• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Air Terjun Batirai: Berkaca Pada Alam di Hulu Air Sungai Pinang | Pelesiran

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
15 Maret 2021
in Pelesiran
1.6k 68
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan
Photo: Marewai

Pesisir Selatan, Marewai– Tak pernah habisnya bila membicarakan keindahan alam Pesisir Selatan, mulai dari pangkal sampai ujung menyimpan pesona alam yang menarik. Tempat-tempat baru selalu muncul tiap tahunnya, baik yang sengaja dibuat untuk kebutuhan wisata maupun yang telah ada sejak lama. Tidak dipungkuri lagi, saat ini Pesisir Selatan menempatkan Kawasan Bahari Mandeh sebagai ikon wisata Pesisir Selatan. Walau Painan tak mungkin dilupakan.

Secara jarak, kawasan Mandeh memang lebih mudah dijangkau oleh pewisata yang datang via Padang. Sedangkan bagi pengunjung lokal yang datang dari Padang, tentu tak perlu ke Painan lagi kalau di Mandeh sudah cukup dipuaskan oleh keindahan alam.

Kawasan Bahari Mandeh banyak dikenal pengunjung lewat pulau dan pantainya. Tentu hal demikian sangatlah wajar, karena kawasan ini muncul ke khalayak lewat keindahan pulau dan pantainya. Namun, ternyata Mandeh juga menyimpan wisata alam lainnya, yaitu wisata air terjun. Aliran hulu Sungai Pinang yang jernih sangatlah tak bisa dilewatkan, lengkap dengan ngarai, lubuk dan air terjunnya yang indah. Jalan yang mendaki, melewati liku pematang sawah, menerobos hutan yang lembab, merasakan betapa sejuknya hiliran air Sungai Pinang. Berjalan menuju Air Terjun Batirai, Ulu Air Sungai Pinang. Menempuh jarak kisaran 4 kilometer, jalur ini dapat ditempuh dengan waktu sekitar 1,5 jam dari nagari Sungai Pinang.

Poto: Marewai

Sesampai di sana, sambutan bermacam bunyian hewan menambah tenang jiwa. Burung-burung saling sahutan, uir-uir ribut, bertengkar dengan desau aliran hulu sungai. Bebatuan menumpuk di tengah hiliran air, membentuk bermacam aliran air, kecipak bagai kolom buatan manusia. Mantap.

Melihat air dari pegunungan yang jernih, seperti mendapatkan bagian lain dari wisata Mandeh. Bagian yang sungguh masih asli, masih lembab dan dingin yang tak membuat kita gigil. Melihat ke air, seperti berkaca, aku jadi ingat puisi seorang pujangga, Chairil Anwar, yang berjudul “Aku Berkaca”

Ini muka penuh luka
Siapa punya ?

Kudengar seru menderu
dalam hatiku
Apa hanya angin lalu ?

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta

Ah…….!!
Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal ………….!!
Selamat tinggal …………….!

Poto: Zera Permana

Di sungai, lengkap dengan bebatuan penuh warna mematung di bawahnya. Sesekali ikan-ikan kecil lewat, burung-burung mandi dalam keadaan setengah takut; sentuh air lalu terbang lagi. Menyenangkan benar kalau tempat seperti ini tetaplah dilestarikan keasriannya, bukan Tarusan, Mandeh saja, tapi semua tempat di Pesisir Selatan.

Di bagian lain, tidak jauh dari tempat ini. Masih banyak lagi lokasi yang patut dikunjungi bagi pecinta alam, terutama yang suka jalur hutan; seperti Lubuak Kuali, atau berjalan beberapa jam lagi akan sampai pula pada sebuah air terjun nan indah. Di sanalah hulu air Sungai Pinang yang sesungguhnya. Aisss, tapi jauh pula ke sana.

Poto: Marewai

Meski begitu, bagi pengunjung yang hendak datang ke lokasi ini, harus menyiapkan kondisi fisik yang ekstra. Karena jalan yang mendaki, menurun, ditambah lagi sesampai di lokasi menyimpan bebatuan berlumut. Licin dan rawan. Keselamatan adalah hal utama saat bepergian ke suatu tempat, datangilah lokasi tersebut dengan seseorang yang benar-benar paham medan, biar tidak tersesat atau hal lainnya.

Air Terjun Batirai, Ulu Air Sungai Pinang, Tarusan Pesisir Selatan. Jarak tempuh dari Padang ke Sungai Pinang sekitar 1/2 jam. Dari Nagari Sungai Pinang ke lokasi ini sekitar 1.5 jam berjalan kaki. Kalau fisik mantap, tentu bisa lebih cepat sampai. Tapi untuk apa buru-buru, karena di jalan bakal menemui banyak keindahan alam Sungai Pinang. Sero!

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Tags: BudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
Venom Competition Cup 2: Event Basket Se-Pesisir Selatan dan Semangat Sportivitas Anak Muda

Venom Competition Cup 2: Event Basket Se-Pesisir Selatan dan Semangat Sportivitas Anak Muda

Wisata di Bayang: Gambaran Nyata Susahnya Akses Menuju Surga | Fatur Rahman

Wisata di Bayang: Gambaran Nyata Susahnya Akses Menuju Surga | Fatur Rahman

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In