodorkan.


Peristiwa itu ternyata mengheningkan suasana dalam Alfamart untuk beberapa saat. Begitu kaleng-kaleng berpindah tangan, keheningan pecah dan derap para anak kembali muncul; mengalahkan suara iklan dari televisi di belakang kasir. Semakin telak kekalahannya karena kali ini mereka berkerumun di depan kasir.
Sembari mengantre, saling sahut antar mereka semakin kencang. Entah apa motivasi setiap anak melakukan itu sejak awal. Kerutan di kening beberapa pengunjung lain, yang juga mengantre, nampak jelas, bahkan dari jarak beberapa meter. Sebagian lainnya terlihat melengos sambil menahan tawa sendiri di balik masker; terutama ketika salah satu anak—tingginya tak sampai semeja kasir—menunjuk rak berisi deretan alat kontrasepsi.


“Balon udara itu ini, ya?” ditatapnya anak lain di sampingnya. Anak itu tertawa, disusul anak-anak lain.
Entah anak mana yang merespon tanya darinya, “Iya, itu dah dia!”
Si penanya mengambil sekotak kondom dari rak. Ujung bibirnya tertarik ke kiri-kanan tapi tak cukup lebar untuk disebut senyum, pun ujung dua bibirnya tak cukup ke atas untuk disebut cemberut. Beberapa anak bersiul-siul, beberapa lainnya tertawa sambil tunjuk-menunjuk. Tiba-tiba, dari ruang khusus pegawai, muncul perempuan dengan tongkat pel di tangannya; menyeru para anak lelaki untuk bubar sambil mengacung-acungkan tongkat pel. Tak ayal, yang diarahkan tongkat segera angkat kaki berhamburan ke luar ruangan.
Beberapa dari mereka tak sengaja menabrak meja kaca dekat pintu. Akibatnya, terjatuhlah beberapa kemasan isi ulang minyak goreng berlabel diskon akhir pekan yang terjejer di sana. Sebagian menimpa kaki pegawai pengelap pintu, sebagiannya lagi langsung ke lantai. Tak sempat cari tahu apa yang menimpa kakinya, tubuh si pegawai ditabraki para anak lelaki. Sejurus, pinggang dan perutnya diraba sebagian anak, pun payudaranya ikut diremas.


Alfamart seketika hening. Di lantai terlihat jelas debu-debu berpasir, lain pula genangan minyak goreng di dekat pintu masuk. Dua pegawai, yang tadi sempat berbisik-bisik soal dua sejoli, kini saling tatap. Sayup-sayup suara orang mengaji di masjid masih terdengar. Para pengunjung berjalan pelan—nyaris mengendap—seolah ogah menjadi pusat perhatian para pegawai.


Erangan kasir meretas sunyi sejenak itu. Rak kontrasepsi kehilangan beberapa kotak kondom. Dua kaleng Pocari Sweat belum dibayar tapi transaksi sudah tercatat di komputer. Di luar, para remaja yang sempat terlihat merokok sambil mengobrol itu ternyata sedari tadi menontoni kejadian di dalam.

2021

catatan:
1) Side = Anda (bahasa Sasak)
2) Amaq = Bapak / Pak (bahasa Sasak)
3) Nine belang = Perempuan cabul (bahasa Sasak)


ILDA KARWAYU, menulis puisi, fiksi, dan non-fiksi. Buku puisinya mutakhirnya: “Binatang Kesepian dalam Tubuhmu” (GPU, 2020). Pernah hadir sebagai salah satu Emerging Writers pada Makassar International Writers Festival (MIWF) 2019. Belajar menulis kreatif di Komunitas Akarpohon Mataram, Lombok, NTB. Sehari-hari mengajar bahasa Inggris dan BIPA di Mataram Lingua Franca Institute (MaLFI).

Kunjungi saya di; Facebook : Ilda Karwayu
Instagram : @ildakarwayu
Twitter : @ildakarwayu


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: ArtikelCerpenEsaiPelesiranpuisiSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Pelabuhan Panasahan, Mengaktifkan Kembali Imajinasi Masa Lalu | Irwandi

Pelabuhan Panasahan, Mengaktifkan Kembali Imajinasi Masa Lalu | Irwandi

Puisi-puisi M.Z. Billal | Mendengarkan Poetry in Motion*)

Puisi-puisi M.Z. Billal | Mendengarkan Poetry in Motion*)

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In